
Aku menatap rafi dengan tatapan bersalah, entah karna rasa bersalah ini, atau karna senyum sedih rafi airmataku menetes.
"Gue minta maaf, ini semua karna oma gue, gue minta maaf" ujarku pelan, penuh penyesalan.
Rafi menggeleng pelan, lagi lagi tersenyum, seolah tidak terjadi apa Apa.
Sosok dewasa Rafi yang jarang sekali terlihat kini tampak jelas.
"Ini bukan salah lho" jawabnya memegang bahuku lembut, menenangkan.
Bagaimana bisa dia berkata begitu, ini jelas salah ku, salahku karna aku tidak bisa berbuat apa apa atas perbuatan nenekku.
"Ini salah gue, salah gue, ini gara gara oma gue" airmataku semakin deras mengalir membasahi pipiku.
Rafi menghapus airmataku lembut, ini ke dua kalinya ku rasa.
aku jarang menangis, Rafi tau, dan dia cemas, saat seperti ini, saat gundah biasanya Rafi, rafa, atau rara akan memelukku, menenangkan.
"Lho jadi jelek kalau nangis" ujar Rafi.
Ya kata kata itu pun adalah kata kata yang dia ucapkan saat menghapus airmataku dulu, dulu sekali.
Tapi sayang, tidak seperti dulu aku yang terpengaruh akan kata kata itu, sekarang tidak lagi.
Kali ini masalah nya serius, sangat serius.
"Gue minta maaf" ucapku dengan airmata yang semakin menderas.
Rafi terlihat hawatir, dia tau sekarang kalau aku begitu tertekan, kalau aku begitu tersakiti.
"Gue minta maaf.. Hik.... " ucapku sekali lagi, dengan nada lebih ditekankan, dan menundukkan pandangan.
Aku Tidak berani lagi menatap Rafi setelah apa yang nenek ku lakukan pada keluarganya, aku malu.
Rafi yang selalu ada sejak dulu, rafa yang selalu menemaniku, rafi yang selalu menjaga dan melindungiku, mereka yang selalu menghiburku.
Bukan hanya sekedar sahabat bagiku, tapi saudara, mereka kakak kakakku yang berharga.
Lalu, inikah balasanku pada mereka?, saat mereka telah berbuat baik padaku?
Inikah balasannya?.
aku malu, malu pada rafi, rafa dan diriku sendiri, sangat malu.
Aku tidak tau harus bagaimana? Padahal mereka membutuhkanku!!.
Dada ku semakin sesak rasanya, sangat sesak, sakit.
Mana mungkin rafi menjawab, setelah semua kejadian ini, jika aku jadi dia, aku akan membenci diriku ini, sangat, terutama keluargaku.
Rafi memelukku, erat, hangat, pelukan yang telah beberapa kali kurasakan, namun, kali ini berbeda, rasa sakit dan penyesalan mengalir ditengah kami.
"Lho ga salah, jangan nangis" rafi menepuk nepuk pundakku, memberikan sedikit rasa nyaman.
Aku menangis semakin jadi dipelukan rafi, memeluk rafi erat, kurasakan sedikit rasa lega mengalir.
Angin sepoi terasa dikulitku, bel berbunyi, suara riuh riuh mulai berganti sepi, sepi.
Entah berapa lama aku memeluk rafi, aku melepas pelukanku saat airmataku sudah tidak lagi keluar.
Aku menoleh, melihat apa yang diperhatikan rafi, Saat itu aku baru sadar, kalau rafa dan rara ada dibelakang ku, menunggu ku selesai dengan kepiluanku.
Mereka mendekat, aku menatap rafa dengan sisa sisa kesedihan yang masih ada.
"Maaf... " ucapku pilu.
Rafa memelukku seperti rafi, pelukan seorang kakak, aku suka, nyaman.
"Lho ga salah, semua akan membaik" ucapnya.
Rafa melepas pelukannya, berganti memeluk rara yang menangis hawatir.
Setelah rafa dan rara berpelukan, rara langsung memelukku erat, sedih, hampa.
Disitulah kami saling berpelukan, sedih, kecewa, sesak dan sakit menjadi satu, lalu kita sama sama berbagi.
Aku merasakan kesedihan dan kekecewaan rafi dan rafa.
Akupun merasakan kehawatiran rara.
Dan aku tau mereka merasakan penyesalan ku yang mendalam.
****Inilah yang terjadi saat orang asing terasa seperti keluarga sendiri.
Saling melengkapi, membagi rasa dan berbagi warna, baik itu hitam atau putih kita lewati bersama.
Dan sebaliknya yang kurasa, saat keluarga seperti orang asing.
Menciptakan rasa tidak nyaman, kesal, marah dan benci, bahkan jika darah dalam tubuh itu, adalah darah yang saat ini mengalir dalam tubuhku, rasanya aku masih tetap tidak sudi.
Pasrah**.....