My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
Hospital...


Badanku terasa berat, matakupun juga terasa berat.


Aku membuka mataku pelan pelan, pening dikepalaku belum juga hilang.


Atap atap berwarna putih, itulah hal pertama yangku lihat.


Bau menyengat tercium masuk kehidungku, baunya sangat tajam, seperti bau obat dan alkohol.


Kesadaranku mulai pulih, wajahku terasa kaku, aku menyentuh wajahku dengan tangan kananku yang terasa sedikit sakit.


Wajahku dipreban, ada apa sebenarnya denganku?? .


ini bukan kamarku!!??, aneh.


Ini rumah sakit, aku sedang di infus.


Aku duduk dengan pelan pelan, karna badanku terasa berat seperti membawa beban.


Kulihat Rara dan Rafa yang tertidur di sofa panjang.


Mereka menjagaku, pasti sepanjang malam mereka ada disini.


Aku menyentuh lagi wajahku, kenapa wajahku dipreban???.


Apa wajahku rusak?? Mungkin saja.


Mungkin saja ini akibat kebakaran.


hhhhhahh....


Sekarang aku ingat, kebakaran, yah.. Itu kebakaran.


Rasanya tubuhku gemetar.


api, api yang berkobar dan panas yang menyelimuti ruangan itu, aku ga tau itu dimana??, rasanya aku masih ingat samar samar kejadian itu seperti mimpi.


Masih ada rasa takut dan gentar dihatiku.


aku takut.


"el.. Udah bangun?" ujar Rafi yang baru masuk ke kamar inapku.


Rafi mendekatiku, aku coba menenangkan diriku, aku tidak boleh membuat Rafi hawatir.


Aku menarik nafas dalam dan sedikit tenang saat Rafi sudah di dekatku.


Dia duduk di kursi gepat disamping ranjangku.


"Aku kenapa?" tanyaku menatap nya penasaran.


"Lho terkurung di rumah kayu yang kebakar, di villa calon tunangan lho" jawab Rafi.


Sedikit sedikit semua mulai jelas.


"Ohhhh" cuma itu balasan yang aku berikan pada Rafi.


"Apa??" tanyaku penasaran.


Rafi menarik nafas dalam sebelum menjawab.


"Rio mutusin pertunangannya sama lho, dia milih Yuri" jawab Rafi.


Aku senang, akhirnya aku terbebas dari Rio tanpa perlu usaha apa apa, dan tanpa perlu menyakiti teman temanku akibat ulah nenek.


"Aku seneng" ujarku berseri seri, yah wajahku tidak terlihat, ditutupi preban.


"Muka lho, gue ga tau separah apa?? Dokter ga bilang apa apa!!, mereka bilang udah jelasin sama orang tua lho, tapi mama papa lho masih belum kesini" jelas Rafi.


Dia menarik nafas sebelum melanjutkan cerita.


"Tante Ratna dan Yuri kesini dihari ketiga lho dirawat, mereka bikin kekacauan, memaksa dokter ngasih tau separah apa luka di wajah lho, tapi dokter tetap diam karna waktu itu mama lho udah nelpon dokter itu dan udah membicarakan soal luka bakar di badan lho" lanjut Rafi dengan wajah prihatin.


Aku ga hawatir tentang wajahku, entah kenapa?? padahal cantik itu penting bukan??.


Entalah.....


"Siapa yang nolong aku?" tanyaku.


"Gue ga tau, kata dokter , cowok yang nolongin lho, jagain lho seharian disini, saat gue Rafa dan Rara dateng dia udah ga ada" Rafi masih menjawab dengan nada yang tidak enak didengar.


"Aku baik baik aja, ga usah hawatir, soal wajah, aku bisa oplas, kamu tau kan aku punya uang!???" ucapku.


Aku tau Rafi hawatir tentang luka bakar diwajahku.


"Gue bukan cuma hawatir tentang itu, dokter bilang kecelakaan yang lho alami kecelakaan terencana"


"apa udah diselidiki?" tanyaku.


"Belom, mereka masih nunggu lho bangun, buat minta penjelasan sama lho?! Apa lho mau gue nelpon detektif buat lanjut penyelidikan?" tanya Rafi.


"Kapan Yuri dan Rio tunangan?"


Aku bertanya karna takut, aku gak mau Yuri dan Rio batal tunangan gara gara Yuri dipenjara.


Kalau Yuri gak tunangan sama Rio, berati pilihan satu satunya hanya aku.


Nenek pasti melakukan segara cara agar itu tercapai, dan itu ga baik buat aku.


Aku akan pastikan Yuri dipenjara, pasti.


Tapi tunggu waktu yang tepat, yaitu setelah Yuri dan Rio resmi tunangan.


"Sesuai dengan tanggal lho tunangan, ga ada yang dirubah, selain calon ceweknya"


"***setelah hari pertunangan Yuri sama Rio, baru telpon polisi, kamu ngertikan?!!!"


"Iya gue ngerti***" jawab Rafi.