My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
A broken home...


**Katanya...


keluarga itu, tempat berlabuh, tempat bercurah, tempat yang menyiapkan kesejukan, tempat berpulang.


Katanya...


Keluarga itu adalah istana, adalah syurga, adalah nirwana, adalah segalanya.


Katanya...


Keluarga itu tiada duanya.


Tapi apa???


Mamaku, papaku, berangkat pagi, pulang malam.


Katanya untukku, berkerja keras untukku.


Itu bohong...


Itu untuk diri mereka sendiri, untuk memenuhi keserakaan mereka, yang memang sejak awal sudah terlahir menjadi anak yang biasa makan dengan sendok emas.


Mereka takut lebih miskin, takut diejek oleh kerabat.


Itu bukan untukku, aku tidak pernah meminta mereka untuk membelikan mobil pribadi, aku bisa naik bus sekolah.


Aku tidak meminta makan makanan mahal, yang setiap pagi serba ada dirumah, tidak masalah satu menu, yang penting mama dan papa ada, duduk dimeja makan bersmaku.


Tapi apa??


Setipa papa bertemu mama, bukan kasih sayang yang ada, tapi pertengkaran, cekcok, salah falam, lalu lagi lagi aku terabaikan.


Tapi apa??


Setiap perkumpulan keluarga besar, aku, papa, mama, nenek, tante, om dan sepupu, yang mereka bahas adalah uang, usaha, kemajuan.


Lalu, sama sama memamerkan diri, membanggakan diri, seolah olah kalian yang tertinggi**.


Muak....


***Itulah keluargaku yang katanya tempat bercurah, yang katanya istana terindah, nirwana bahkan syurga.


Tapi aku bisa apa? Selain marah pada mama yang melahirkanku dari rahimnya.


Selain marah pada papa yang mengatakan aku adalah putrinya.


Selain marah pada diriku sendiri yang terlahir sebagai anak mereka**.


"Praaaankkkkk....." sesuatu yang pecah


"***Mama ga bisa ambil keputusan sepihak seperti itu"


"Itu perusahaan mama, terserah mama keputusan apa yang mama ambil"


"Mama ga inget!! Dari mana dana perusahaan mama? "


"Papa juga harus inget bahwa perusahaan papa bisa semaju ini karna bantuan mama"


"Tarik kembali keputusan mama"


"Itu hak Mama, papa ga bisa ikut campur"


"Papa berani nampar mama?!!! "


"Praaakkkk***... "


Aku memakai hatset, memutar lagu keras keras, hingga tidak lagi mendengar mereka bertengkar, muak.


Itu yang akan terjadi jika mereka pulang, ramai.


Bukan ramai dengan canda dan tawa, tapi ramai dengan pertengkaran, cekcok.


Itu yang membuat aku merasa, sebaiknya mereka tidak pulang.


Toh pulangpun, mereka tidak akan bertanya apa aku baik baik saja?, apa aku sehat,?.


Mereka lebih fokus pada pertengkaran mereka, yang tidak bermanfaat.


Pertengkaran yang pasti karna uang, perusahaan, jabatan, selingkuhan dan karna masalah sepele yang tidak seharusnya di pertengkarkan.


Mereka tidak bercerai hingga sekarang, tetap bertahan, karna satu alasan, gengsi, mereka akan di hina, diolok dan direndahkan jika bercerai oleh keluarga besar.


Papa akan dipanggil tidak becus menjaga istri, tidak becus mendidik istri dan sebagainya.


Begitu juga mama, mama akan dihina habis habisan apalagi oleh tante ratna yang memang penuh iri pada mama.


Tentu saja, karna kami lebih kaya dari mereka, papaku lebih bisa diandalkan dari pada om.


Mama lebih sukses dibisnisnya dari pada tante, hingga nenek memuji mama dan papa sebagai pasangan ideal.


Lucu bukan???


Perhatian nenek paling diincar.


Tentu saja karna warisan.


Nenek memiliki berhektar hektar tanah, rumah sakit dipusat kota, dan tabungan yang katanya sampai triliunan.


Aku tidak dekat dengan siapapun di keluargaku, tidak satupun.


Apalagi dengan sepupuku, Yuri.


Dia bahkan lebih menyedihkan dari putri, menyebalkan dan jahat.


Aku dekat hanya dengan tante jeny, mamanya rara, hanya dia yang seperti keluarga, berhubung papa rara sudah meninggal sejak dia kecil.


Jika aku pernah merasakan dan mencicipi kasih sayang, berati kasih itu dari tante jeny, hanya dia.


Lucuu Bukan??..


***orang lain yang tidak ada hubungan darah terasa seperti keluarga.


Dan,


Keluarga yang sedarah denganku terasa seperti orang lain.


Aku benci harus mengakui bahwa aku membenci keluargaku***..


Bencii sekali...