
nenek Lissa adalah anak yang terlahir dari keluarga emas, keluarga Briyan.
keluarga kaya raya, dan tersohor.
nenek Lissa lalu menikah dengan suaminya, kakek adi.
mereka lalu memiliki anak perempuan pertama, Vivi, mama Evin.
setahun setelahnya, lahir anak lelaki ke dua om Vian, papa Rio.
lalu dua tahun kemudian, lahir lagi anak perempuan, Tante Vio, sebagai anak terakhir dan penutup.
Tante Vivi dan suaminya om Hendry meninggal saat Evin berusia 7 tahun, saat itulah Tante Vio yang merawat dan menjaga Evin.
tapi bukan berati Evin dan Vito dekat, tidak, mereka bahkan hanya bicara seperlunya.
setelah umur 10 tahun Evin pindah ke Bali,
tinggal bersama kakek nenek, dari papanya tentunya.
saat itu Vito berumur 5 tahun dan Rio 7 tahun.
setelah kakek dan neneknya meninggal, Evin sekolah dan kuliah ke luar negri, hingga pendidikannya selesai.
Tante Vio yang selalu menjenguk dan menjaganya, layaknya seorang ibu kandung Tante Vio menyayangi Evin.
begitulah kisah seorang Evin yang di ceritakan Vito padaku.
Vito bilang Evin adalah sosok yang dia kagumi.
siapa yang percaya bahwa aku akan menjadi bagian dari keluarga Vito?.
sungguh takdir yang membuat orang menggeleng geleng kepala.
angin sore terasa segar dikulit, aku melihat kejauhan.
deg deg deg...
itu dia Evin, yah aku sudah mencuri curi lihat tadi, bukan sengaja, itu karena Vito menunjukkannya padaku saat dia menyerahkan seserahan pada mama dan papaku.
dia melangkah mendekati ku, yang sedang berdiri di balkon.
Evin memakai setelan jas rapi sama seperti Vito.
Evin lebih tinggi dari Vito, lebih gagah dan seolah dia bersinar.
mataku sempat terkesima saat melihat Evin pertama kali tadi.
tapi buru buru aku tersadar, malu bukan jika dia tau bahwa aku sempat terpesona..
aku memasang wajah datar, walau rasanya hatiku berdebar.
Evin berdiri tepat di depan di depanku.
aku akui dia tampan, lebih dari Vito yang berwajah imut dan Rio yang berwajah playboy.
Evin lebih berkarisma, lebih tenang, lebih santai dan terlihat lebih dewasa.
"hallo elzy?" sapanya padaku lembut.
aku melihat ke arahnya, hanya sekedar agar aku terlihat sedikit sopan.
"iya" sahutku datar.
dia tersenyum dan tertawa kecil.
membuat aku keheranan.
"aku tau ini perjodohan, kamu belum kenal aku dan tau aku, kamu juga ga tau aku seperti apa??, jadi jangan memaksakan diri untuk bersikap manis padaku" tuturnya.
hah.... apa maksudnya? aku? bersikap manis? kapan??.
aku bahkan menjawab sapaannya datar.
kesal rasanya, entah kenapa aku seolah direndahkan. brengsek.
"aku ga akan bersikap sok manis" jawabku sedikit kesal.
"kenapa?" dia melirikku dan bertanya.
apa ini, bukankah jelas dia yang meminta agar aku tidak bersikap sok manis?!!!.
lalu kenapa dia mempertanyakan permintaan nya sendiri, dasar gila.
"apa?" tanyaku balik, menatapnya geram.
"kenapa ga mau bersikap manis ke aku,?? padahal kamu masih belum punya pacar!!!" balasnya.
apa dia orang yang seterus terang ini??.
harga diriku langsung tersakiti, yah dia seolah mengatakan"kenapa ga mau bersikap manis ke aku?? padahal kamu ga laku" .
"aku udah punya pacar" jawabku singkat, tanpa pikir panjang.
yah harga diriku harus diselamatkan.
"oh ya...!! siapa??" dia bertanya seolah dia akan tahu saat aku sebutkan sebuah nama.
aku harus jawab apa?? tidak mungkin aku mengaku pacar Vito, masalahnya akan runyam.
"Aksa" jawabku singkat tanpa pikir panjang.
aku tidak mungkin mengaku Rafa atau Rafi, bisa gawat kalau nenek dengar dan di anggap serius.
yah selain karna alasan di atas ada satu lagi, yaitu karna nama Aksa selalu membekas dalam otakku.
Evin tertawa.
aku makin kesal, aku tunangannya,! apa dia bahagia jika aku punya pacar ??.
dia berhenti tertawa saat melihat raut wajahku yang mulai marah.
dia tersenyum lembut. deg...deg...deg...
apa ini,??
"hai Elzy Anastazya, dari keluarga Tristan, perkenalkan namaku, Aksa Delvin Azry dari keluarga Briyan, dan aku tunangan kamu"
tuturnya.
DEG....
ini pukulan besar bagiku.
kaki ku lemas, kaget, malu. malu sekali.
aku hampir terjatuh, tapi Aksa eh.. Evin menangkap ku.
tangannya, yang memegang tanganku membuat aku semakin gemetar.
ini gilaaaa....