
Badanku Agak sedikit gemetar karna menggigil, dingin.
Vito menyeliti tubuhku dengan jasnya yang dia gantung di sandaran tempat duduk, aku memandangnya sesaat.
dia memandangku juga, pandangan kami bertemu, saling memandang.
Dia tersenyum sambil mengeringkan rambutnya dengan sapu tangan berwarna putih.
Aku memalingkan pandanganku secepat kilat.
Entah menapa aku semakin merinding saat melihat senyum vito, menyebalkan.
Dia tertawa seperti biasa, tawa yang enak didengar.
"Udah baik baik ajakan? " tanyanya Pelan.
Aku tidak tau, apa maksud dari perkataannya itu, mengejekkah dia? Aku berpaling menoleh ke arah nya, memastikan dia mengejekku atau dia serius bertanya tentang keadaanku, karna hawatir.
Saat itu ku lihat wajah serius didepanku, tatapan matanya penuh dengan rasa penasaran dengan jawabanku.
"Aku baik" jawabku
Mobilnya menderu kencang mulai melaju entah kemana.
"Lho mau bawa gue kemana? " tanya ku menatapnya curiga.
Dia lagi lagi tertawa, membuat ku merasa tidak nyaman.
"Gue mau nyulik lho" jawabnya jelas dengan nada bercanda.
Hehhhhh
Aku membuang nafas sekaligus membuang muka darinya.
Bagaimana jika dia membawaku kabur? Menculikku? Membunuhku?
Aku tidak tau kenapa aku tidak takut padanya, seolah aku sudah sepenuhnya percaya.
Mobil Vito berhenti, dipinggiran toko, aku menoleh keluar, toko baju.
Toko yang sangat besar.
Tanpa berkata apapun Vito keluar dari dalam mobil, membuka bagasi mobil dan menutupnya kembali, seperti mengambil sesuatu dari bagasi.
Dia lalu membukakan pintu mobil untukku.
"Kita ganti baju dulu" ujarnya padaku.
Di meletakkan sepasang sandal laki laki yangku yakini miliknya.
"Pakai sendal gue dulu"
Kenapa aku harus mengikuti apa yang dia mau? Apa harus? Aku ingin menolak.
Aku membuang muka padanya, acuh.
"Lho ga mau turun? Ga kedinginan? Atau karna lho grogi jalan sama gue?" kata kata Vito membuat aku sontak menoleh dan memandangnya.
Disisi Vito seolah aku menjadi sesosok yang lemah, tidak bisa apa apa, tidak berdaya.
"Hehhhh..."
Aku membuang nafas sok kesal sebelum memakai sendal yang Vito sediakan untukku.
Aku berdiri memakai sandal yang jauh dari ukuran kakiku.
Sandal itu keberas dan sangat tidak cocok untuk kakiku, geli rasanya melihat kakiku sendiri.
Vito menutup pintu mobil dan memanduku masuk ke toko baju.
"bawa nona ini kekamar mandi agar bisa membersihkan diri dan carikan pakaian yang cocok" printah Vito.
"Saya mengerti" jawab pelayan itu dengan anggun seolah telah lama mengenal Vito.
Aku diantar kesebuah ruangan, terdapat kamar mandi disana.
Pelayan tadi memberiku handuk, dia tetap tersenyum ramah.
"Silahkan membersihkan diri, saya akan siapkan baju juga sepatu untuk nona" ujarnya dengan senyum.
"Makasih" balasku tanpa senyum.
Jawahku kaku, pun wajahku terlalu kaku untuk tersenyum, aku bahkan tidak bisa memaksakan senyum dibibirku.
Aku melangkah masuk, membersihkan diriku yang kotor dan basah.
Vito ternyata benar benar orang kaya, jelas saja, dia tidak akan bisa membeli baju ditoko seperti ini jika bukan orang kaya.
Namun siapa perduli dia kaya atau tidak, tidak masalah bagiku, tidak ada hubungannya denganku, benar bukan.
Entah berapa lama aku membersihkan diri, aku keluar setelah selesai, dua pelayan telah berdiri didepan pintu kamar mandi, satu orang pelayan membawa dua jenis baju, masing masing ditangan kanan dan kiri.
Dan seorang lagi membawa dua pasang sepatu yang serasi dengan baju disampingnya.
Lalu seorang pelayan datang membawakan pakain dalam, aku mengambilnya.
"Kami bantu memakai baju?! " tawar salah satu dari mereka.
Aku malu sendiri rasanya, tidak ada yang pernah membantuku memakai baju, tidak ada.
Aku selalu memakai gaunku sendiri saat pesta, menata rambutku sendiri dan berdandan sendiri.
"Tidak usah" tolak ku.
Aku mengambil gaun berwarna pink pudar, lalu masuk kekamar kecil tempat berganti pakaian.
Tidak butuh waktu lama untuk memakai gaun selutut tanpa lengan itu.
Pelayan yang masih menungguku kini tersisa satu, memegang sepasang sepatu high heel yang tidak terlalu tinggi, aku memakainya.
"Silahkan"
dia menyuruhku duduk di sebuah kursi didepan meja hias, aku menurut, dia mengeringkan rambutku, menata rambutku dan membantuku berdandan.
"Nona sudah ditunggu untuk pergi makan malam diluar" ujar pelayan itu saat selesai menata rambutku.
Aku menoleh padanya sebentar, namun lagi lagi pelayan ini hanya tersenyum lembut.
"Baik Makasih" ujarku pelan.
Aku berdiri mengambil nafas panjang sebelum melangkah, grogi rasanya, entah karna apa? Karna Vitokah? Aku juga tidak tau.
Namun satu yang pasti, sudahku buang jauh jauh rasa gengsiku tentangnya.
Aku terus melangkah menuju ruang tunggu dengan perasaan tak menentu.
Saat itulah ku lihat Vito yang duduk disofa, wajahnya sedang memandang layar hpnya.
Wajah itu rasanya semakin tampan, dan bercahaya, entalah.
Sepertinya aku sudah gila....
Aku membeku saat Vito melihat kearahku, tersenyum, lalu tertawa seperti biasa, membuat tubuhku seolah membatu.
Ternyata aku baru sadar, bahwa Vito sebenarnya.....
S**angat manis..... 😊**