
Vito datang mendekatiku, dia tersenyum cengar cengir, seolah tidak percaya.
Vito melangkah dengan percaya diri, seolah dia adalah bintang malam ini.
Aku masih memiliki sejuta tanda tanya dalam otakku.
"Hai... " sapa Vito dengan raut wajah yang membuatku sebal.
"Ngapain?" tanyaku, aku ingin bertanya apakah dia calon tunangan ku atau bukan?!.
Tapi aku terlalu takut mendengar jawabannya, bagaimana jika benar benar Vito dan bagaimana jika bukan?.
Aku masih tidak percaya, benarkah semuanya kebetulan?.
Aku yakin Vito tau apa yang ku fikirkan, tapi dia sengaja mempermaikanku.
"Pantas aja mama marah marah sama gue, ternyata ini calonnya" seru Vito dengan maksud yang tidak bisa ku tebak.
Apa maksud perkataannya? Kenapa tante Vio marah padanya?.
Aku menatap Vito dengan sejuta tanda tanya.
Namun Vito tetap diam, aku tau dia ingin membuat aku mati penasaran.
Rasanya bibirku sulit sekali bergerak untuk bertanya pada Vito "kamu tunanganku?" astaga.
Aku semakin berdebar debar, gila, aku bisa gila.
"Lho mau tau status gue?" ujar Vito mulai mempermainkanku.
Aku tau Vito mulai tidak sabar, karna aku tidak kunjung bertanya padanya.
Dia ingin segera mempermainkanku. Sialan.
Apa tidak bisa dia langsung berkata jujur padaku, siapa tunangan ku sebenarnya? Dia? Atau bukan? .
Aku menatap Vito srius, meminta segera menjawab, dan menjelaskana, Vito melihatku.
Kurang ajar.
"Lho mau tau siapa gue?" Vito berujar lagi, memancing rasa penasaranku yang tidak kunjung terjawab.
aku benar benar dipermainkan. ********.
Aku mengangguk tanpa sadar, karna tidak sabar dan penasaran.
Sialan, aku masuk dalam jebakan Vito tanpa sadar.
Vito tersenyum licik padaku, senyum iblis jailnya keluar.
Vito sok merapikan jas yang dia pakai, merapikan dasi, dan mengulurkan tangan, sok keren. Sialan.
Jantungku seolah mau copot, mataku seolah mau keluar dari tempatnya. Kaget, sangat, seriuskah dia?.
Vito mengeluh sambil menarik tangan yang dia ulurkan karna tidak segera aku jabat.
Aku menatap Vito, sungguh kah dia tunanganku?.
Vito tersenyum licik bahkan tertawa kecil, melihat aku yang dalam keadaan sangat kebingungan.
Aku mulai ragu, brengsek.
Vito sepertinya mempermainkanku.
"Kamu beneran tunangan aku?" tanyaku akhirnya. Seperti orang *****
Vito mengangguk, lalu tersenyum.
"Yahh... Lho masih nanyak ,,!!!! ya jelaslah el.... Jelas bukan gue" jawabnya santai.brengsek.
Aku ingin memukul Vito sangat keras.
Kesal sekali rasanya Vito benar benar mempermainkanku
"Brrruuukkk"
Vito mendapat pukulan di bagian belakang kepala dari tante Vio.
Entah sejak kapan tante Vio disitu.
Vito mengaduh, aku jadi urung diri memukulnya.
"Sakit ma" ujar Vito merengek.
"Dasar gila.... Berani beraninya kamu gangguin tunangan evin, minta maaf" tante Vio memarahi Vito.
"El, gue minta maaf, maaf, karna gue bener bener sengaja jailin lho, maafin gue" tutur Vito menurut.
"Dasar sinting" caciku pelan, sangat pelan, seolah berbisik, agar tante Vio tidak mendengar.
"Jangan dengerin omongan Vito ya elzy, tunangan kamu ponaan tante, evin, sebentar lagi dia kesini" tutur tante Vio dengan gaya bicara yang tetap memukau.
"Iya tante" jawabku.
"Sayang sekali, padahal tante pengen kamu sama Vito, tapi ga papa, evin lebih baik dari Vito, dan evin tante anggap lebih dari Vito, jadi jangan ragu ngomong apapun ke tante tentang evin" ucap tante Vio.
"Makasi banyak tante" jawabku.
Aku mulai lega, jika tante Vio memuji evin seperti itu, aku bisa simpulkan bahwa setidaknya dia setingkat lebih baik dari Rio.
"Mama bener bener pilih kasih" protes Vito.