
Aku duduk disebuah kafe, tidak mewah, kafe sederhana yang biasa kusinggahi dengan sahabat sahabatku.
Kali ini bedanya tidak dengan mereka, tapi dengan Vito.
"Lho bener bener ga kangen sama gue?" tanya nya untuk yang kesekian kali.
"Pertanyaan lho kaya anak kecil" aku menghindari jawaban dari pertanyaannya.
Aku menghindar bukan karna aku tidak rindu, selama beberapa hari ini aku rindu, sangat rindu padanya.
Tapi seperti biasa, harga diri dan rasa malu membuat aku harus mengalihkan pembicaraan.
Vito tampak kecewa dengan jawabanku, juga tampak sedikit kesal.
"Waktu itu lho kemana?" vito bertanya.
Aku memutar otakku saat dia berkata "waktu itu? ", lalu akhirnya aku tau apa yang dia maksud, pasti hari dimana aku pergi meninggalkan dia saat kencan.
"Gue di prank" jawabku singkat, tidak meyakinkan.
Aku ingin mengatakan pada vito saat kejadian itu, saat aku dirawat inap di rumah sakit.
Tapi, teinim?nnya tidak aktif, dia sibuk, jadi ku tidak mengganggunya.
Jika sekarang aku memberi tau tentang hal itu bukankah sudah telat, toh kita baik baik saja.
"Apa rafi penting buat lho?" vito
"Penting banget" jawabku spontan, tersenyum kecil ingat kejailan rafi.
Aku kanget, aku baru sadar satu hal, Vito seolah sedang mengintrogasiku, matanya memandangku dalam penuh curiga.
"gue ga suka lho deket sama rafi" lanjut Vito.
Kata kata Vito yang ini membuat aku kesal dan marah, bete.
Tentu saja, Rafi adalah sahabat yang berati buat aku, aku ga bisa jauh darinya.
"Rafi sahabat gue, lho ga ada alasan buat ngatur siapa dan bagaimana gue harus berteman" tekanku.
"Gue pacar lho" ucap Vito, dia emosi sekarang, hal yang tidak pernah ku lihat sebelumnya.
Mendengar suaranya yang emosi aku jadi lebih emosi dari dia.
"Bahkan jika lho pacar atau suami gue, lho ga ada hak buat ngatur temen temen gue" tegasku.
Ini pertama kalinya aku kesal dan sangat marah pada Vito, melebihi saat aku harus menunggu Vito berjam jam, melebihi saat Vito ingkar janji untuk tepat waktu.
Aku sangat tidak suka diatur dalam hidupku, hidupku punyaku, orang lain ga ada hak untuk mengatur hidupku.
Siapapun itu, baik nenek, mama dan papaku apalagi Vito.
Aku mulai benci sikap itu, membuat aku tidak nyaman, entah kenapa ada disisi Vito saat ini membuat aku merasa ada di dekat nenek. Menyebalkan.
Kenyataannya Vito tidak percaya padaku.
Dia hanya cemburu, kata itulah yang sedikit menghibur hatiku, dan harus ku jelaskan lebih tegas lagi.
"Gue sama rafi hanya sahabat" ujarku tegas.
"Kalau memang dia hanya sahabat lho, lho pasti mau jauhin dia demi gue"
Apa itu?? Vito benar benar berfikir aku selingkuh??.
Bahkan tidak pernah sedikit pun terlintas kata selingkuh dibenakku, apalagi dengan rafi sahabatku?!!.
Jika aku memang menyukai rafi aku tidak akan pernah pacaran dengan Vito yang kukenal setelah rafi.
Aku marah, jelas karna Vito tidak percaya padaku.
Aku juga kecewa, sangat kecewa, sangat sangat kecewa.
Aku percaya pada vito meskipun gosip bersebaran dimana mana tentangnya dan putri.
Aku tau Vito tidak pernah memiliki sahabat seperti ku, jadi dia tidak akan tau betapa pentingnya arti sahabat.
Apa aku harus memaklumi,? hatiku sakit saat ini, sangat, dan aku benci rasa ini.
Rasanya ingin sekali meninggalkan Vito, apa lagi arti sebuah hubungan jika tidak ada kepercyaan.
Aku bukan sintanya rama yang bisa begitu sabar.
Namun entah kemana hatiku ingin memberikan kesempatan, kesempatan agar kita bisa saling memperbaiki rasa percaya yang telah rusak dalam hubungan ini.
"Jauhin rafi" ulang Vito membuat aku muak.
"Gue cape, gue mau pulang" jawabku berdiri dan melangkah pergi.
Jika aku masih tetap disini bersamanya, itu akan semakin membuat hatiku sakit, akan semakin membuat aku muak dengannya.
Karna itu aku memilih pergi, aku ingin menjaga hubungan ini, aku sayang Vito, aku ga mau rasa sayang ini berubah, kita sudah 6 bulan pacaran, bukankah sia sia 6 bulan ini jika berakhir begitu saja.
Aku yakinkan diriku bahwa vito hanya cemburu, besok atau lusa dia akan kembali seperti sebelumnya.
**Aku belum yakin apa yang paling penting?
Rasa sayang dan rasa takut kehilangan ini? atau rasa percaya diantara kami?!.
Aku juga masih belom yakin, apa rasa sakit ini akan mengalah pada rasa sayang.
Atau rasa sayang akan hilang karna rasa sakit?!
Mari lihat jawabannya**....