My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
I'm angry...


Aku diam, marah, kesal dan bete, menjadi satu.


Sangat marah rasanya, ini sudah kesekian kali, bukan yang pertama bukan pula yang kedua, lebih dari 3 kali.


Aku masih tetap berdiri dan menunggu, tapi dia tidak muncul.


Sudah 1 jam lebih aku berdiri disini, berusaha bersabar.


Ingin rasanya pergi, pulang, namun entah kenapa aku tidak bisa? Kakiku seolah enggan melangkah.


Bukan hanya kakiku, hatiku pun tidak ingin beranjak, tetap ingin menunggu dan percaya dia akan datang, meski terlambat, bahkan sangat terlambat.


Logika dan hatiku sedang berperang, saling mencaci dan menghina.


Logikaku seolah berkata pada hatiku, bahwa ia bodoh.


Dan Hatiku seolah menjawab bahwa logikaku sangat egois dan angkuh.


Seolah hatiku tidak akan memaafkan logikaku jika aku pergi meninggalkan tempat ini.


Sejak kapan? Dan Sampai kapan?.


Sejak kapan Aku mulai bodoh dan lemah seperti ini?!!!


Aku tidak pernah menunggu kedatangan Seseorang selama ini, tidak pernah selama hidupku.


Aku menoleh kebelakang, resto tempat biasa aku makan siang dan tempat biasanya aku bertemu Vito, hari ini tutup, entah karna kendala apa.


Itu alasan kenapa aku berdiri, biasanya aku menunggunya sambil duduk didalam.


Aku juga tidak bawa mobil, mobilku sedang di benahi.


Sudah berkali kali aku chat Vito, tapi tidak ada satupun balasan, pun sudah berkali kali aku telpon, tidak ada jawaban, hingga hpku kehabisan batre.


Sudah cukup aku menunggu, bukankah lebih baik aku pergi sekarang?. fikirku untuk kesekian kali.


Niatku makin mantap saat ku lihat mobil Vito dari kejauhan mendekat.


Vito turun dari mobilnya, aku menghindar, menjauh.


Vito udah datang, jadi untuk apa aku masih disini, lebih baik pulang.


Ini pertama kalinya aku melangkah sejak 1 jam 25 menit yang lalu.


"*El... " panggil nya, aku acuh tetap menjauh.


"El.. Tunggu" Vito masih memanggilku*.


Vito menggapai tanganku, menghentikan langkahku dan berdiri didepanku, seperti yang biasa dia lakukan saat aku marah.


"Gue minta maaf" ujarnya dengan suara sedikit ngos ngosan, akibat berlari.


Aku ga tau, berapa kali hal seperti ini sudah terjadi, seperti adegan lama yang terus terulang kembali, hanya berbeda tempat, waktu, pakaian dan keadaan.


Aku mulai melangkah menjauh, membelakanginya.


"El.... Gue janji ga akan telat lagi" ucap Vito mantap.


Mendengar kata katanya langkahku terhenti.


bukan kah itu menyentuh hati? Sebuah janji?


Namun sayang, janji itu pun pernah ku dengar sebelumnya, bukan untuk pertama dan kedua kalinya.


Aku berbalik menghadapnya kembali.


"Dari pertama kali lho telat, itu janji yang selalu lho buat, hingga sekarang!! Kita udah 3 bulan pacaran, tapi lhoo masih aja nyuguhin janji palsu, dan gue ga butuh" tegasku dalam kemarahan.


"Gue salah, gue minta maaf ok!!" Vito terlihat sedih.


"Gue ga butuh kata maaf lho, jadi cewek lho, buat gue ngerasa bodoh vit, gue cape" tegasku, mengutarakan apa yang logikaku ingin ucapkan, cape.


Lagi lagi, setelah beberapa kali bertengkar, dan marahan Vito tetap sama dan akupun luluh dengan cara yang sama, yaitu pelukan.


Vito memelukku seperti biasa saat aku sudah berkata menuruti logika, dan lagi lagi hatiku berlawanan dengan logikaku.


tetap saja, hatiku pemenangnya.


Yaaaa...


Aku tidak berkutik saat Vito memelukku erat dan membanjiriku dengan kehangatan.


Hatiku lemah padanya, dan akhirnya logikaku pun mengalah, menuruti maunya hati.


Aku merasa lemah saat Vito memelukku begini, lemah, tiada tenaga, dan ingin selalu ada disisinya.


Pun aku merasa bodoh, bodoh sekali.


Baru 3 bulan, namun aku dan Vito sering bertengkar.


Vito selalu terlambat saat bertemu untuk berkencan, 20 menit, 30 menit, 45 menit, 57 menit, 1 jam dan 1 jam 30 menit.


Keterlambatan Vito membuat aku seolah tidak berharga baginya. Kesal...


Namun....


*Aku butuh, sandaran dan kenyamanan yang selalu bisa Vito ciptakan saat ada disisiku.


Seberapa banyakpun pertengkaran antara aku dan Vito, rasa saling menyayangi diantara kami masih terus mengalir deras, bagai sumber mata air.


Aku hanya butuh Vito, suasana yang dia ciptakan saat dia disisiku, tidak kurang dan tidak lebih, untuk saat ini*.