My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
Sing beautifully...


"***kau boleh acuhkan diriku...


dan anggap ku tak ada


tapi takkan merubah perasaanku


kepadamu..


kuyakin pasti suatu saat


semua kan terjadi


kau kan mencintaiku


dan tak akan pernah melepasku


aku mau mendampingi dirimu


aku mau cintai kekuranganmu


selalu bersedia bahagiakanmu


apapun terjadi


kujanjikan aku ada


kau boleh jauhi diriku


namun kupercaya


kau kan mencintaiku


dan tak akan pernah melepasku


aku mau mendampingi dirimu


aku mau cintai kekuranganmu


aku yang rela terluka


untuk masa lalu***"


Lengkap sudah keindahan ini, duduk diatas tikar dipinggir pantai dengan angin sepoi, ditemani es kelapa muda.


Yang lebih indah lagi, adalah sosok Vito yang berada disampingku, menyanyikan lagu "Once Mekel" dengan suara indahnya, sambil bermain gitar.


Diantara begitu banyak suara indah, tidak ada yang lebih ku sukai melebihi suara Vito, suara yang benar benar menyentuh hati.


Aku melihatnya, Vito duduk memandang kedepan dan terus memetik gitarnya dengan nada indah.


Saat Vito bernyanyi hatiku meleleh, indah suaranya bukan hanya menusuk telingaku, tapi juga hatiku.


Tidak bisa ku jelaskan bagaimana indahnya suara Vito, sangat indah. Bagiku.


Vito memandangku, berhenti memainkan gitarnya, aku balas memandangnya, diam.


Sepoi angin yang mulai sedikit kencang menerbangkan rambutku.


"aku mau mendampingi dirimu


aku mau cintai kekuranganmu


selalu bersedia bahagiakanmu


apapun terjadi


Vito bernyanyi sambil menatapku, tangan kanannya merapikan rambutku.


Vito seolah memberiku segunung cinta, membuat hatiku tidak menentu, antara senang dan suka.


Dia berhenti bernyanyi, menyandarkan kepalanya dipundak kiriku, menatap lautan.


"Lho tau el, gue takut kehilangan lho? " ujarnya sangat pelan, hingga seperti bisikan.


Aku menoleh sedikit kearahnya, hingga hujung rambutnya menyentuh pipiku.


Aku melihat Vito menutup matanya seolah melepas lelah.


Alis dan buru matanya terlihat lebat dan hitam.


Aku terlalu bingung untuk berkomentar, terlalu bingung, dan terkadang masih memikirkan egoku, malu, takut direndahkan dan semacamnya.


aku bingung harus bagaimana menanggapi kata kata Vito, entah kenapa, masih ada rasa sungkan dan semacamnya, padahal sudah 3 bulan kami berkencan.


Aku hanya diam, aku tidak tau diamku adalah kesalahan atau tindakan yang benar.


Aku sayang Vito, sangat sayang.


"Gue hawatir, lho ninggalin gue el!?? " ulangnya dengan maksud sama namun dengan kalimat berbeda.


Saat mendengarnya berkata begitu untuk kedua kalinya, aku tau aku harus menjawab, dia butuh jawaban, meski hanya sepatah kata.


Namun apa? Jawaban seperti apa yang Vito mau? Aku tidak tau?.


Aku juga tidak ingin jawabanku menyakiti ego, harga diriku. Aku lemah.


"Apa rasa sayang yang gue miliki bisa ngilangin rasa hawatir lho? " aku menjawabnya dengan diawali sebuah pertanyaan.


Vito tidak menjawab, namun dia mengangguk, mengiyakan pertanyaanku.


aku mulai gemetar saat akan mengatakan kalimat selanjutnya, mungkin karna ini yang pertama.


Bibirku seolah gemetar seperti menggigil.


Aku berusaha membangun kekuatan hanya untuk mengatakan 3 kalimat. Sulit sekali rasanya.


Aku hanya takut aku salah mengatakannya, karna aku seorang prempuan.


"Gue sayang lho" ujarku setelah sekian lama.


Huuuuhh.....


Akhirnya bisa juga aku katakan, ada rasa lega, meski dengan susah payah kukatakan, harga diriku rasanya tergores sedikit, namun tak apa, hanya sedikit.


Vito tertawa kecil, membuat harga diriku semakin tergores, kesal.


"Apa sichhh!???? " ujarku kesal, dan menyingkirkan kepalanya dari pundakku.


Vito melihat ku sejenak, tersenyum.


"Gue tau lho sayang gue" katanya bangga.


Huuuuhhh


Harga diriku lagi lagi tergores.


Aku membuang muka, memalingkan pandanganku dari Vito.


"Tapi, gue lebih sayang lho, dari pada rasa sayang lho ke gue" lanjutnya.