My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
Trust...


Aku duduk sendiri, menunggu rara yang sedang membeli minuman.


Rafi dan rafa sudah 3 hari ini tidak masuk sekolah, rara tampak kusam, namun tidak mengatakan apa apa.


Aku juga sudah menelpon, rafi bilang dia dan rafa sendang diare, hanya itu.


Aku berencana akan ke rumah mereka setelah kelas usai.


"El... Coba liat IG nya marsya, disana ada foto putri sama Vito" ucap annie teman sekelasku, yang entah datang dari mana.


Aku hanya diam tidak tertarik, aku percaya pada Vito.


Annie pergi,


Anak anak yang lewat menatapku dengan rasa iba, kasian.


Aku benci tatapan itu, sangat.


Siapa mereka dan seperti apa hidup mereka yang pantas mengasihani aku?.


Namun aku lebih memilih diam untuk saat ini.


Rara datang, membawa minuman dengan wajah kusut dan masam, entah sejak kapan wajahnya seperti itu? Mungkin karna dia rindu rafa?.


"Gue ga tahan lagi, gue harus bilang sama lho" ujar rara tiba tiba.


Kata kata rara membuat aku tau bahwa dia menyembunyikan sesuatu dariku.


Aku mentap rara dalam, minta kejelasan.


Sebelum bercerita rara sudah berlinang air mata lebih dulu.


"Kenapa?". Aku akhirnya bertanya karna melihat rara sedikit enggan bercerita.


"Hikkk... Sebenernya Kemaren gue ke rumah rafa, rafa ga ada, bibi may bilang semua keluarga mereka ada dirumah sakit,,, hik hik... Om usman kena serangan jantung... Hik.. Hik... Itu karna..... " Kata kata rara menggantung, dia masih berat berkata.


Aku menatap rara lebih serius, hatiku mulai sakit.


"Karna apa? ". Tanya ku akhirnya.


Rara mengusap air mata dipipinya, sesergukan.


"Om usman dipecat.... Hik hik... Tanpa alasan, dia langsung dirawat setalah itu"


Kata kata rara seperti petir disiang bolong, menyakitkan, dadaku rasanya sesak.


Rasa benci ku kini meluap pada nenek, aku benci.


"om usman harus dioprasi, ga ada bank yang mau menerima pinjaman yang mereka ajukan, perusahaan tempat om bekerja pun tidak mau membantu.... Hik.. Hik... Akibatnya rafa sama rafi akan berhenti sekolah, ga tau sampai kapan, dan.. Hik hik... Rumah mereka niatnya akan mereka jual hik.. Hik... " rara lagi lagi menghapus air matanya.


Hatiku hancur, nenek benar benar keterlaluan.


Air mataku menetes karna kesal, namun segera ku harus.


"Hikkk... Hik... Rafi ga ngasih, dia ga mau lho hawatir "


Rafi memang begitu, walau sangat usil, tapi ,sangat dewasa.


Hatiku semakin sakit, rasa kesalku meluap luap, rasanya airmataku tidak akan bisa kutahan lagi.


Apa yang sahabat sahabatku ku lalui karna keluargaku tidak bisaku terima, rafi dan rafa begitu berharga.


Aku tidak suka ada yang menyakiti mereka, bahkan jika itu adalah keluargaku sendiri.


Rasa bersalah memenuhi dadaku, aku salah, aku salah karna menjadi keluarga mereka.


"Ehhh... Rafi sama rafa mau berhenti sekolah deh kayanya, tadi rafi keluar dari diruang guru" annie yang lagi lagi entah datang dari pojok mana memberikan info.


"Sekarang rafi dimana?" aku bertanya cepat.


"Ga tau!?? Mungkin udah di gerbang, mau balik" jawabnya.


"Ayoo.... " aku dan rara berdiri, berlari ke arah gerbang, mencoba mencari rafi.


Aku dan rara tidak lagi perduli siapa yang melihat dan memerhatikan kami.


Kami juga tidak perduli apa yang mereka fikirkan, yang aku tau, aku harus menemui rafi.


Aku tidak tau seberapa cepat aku berlari, aku bisa merasa kan anak anak lain kebingungan, melihat aku dan rara.


Aku berhenti berlari, rara juga, aku melangkah pelan, cemas, mencoba menenangkan diri sebelum mendekati rafi, rafi tidak melihat ku.


Aku melihat rafi berdiri seperti sedang menunggu, dia terlihat kusut dan letih.


Bola basket mengelinding mendekatinya, dia mengambil lalu melempar pada anak anak yang sedang bermain basket, entah siapa.


Rafi melihat ku, dia terlihat kaget, sangat.


Langkahku mulai berat, jalanku makin melambat, air mataku rasanya tidak akan bisa kutahan lebih lama lagi.


Rafi mendekatiku tersenyum, senyum itu malah membuat airmataku menetes.


Ada letih mendalam yang dia sembunyikan dariku, namun aku tau, aku kenal dia, sangat.


Aku menghapus airmataku sebelum rafi berdiri didepanku.


Agar dia tidak hawatir padaku.


"Heii.. " sapa rafi dengan senyum seperti biasa, namun kali ini senyum nya terasa pahit dan menusuk hatiku.


Dia berdiri didepanku, matanya terlihat penuh beban, benar benar menyakitiku.


Namun entah bagaimana dia masih bisa tersenyum begitu.