My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
I want to die...


Aku menangis, hatiku sakit sekali, sangat.


Aku hancur, untuk apa aku hidup jika aku bahkan ga bisa memilih, jika aku bahkan ga punya hak untuk memutuskan hal yang penting dalam hidupku.


Aku ga mau hidup seperti ini, hidup yang dikendalikan orang lain.


Aku ga mau hidup kaya gini, untuk apa hidup jika bahkan aku ga punya hak apapun dalam menentukan seperti apa hidupku nanti.


Lebih baik aku mati, yaaa.... Jika aku mati mungkin nenek akan menyesali perbuatannya.


Ya.. Lebih baik aku mati, bukankah saat itu akan datang kebebasan.


Saat aku sudah berada didunia lain.


Aku berdiri dari dudukku, melangkah mendekati pantai, yah.. Sekarang aku sedang di pantai, pantai yang biasa aku kunjungi bersama Vito.


Aku melangkah lurus kedepan.


Aku sudah muak, muak pada papa, mama nenek dan keluarga ku.


Aku muak pada semua, pada Yuri yang bahkan hampir membunuhku.


Aku benci, bukankah mama, papa dan nenek akan menyesal saat aku sudah tiada.


Atau mereka malah akan bahagia?.


Aku bersumpah, jika memang benar orang yang sudah meninggal bisa menjadi hantu, akan kuhancurkan keluarga Tristan, keluarga ku, sampai ke akar akarnya.


Air laut terasa dingin di kakiku, yah tentu saja ini siang hari, matahari sangat terik hingga membuat badanku panas berjemur di bawahnya dalam kurun waktu yang tidak sebentar.


Aku terus melangkah maju, aku benar benar ingin mati, aku muak.


Tuhan aku mohon, jika reinkarnasi itu ada, jangan buat aku terlahir dikeluarga ini lagi, aku benci.


Aku hanya ingin menjalankan hidupku sendiri, memilih pilihan ku sendiri, salahkah?.


Aku hanya ingin dicintai, dicintai mama yang melahirkanku, disayangi papaku, dan dianggap cucu oleh nenekku.


Tapi apa?? Mereka hanya orang asing bagiku, yang bahkan aku tidak berhak membuat keputusan untuk diriku sendiri.


Aku benci....


Air laut sudah sampai di lututku.


Selamat tinggal..


Ahhhh.. Aksa, sayang sekali, aku ga bisa kenal dia lebih jauh, aku ga bisa....


Dikehidupan selanjutnya aku harap kita bertemu dan bersama sebagai orang yang saling menghargai.


Aku geli sendiri, aku akan mati, tapi kenapa aku sempat memikirkan Aksa??.


Entah kenapa Aksa sudah mulai mendarah danging dalam diriku.


"Elzy..... " Seseorang berteriak.


Seperti suara Vito, tapi aku tidak akan menoleh, aku sudah membuat keputusan dan aku tetap ingin mati.


Vito sepertinya mendekatiku, berlari, namun aku tidak perduli.


Air laut sudah sampai di pinggangku, aku tetap melangkah maju.


Tubuhku di tarik hingga aku menghadap ke arahnya.


Vito melihatku kesal dan marah.


"Lho gila el.... Lho gila, lho mau mati sia sia kaya gini,?? Lho gila" Vito marah besar.


"Jangan sok mau nolongin aku, aku udah cape, lepasin, jangan pegang dan jangan ikut campur" teriakku sambil menepis tangan Vito.


Vito memegang kedua bahuku dengan kedua tangannya.


"Dengerin gue el, kalau lho mati kaya gini, orang yang mau nyelakain lho akan seneng el, mereka akan bahagia, lho akan jadi orang bodoh dimata mereka"


Vito memegang wajahku, dan mengangkat kepalaku, membuat aku menatap matanya.


"Lho cewe yang kuat el, lho udah bertahan dari dulu, jangan buat semua yang lho lakuin selama ini sia sia el" ujar Vito lagi dengan nada yang lembut, menusuk.


Hatiku mulai goyah, tidak senang rasanya jika membayangkan wajah bahagia Yuri dan tante saat aku sudah menjadi mayat.


Membayakan mereka tertawa bahagia saat aku terkujur tidak berdaya.


Bagaimana jika di dunia lain tidak ada kebebasan seperti yang kuharapkan?.


Malah dingin, gelap dan sendiria.


Nenek, mama dan papapun belum tentu menyesal saat aku mati, bisa jadi mereka akan mencari pengganti ku saat itu, beku, kedingan dan sendirian, mati dengan tragis.


Menyedihkan?!!.


Bagaimana jika setelah mati tidak ada reinkarnasi?.


jika bahkan aku tidak bisa menjadi sosok hantu yang menghancurkan hidup mereka!?.


Jika mereka semua bahagia akan kepergianku, menikmati harta, dan hidup bahagia, bukankah itu tidak adil?.


Jika aku mati aku tidak bisa memastikan dan tidak bisa berbuat apa apa setelahnya.


Jika aku hidup, setidaknya aku bisa membalas dendamku sedikit pada waktunya.


Akan aku pastikan dulu Yuri dipenjara.


Yah... Bukankah aku harus hidup??.


"Lho ga sendirian, lho ada gue, Rara, Rafa dan Rafi," Vito berujar lagi.


"Aku lelah, aku cape, ga kuat rasanya" seruku yang mulai bisa berfikir jernih kembali.


Vito memelukku erat. Hangat dan nyaman, sangat nyaman.


"Gue tau lho kuat, sekarang lho hanya cape, lho boleh istirahat sebentar, sebelum lho melangkah lagi"


Aku menangis didalam pelukan Vito sejadi jadinya.


Melepas kesal dan amarahku, agar tenang kembali.


***Saat lelah jangan menyerah, istirahatlah, sebelum melangkah kembali.


Saat terjatuh, jangan pasrah, duduklah sebentar, sebelum berdiri kembali, lalu melangkah***.