My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
Meet with Greenmother


"Kamu bener bener nyebelin" ungkapku kesal pada Vito saat ada di mobil miliknya.


Seharusnya dari awal dia cerita kalau dia membawa ku bertemu mamanya, dengan maksud memperkenalkan aku sebagai kekasihnya.


Vito akan dijodohkan oleh kakeknya, dan dia tidak mau, menolak.


Satu satunya orang yang bisa membantunya adalah mamanya, anak kesayangan kakeknya.


Namun mama Vito tidak akan melakukan itu tanpa alasan yang jelas, dan disanalah aku tadi, sebagai alasannya.


Aku kesal, tapi, Vito malah tertawa kecil.


"Gue ga bilang karna gue tau lho ga akan mau, maaf dech.. Tapi.. Lucu banget.. Raut wajah lho waktu ngobrol sama mama, ya ampun.. Hahh haha hha" vito tertawa lagi.


"Kenapa harus aku si?? Kamu banyak temen cewek,? Kamu tau kan aku males banget bohong" ujarku dengan suara tinggi.


"Masalahnya selera mama gue tinggi, gue tau cewek kaya apa yang Mama mau jadi mantunya, dia g akan mau bantuin gue batalin perjodohan, kalau bukan kaya lho ceweknya, lho liat kan tadi? Mama gue suka sama lho, lho sesuai seleranya, dia pengen lho jadi mantunya" tutur Vito


aku g tau harus seneng apa marah, sesuai selera Seseorang yang anggun kaya tante Vio adalah sebuah kehormatan.


tapi bukankah ini cara yang salah??!!


"Terus gimana kalau mama kamu minta kita bener bener tunangan, atau bahkan menikah? " tanya ku berfikir panjang untuk hal yang mungkin tetjadi kedepannya.


Vito yang awalnya fokus menyetir memandang ku sebentar, lalu fokus lagi pada jalan yang sedikit ramai.


"Setidaknya, sampek perjodohan keluarga selesai mama ga akan mikirin itu, dan setelah selesai, gue bisa bilang sama mama kalau kita putus, mama pasti ngamuk, tapi yah ga papa si.... Siapa tau lho bener bener mau jadi calon istri gue di waktu mepet.. heheh" jawab Vito tertawa kecil, seolah geli mendengar kata katanya sendiri.


"Brukkk"


Aku memukul lengannya kuat, Vito kanget dan mengaduh sakit lalu mengelus lengannya.


"Dasarrrr gilaaaa" ucapku kesal.


Tapi lagi lagi Vito tertawa.


Katanya.....


***Kembali pada mantan itu, sama halnya dengan membaca buku yang pernah kita baca.


Mau dibaca dengan cara apapun dan seperti apapun, alur dan akhirnya akan tetap sama..


Benarkah?? ;!


Aku tidak tau, tidak yakin, karna aku belom mencobanya dan tidak ingin mencobanya***....


/////////////////////////////////////////////////////////////


Lagi lagi nenek membuat keputusan sendiri, tanpa bertanya aku mau atau tidak?.


"Elzy ga mau" tegasku.


"Yuri ajalah oma, yuri ga kaya elzy yang pilih pilih" tutur Yuri tidak tau malu.


"Rio udah memilih, dan Rio maunya sama elzy, Bukan sama kamu Yuri" ucap nenek.


"Elzy ga mau" aku tetap bersikeras


"Kamu harus mau" tegas nenek


"Oma jangan paksa elzy!! " tuturku


Oma menatapku tajam, namun bukan elzy namaku jika takut hanya dengan tatapan seperti itu.


Aku balas menatap nenekku.


"oma ga perduli kamu mau atau tidak!! , kamu akan bertunangan dengan Rio titik" kini nenek membuat keputusan mutlak.


Aku kesal, nenek tidak seharusnya memaksakan kehendaknya, dia tidak bisa memaksaku.


"Oma ga bisa maksa elzy" tuturku


"Oma bisa. Keputusan oma udah bulat" ucap nenekku.


Saat itulah aku sadar, bahwa nenek benar benar bisa memaksa aku, ancaman yang sama seperti dulu, dan aku tidak mau sahabat sahabatku menanggung dan mengalami hal seperti dulu lagi.


Aku diam.


Jika dulu aku lari dan menangis kini aku tidak bisa, mungkin karna aku sudah lebih dewasa, menyimpan amarahku yang meluap cukup dihatiku yang kecil.


Rasanya dadaku terbakar amarah.


Saat ini, lebih baik aku mengalah dulu, agar nenek tidak menjadikan sahabat sahabatku sebagai sasaran.


Akan ku fikirkan cara agar bisa lolos dari perjodohan ini, apapun caranya, bahkan jika aku harus mati.


Aku tidak perduli.


***sekali lagi


Hidupku punyaku nenek atau siapapun itu ga bisa menentukan alur hidup yang harus ku jalani***...