
*Seperti pagi biasa.
Aku masih tetap terbangun di tempat yang sama, kamarku.
Masih tetap diranjang yang sama, melihat langit langit kamar ku dengan corak yang sama.
Seperti biasa pula.
Aku akan bangun, mandi menyesir rambut panjangku, duduk di depan meja rias, memakai seragam dan sepatuku setelah membuka jendela kamarku lebar lebar.
Laluu...
Melangkah menuruni tangga, lalu didepan mama dan papa tanpa menyapa dan disapa mereka, mengambil roti, mengambil susu, dan berangkat naik mobil ke sekolah.
Disekolahpun begitu.
Aku tetap melewati lantai yang sama, jalan yang sama, tempat yang sama, tiada yang berubah.
Huhhhh...
Bukankah rasanya membosankan saat tidak Ada satu hal pun yang berubah dihidup ini setiap harinya???
"**Elzy***.... " ku dengar namaku dipanggil, sontak aku berbalik menoleh.
Kulihat dia berlari kecil kearahku dengan percaya diri, muak rasanya, mau apa dia?.
Tapi anehnya, kenapa aku terdiam seolah menunggunya datang padaku? Ada apa denganku? .
Saat menyadari tindakan bodohku yang seolah menunggunya hingga berdiri terpaku, aku sadar, berbalik dan memcoba melangkah, namun entah kenapa rasanya berat.
Sudah terlambat, baru dua langkah aku kabur darinya, dia telah bisa menggapai pundakku dan menghentikan langkahku.
"Praakkz... "
Aku menepis tanganya dari pundakku, dia tertawa kecil, lalu muncul dihadapanku dengan wajah berbinar.
"Mau apa lho? " tanyaku sinis.
"gue mau lho kencan sma gue" ujarnya penuh percaya diri.
Ucapannya, bukan permintaan, bukan permohonan, logat bicaranya seolah itu hal yang seharusnya aku lakukan, seperti printah.
Aku sinis, memandangnya merendahkan.
"siapa lhoo yang berani ngajak gue kencan?! "
Balasku tajam.
Dia tertawa kecil seperti biasa, membuatku malah makin kesal padanya.
Bukankah itu berati dia kaya?.
Bukankah itu yang biasa ku pertanyakan pada pria.
Tapi kenapa saat Vito bilang kaya gitu, aku merasa seperti aku orang miskin, seperti aku ga sanggup makan ditempat mahal, sepeti aku ga bisa pergi jalan jalan, seperti aku ga bisa beli apa yang aku mau.
seperti direndahkan. Brengsekkk..
"Lhoo kira gue ga mampu?! " ucapku judes.
Vito terlihat bingung, ya pasti, siapa yang tidak bingung dengan sikap dan sifatku, bahkan aku sendiripun bingung dan tidak mengerti pada diriku, aneh.
"maukan kencan sama gue? " ujar Vito dengan tatapan penuh permohonan dan senyum manis penuh harapan.
"Jangan deket deket gue, gue jijik liat muka lho" ucapku kesal, melangkah melewati Vito.
Aku tidak tau apa maunya sebenernya.
bukan malah sakit hati, kesal dan marah alih alih dia malah makin mengejarku.
Dia berdiri didepanku menghentikan langkahku, hampir saja aku menabraknya. Aku sangat kesal sekarang.
"Mau lhoo apa sii?!!! " tanya ku marah.
"Kencan!!? " ujarnya seperti laki laki polos.
dan malah aku yang terlihat goblok karna bertanya padanya padahal sudah tau maksudnya.
"Gue ga mau kencan sama lho" aku
"Lho harus mau?! " balas Vito.
"Lho kira lho siapa yang bisa ngatur ngatur gue!!! " marahku
"gue,?? sini gue kenalin diri" ujarnya penuh semangat dengan senyum mengambang, penuh percaya diri.
Vito mendekatiku, berbisik.
"Gue calon pacar lho" katanya.
Entah kenapa rasanya aneh, aneh sekali, ada rasa yang ga bisa aku jelasin saat ini, bahagiakah? Entalah.
Aku rasa aku terlalu gengsi mengakui bahwa muncul sebuah rasa aneh karna Vito, dihatiku.
Gengsiii.....
"Jangan mimpi, ga sudi gue punya pacar kaya lho" tegasku lalu melangkah menjauh.