
"Prankkkkk" teriak rara tertawa keras.
Jantungku yang sejak tadi berdetak cepat masih enggan berhenti, meski kata prank sudah rara ucapkan dengan keras.
Rafa dan rara tertawa lucu.
Tumbuhku lemas, ingin ambruk, rafi yang berada disampingku, menyanggah tubuhku, menahan agar aku tidak jatuh.
Rafi merangkulku, memegang tubuhku, agar aku tetap kuat berdiri, tidak jatuh.
"Wah mau ngerjain satu malah dua yang kena" bangga rara.
Aku merasa lega, namun, aku tetap kaget, dan gemetar.
Kurasakan juga tangan rafi yang gemetar dipundakku, merangkulku.
"Ga nyangka ternyata kalian sayang banget sama gue" ujar rafa bangga.
Tangan rafi terasa semakin gemetar, seperti bercampur amarah dan kaget yang belum juga hilang.
"Lho fikir ini lucu,!!? kita hampir mati nabrak truk gara gara kalian,!!?? Apa ini lucu??!! " rafi marah besar.
Rafi orang yang humoris, selalu ceria dan jarang marah, namun saat marah seperti ini dia terlihat sangat menakutkan, seperti angry bird boy mungkin!?.
Rara dan rafa diam, membisu, kaget.
Aku menarik nafas, mencoba menahan amarah, kepalaku terlalu pusing untuk marah marah saat ini.
Aku teringat kejadian tadi, aku yang nyetir seperti orang gila hampir saja menabrak truk, untung aku masih sempat mengerem.
Aku dan rafi baik baik saja, hanya luka kecil di kepala kiriku karna terbentur kaca mobil terlalu keras.
Rara melihat darah diplipisku, terlihat raut wajahnya penuh penyesalan, rafapun begitu.
Badanku masih terasa lemas dan masih sulit bergerak.
"Gue minta maaf" ucap rara dengan suara gemetar.
"Gue juga" sambung rafa.
"Kalian gila" rafi menjawab masih dengan nada marah dan kesal.
Aku memilih diam, bukan karna tidak ingin bicara, tubuhku lemas dan gemetar, bibirku kaku, suaraku seolah tercekat di kerongkonganku.
"Ayo kerumah sakit" ujar rafi dengan suara pelan dan lembut agak gemetar.
Aku mengangguk pelan, tidak bisa bersua.
Mataku berkunang kunang, lalu semua terlihat gelap.
.......
Entah bagaimana akhirnya aku di rumah sakit, aku yakin rafi menggendongku hingga sampai ke sini.
bukan berati rafa tidak kuat menggendongku, namun dalam kejadian itu, rara dan rafa yang bertanggung jawab, rafi tidak akan mengizinkan mereka mendekati aku dan dia.
Sepanjang hari itu rafi menjagaku, rara dan rafa meratapi dan menyesali perbuatan mereka, mereka juga menjagaku yang dirawat inab sehari semalam dirumah sakit.
Rafi terlihat membaik setalah melihatku baik baik saja.
Rara dan rafa masih tetap mencoba minta maaf padaku dan rafi.
_____________________________________________
3 hari setelah kejadian prank yang benar benar tidak lucu itu, baru rafi berbaikan dengan rafa dan rara.
Aku juga, sekarang kita sudah seperti biasa
Baik baik saja.
Sebagai gantinya Vito yang tidak ada kabar, setelah aku meninggalkan tempat aku dan Vito janjian, dia tidak ada kabar.
Keesokan harinya sudah coba ku hubungi, namun telponnya tidak aktif.
Hingga hari ini, hari keseminggu Vito tidak menelponku.
Mungkin dia benar benar sedang sibuk, aku tidak masalah, sebagai permintaan maafku, karna pergi tiba tiba hari itu, jadi aku tidak mengganggunya, tidak ingin menambah kesibukannya.
Rara duduk ditengah diantara aku dan rafa, sambil membagikan minuman.
"Lho tau ga ada gosib baru? " ucap rara menatapku serius.
Aku meminum minumanku, sambil menunggu makanan datang, rafi yang memesan.
"Ga peduli " jawabku acuh.
"Elllll.....!???? " rara memanggil namaku, yang berati minta direspon.
"Iya apa?! Gosip apa? " aku bertanya tanpa minat.
" gosipnya lho sama rafi pacaran dan punya hubungan lebih" ujar rara hati hati.
Rafa yang mendengar langsung tersedak, disusul dengan tawa.
"Lho serius?? " tanya rafa pada rara setelah puas tertawa.
"Lho kira gue main main!!?? " marah rara pada rafa.
Wajah rara terlihat serius.
"gosip antara elzy sama rafi kayanya bener bener serius, satu sekolah bicarain itu semua, andai gue ga ada diantara kalian, gue yakin gue juga bakal salah faham" lanjut rara.
"Biarin aja!!? " jawabku enteng.
"El... Ga bisa gitu dong, kalau Vito denger bisa salah faham" nasehat rara.
Aku yakin gosip remeh seperti itu tidak akan berpengaruh apapun pada Vito, aku tidak hawatir Vito mendengarnya.
Vito tau, sangat tau, bahwa aku dan rafi hanya sekedar sahabat, tidak lebih.
"Vito bukan cowok bodoh yang akan percaya sama gosip murahan, lagian Vito tau kalau kita sahabatan" jawabku mantap.
"Ada satu gosip lagi, katanya emel anak kls 2 ipa liat Vito jalan sama putri" tutur rara.
Aku tidak percaya Gosip, aku percaya Vito, seperti halnya gosip tentang aku dan rafi yang tidak benar, aku juga yakin, bahwa gosip Vito dan putri pun tidak benar.
"Itu cuma gosip anak anak yang ga ada kerjaan, jangan dengerin" balasku.
Gosip itu adalah pencemar udara, saat kalian mendengar, kalian akan merasa sesak!!??