My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
Call from grandma....


"Besok lho ada waktu buat gue?" tanya Vito ditelpon.


Nada bicara Vito membuat aku merasa seolah aku yang sibuk dan ga ada waktu buat dia.


Padahal beberapa hari yang lalu dia tidak bisa dihubungi, dia sedang sibuk, dan aku tidak ingin mengganggu kesibukannya sebagai ganti permintaan maafku karna tidak datang saat kencan waktu itu.


Kenapa sekarang, seolah aku tersangka dan dia korban?.


"Iya.. ". Jawabku singkat.


Aku sedang berbaring diatas kasur yang empuk, melenturkan otot otot setelah beraktifitas.


Aku sedikit lelah hari ini, andai tadi Vito tidak menelpon aku pasti sudah tertidur pulas.


"Lho tau beberapa hari ini gue kangen banget sama lho..... Tapi.... "


"Tok tok tok... " tiba tiba saja pintu diketuk.


"Kenapa gue ngerasa ada yang janggal? Gue... Bingung" suara Vito masih terdengar di telpon, namun aku sudah tidak tau apa yang dia bicarakan, tidak dengar semua, aku berpaling menoleh ke arah pintu.


"Non dipanggil nyonya" suara pembantuku terdengar setelah suara ketukan.


Aku masih enggan, aku tidak menjawab.


entah karna apa mama mencariku, aku masih ingin mendengar suara Vito, aku rindu suaranya, apalagi saat bernyanyi.


Aku menempelkan telponku ketelinga kembali.


"Lho tau ga gue sayang banget sama lho?? , gue takut kehilangan lho?? Gue takut banget" tutur Vito lembut.


Entah kenapa Vito selalu berkata begitu? Padahal aku tidak ada niat sedikit pun meninggalkannya, aku sayang dia, sangat.


"Elzy....." mama berteriak keras.


Aku kesal, namun aku tidak menjawab panggilan mama, biar saja mama mengira aku tidur, aku ingin berbincang dengan Vito lebih lama, aku rindu.


Mama berteriak marah pada bibi, pembantu kami, sekarang aku tau, bahwa aku harus turun dan menemui mama.


"Udah dulu yaaa.. Gue lagi ada urusan" pamitku pada vito.


"Ok.. " jawabku lalu memutuskan panggilan.


Aku takut Vito mendengar suara berisik mama, dan jadi hawatir, aku tidak mau Vito hawatir.


Aku keluar kamar ku, menuruni tangga.


"ada apa ma?" tanyaku dari jauh.


Mama melihat kearahku, berhenti marah, bibi menunduk takut.


"Oma menelpon, dia ingin bicara sama kamu" ujar mama, sambil menujuk kearah telpon rumah.


Aku tidak tau, kenapa nenek ingin bicara denganku, ini tidak pernah terjadi sebelumnya entalah.


Aku mendekati telpon rumah, mengambil dan meletakkan di telinganku, mendengar.


"Iya oma" sapanku


"Oma sudah kasih kamu peringatan, tapi kamu abaikan dan tidak mendengar oma?!! " ujar nenek marah.


Aku tidak tau kenapa nenek marah, sepertinya sangat marah, aku diam lanjut mendengar apa salahku.


"Oma sudah bilang kamu akan bertunangan dan jangan pacaran, sekarang kamu malah bermesraan dengan laki laki yang setatusnya bahkan tidak jelas"


Sekarang aku tau, ternyata yuri telah mengadu.


"Putuskan hubunganmu secepatnya!!! , kamu dengar oma elzy? " teriak nenek.


Aku mulai kesal dengannya, kepalaku rasanya mendidih.


"Elzy ga mau oma, elzy sayang sama vito, vito bukan cowok yang ga punya setatus, ini hubungan elzy, oma ga berhak ikut campur" tegasku.


"Oma tidak mau tau, secepatnya putuskan hubungan kamu dengan laki laki itu, oma hanya akan berkata sekali elzy, kamu dengar" nenek menutup telpon, ancaman, namun aku tidak takut, tidak akan pernah takut.


Aku tidak akan ragu mempertahankan vito, nenekpun tidak akan bisa membuat aku meninggalKan vito, siapapun itu orangnya, selama aku dan vito selalu baik baik saja, bahkan isi duniapun tidak akan sanggup membuat aku meninggalkannya.