My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
"My name is VITO... "


*Duduk, diam, memegang buku.


Aku menghentikan membacaku, memandang langit, terlihat mendung.


Tapi tidak ku katakan pada teman teman di sampingku, mereka tetap fokus membaca buku ditangan mereka, baik rara, rafi dan rafa semua terlihat serius.


Sunyi memang, sepi, senyap.


Namun rasa nyaman, dan kasih sayang tetap mengalir, seolah ada ikatan yang kuat yang mengalir diantara kami, meski, tanpa bersua, tanpa melihat.


Mungkin benar kata sebagian orang, bahwa cinta dan rasa sayang tidak perlu diungkapkan dengan kata dan bicara.


Cukup diam, membisu seperti ini sudah terasa, bahwa kami saling menyayangi satu sama lain*.


"Gue ke toilet dulu" pamitku pada temen temenku.


"Balik lagikan? " tanya rara.


"Iya.. " jawabku sambil melangkah menjauh.


\_\_\_


Aku keluar dari toilet, menuju tempat tadi, tempat aku dan teman temanku membaca buku.


Aku melangkah santai, memandang sekeliling yang terlihat agak sepi, hanya sedikit siswi yang berlalu lalang.


"Bruuuukkkk... "


Seseorang sengaja menabrak bahuku, marah.


Aku langsung berbalik dan melihat siapa dia yang berani cari masalah denganku.


Dia seorang pria, tinggi, dan tegap, dia tetap melangkah menjauh seolah tidak sadar bahwa dirinya telah menabrakku.


"Heh loo!! ... Kalau loo ga mau cari mati sebaiknya berbalik sekarang.. " teriakku.


Dia menghentikan langkahnya, diam sesaat, baru berbalik.


Brengsek...


Cowok itu cowok yang aku tampar dikantin.


Cowok pertama yang berani ngotorin rokku.


Dia tersenyum manis sebelum melangkah mendekatiku, dia menghentikan langkahnya.


berdiri di depanku, dan tertawa kecil.


Pernah melihat senyum Edward Cullen? Jika pernah maka seperti itulah senyumnya.


Senyuman yang dipadukan dengan gigi gingsulnya.


"Haiii.... Masih inget gue?" tanyanya.


"Gue ga peduli siapa loo, tapi yang pasti gue ingetin, jangan cari gara gara sama gue" ujarku dengan nada penuh ancaman.


Dia tertawa, tawanya terdengar indah, enak didengar.


Dia berhenti tertawa Dan menyentuh rambutku, menciumnya.


Gilaaa... Aku mendorong tubuhnya, hingga dia mundur beberapa langkah kebelakang.


"lhoo gilaaa dan brengsek" marahku memuncak.


"Lhoo cantik, " pujinya Tak membelas hinaanku.


"Gue ga peduli" jawabku, dia tertawa lagi, bahkan lebih keras dari sebelumnya.


"Nama Gue Vito" ujarnya menghulurkan tangan, ingin berkenalan.


Ekspresi wajahnya terlihat bangga, penuh pesona, tampan.


"Pleeeeszzzzz...... "


Aku menepis tangannya dengan kasar.


"Gue ga sudi kenalan sama lho" tegasku.


Lagi lagi dia tertawa.


"Gua suka cewek kaya lho" ucapnya sambil menyentuh pipiku lembut.


Aku menepis tangannya kasar. Marah, sangat marah.


Berani beraninya dia menyentuh wajahku.


Aku hendak melayangkan tamparan, dia memegang tanganku dan dengan secepat kilat.


"Cuuuuppz... "


Dia mencium pipi kiriku. Kaget, terdiam, membeku.


"See you next time" bisiknya lalu berlari dan menjauh...


/////////////////////////////////////////////////////


Tau betapa kesalnya aku karna Vito!!!?..


Aku sampai mengamuk dan menghancurkan beberapa vas bunga.


Sangat marah, kesal, jengkel.


Rara, rafa dan rafi bertanya aku kenapa, aku tidak menjawab, tidak mungkin aku mengatakan bahwa aku di cium vito.


"Cari tau dimana Vito" ujarku pada rafa sebagai printah.


Rafa langsung pergi, dia tau kalau masih bicara dan bertanya lagi padaku, maka aku akan murka, dia mengerti sikap dan sifatku.


Rara masih diam, tidak bertanya sebelum aku mengatakan semuanya.


Rafipun begitu.


Tidak lama kemudia rafa datang, mendekat.


"Dia dilapangan basket" ujar rafa padaku.


Aku langsung berdiri dan melangkah menuju lapangan basket, teman temanku mengikutiku dari jauh.


Dari kejauhan kulihat Vito sedang bermain basket bersama yang lain, aku tetap melangkah mendekat dengan tatapan membunuh, tidak peduli.


Vito masih tidak melihatku dan fokus pada basketnya, aku masuk ke lapangan, semua melihat kearahku, semua pria dilapangan itu terdiam, bisu, mematung, melihatku takut takut.


Vito melempar bola pada temannya, temannya tidak merespon hingga bola itu berguling guling tak tentu arah dilantai lapangan.


Aku tepat dibelakang Vito, aku yakin sekadang Vito pasti keheranan karna semua orang terdiam membeku.


Dia berbalik menoleh dannnn....


"Praaaaakkkkk.... "


Tamparan kerasku menyentuh wajahnya, dia melihat, menatapku dengan tatapan berbinar, lagi lagi tatapannya membuat seolah tamparanku tidak sakit.


"Jangan pernah deket deket sama gue, gue muak liat muka lho" ujarku tegas lalu melangkah menjauh. Pergi..