My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
Breakup...


"Kita putus" ujarku mantap.


Tidak ada lagi keraguan, aku telah yakin, sangat.


Aku yakin dengan keputusan yang ku ambil, bahkan rasa sayang kupun tidak akan bisa menghentikan keputusan ku.


"Gara gara rafi? " tanya Vito membuat ku semakin mantap dengan keputusan ku.


"Jangan bawa bawa rafi" tutur ku tegas menatap Vito.


Aku tidak bisa membaca raut wajah Vito, entah dia marah, kesal atau jengkel.


"Lalu karna apa? Lho ga bisa kaya gini sama gue, gue ga mau, gue sayang sama lho" tolak Vito.


Sudah terlambat, rasa sayang sudah tidak lagi berati.


Aku diam, ada nada sedih dalam suaranya.


"Lho bener bener sama rafi?? " ujar Vito bertanya lagi.


Sekarang aku semakin kesal, kenapa harus bawa bawa rafi, rafi tidak bersalah, ini tentang aku dan dia.


"Gue udah bilang jangan bawa bawa rafi, rafi ga tau apapun tentang hubungan kita, dia ga pernah masuk dalam hubungan kita, jauh sebelum ada lho rafi udah disini, nemenin gue, rafi udah ada dihati gue sebelum lho, bukan cuma rafi, rafa dan rara juga, denger ??!! " ujarku lebih tegas.


"Terus karna apa?". Vito mulai menaikkan suaranya.


Aku mengambil telponku, menunjukkan foto mesranya bersama putri, Vito terdiam, kaget.


Namun entah kenapa ekspresi wajah Vito biasa saja setelah itu, tidak menunjukkan reaksi apapun.


Dia seolah tidak bersalah, seolah apa yang dia lakukan bersama putri bukan masalah besar yang mengharuskan dia minta maaf padaku. Aku semakin kesal.


"Kalau karna itu, seharusnya lho minta penjelasan gue" ucap Vito lirih, seolah dia sudah punya alasan dan penjelasan yang akan dia berikan padaku.


"Kita putus" keputusanku telah bulat.


"Gue bisa jelasin" desak Vito dengan wajah yang mulai memerah, sedih.


"Percuma" suaraku mulai agak lantang.


"Kalau lho ga cinta rafi, dan kalau lho ga mau bareng dia?? Kenapa lho ga mau dengerin penjelasan gue?? Kenapa?? " suara Vito lemah, sedih.


Aku resah, suara Vito begitu terdengar menyedihkan.


Aku menatap Vito dalam, agar dia bisa mengerti apa yang aku katakan dan apa yang aku maksud.


"Kita, gue dan lho, udah ga punya kepercayaan satu sama lain, lho ga percaya sama gue, meski gue udah ngomong berulang kali, gue dan rafi hanya sahabat, ga lebih" vito terdiam.


"Percuma lho jelasin kejadian yang lho alami bareng putri, apapun yang lho alami dan lho bilang ke gue, gue udah ga akan percaya, gue udah kecewa dan ga ada hal yang bisa buat rasa kecewa gue hilang sama lho" lanjutku.


Vito terdiam, berfikir, sedih dan kecewa.


"Gue sayang sama lho, gue ga mau kehilangan lho" ungkap Vito.


"Gue juga sayang sama lho, tapi percuma, karna hanya ada rasa sayang dalam diri kita, tapi ga ada kepercayaan, semakin lama kita berdua akan semakin tersakiti, lebih baik kita temenan, kita putus" sulit, sangat sulit mengatakan ini, lebih sulit dari yang ku fikirkan.


"Gue ga mau!??kita bisa perbaiki semuanya" ucap Vito tetap menolak.


"Gue bilang putus bukan buat minta pendapat lho, gue bilang putus karna gue mau kita pisah, gue ga mau ada hubungan lebih dari sekedar temen sama lho, itu keputusan gue, gue ga perduli lho mau apa ga!!" ucapku mantap, tegas dan lugas.


Aku sudah memilih, dan sekarang sudah kutetapkan.


**Karna menurutku....


Hubungan itu tidak cukup bermodal sayang, seperti halnya kita tidak akan kenyang hanya dengan makan sayang, kita belum tentu bahagia hanya dengan sayang.


Sayang itu perlu, tapi bukan segalanya.


Sayang tidak bisa membuat Segalanya, segalanya lah yang membuat sayang.


Jangan munafik..


Bagiku, sesuatu yang sudah membuat aku merasakan sakit, kecewa dan sedih itu harus ditinggalkan, tidak perduli apapun itu.


Hidup hanya sekali dan aku ingin bahagia.. 🌞**