My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
Chatting...


(Aku elzy, orang yang kamu tolong waktu kebakaran, makasih udah nolongin aku)


Aku mengirim pesan itu padanya,


Aksa Delvin Azry, ah sebut saja dia Aksa.


Aku tidak tau dia dipanggil siapa, jadi aku panggil saja dengan nama yang paling aku suka.


Aksa, nama yang indah, aku suka.


Sebenarnya Azry juga tidak buruk, tapi entah kenapa aku ingin saja memanggilnya Aksa.


Bahkan nama tangannya, Delvin juga lumayan, tapi tetap saja aku ingin memanggilnya Aksa.


Aku ga tau, kenapa Aksa menitipkan kartu namanya pada dokter Alin.


Apa mungkin dia ingin aku balas budi??


Bisa juga dia ingin aku berterimakasih padanya.


Tapi yang pasti, dia ingin aku menghubunginya bukan??


Ahhhh.. Apa aku terlalu ke gr an??!.


Aku memandang layar ponselku, tetap di aplikasi WhatsApp.


Deg...


Aksa sudah membaca pesanku, astaga.


Entah kenapa jantungku berdetak kencang.


Aku tetap menatap layar hp ku, menunggu Aksa membalas chatku.


Astaga apa dia mempermainkanku??


WA nya masih tetap dalam keadaan online, tapi dia tidak membalas chatku bahkan setelah 3 menit.


Apa maksud nya ini?? Bukankah dia ingin aku menghubunginya lagi,?? Karna itu dia menitipkan Kartu namanya bukan?.


Ah... Kurang ajar... Apa aku terlalu ke gr an?.


Harga diriku yang mudah terluka kini mulai tersakiti.


Aku kesal, sangat, seperti dipermainkan.


Aku meletakkan hpku di atas meja dari saking kesalnya.


Dari awal aku melihat WhatsAppnya aku sudah kesal.


Pertama karna aku sangat penasaran dengan wajahnya.


Dan WhatsAppnya tidak pakai fotonya sebagai provil, menyebalkan bukan?.


Tentu saja yang kedua karna tingkahnya, dia tidak membalas chatku dan menyakiti ego ku.


"Cetttlingggg.. "


Hp ku berbunyi, tanda ada WhatsApp masuk.


Aku tidak ingin melihat nya, ah... Takut sekali aku kecewa dan terlalu berharap.


Jika bukan chat dari Aksa, harga diriku akan lebih tersakiti lagi.


--Aksa--


Saat membaca nama itu rasanya ingin sekali melompat dari tempat tidurku sambil tersenyum bahagia.


"Kenapa el?" tanya Rafa padaku.


Aku langsung memperbaiki tingkah ku, bersikap santai seperti sebelumnya.


Rafa yang sedari tadi membaca buku melihat ku hawatir.


"Ga papa ko, lanjut aja baca" jawabku sok santai padahal jantungku berdebar.


Rafa menggeleng sebelum akhirnya membaca lagi buku di tangannya.


Aku tidak tau aku kenapa, selama ini aku ga pernah kaya gini.


Aku ga pernah sepenasaran ini sama chat dari Seseorang, bahkan saat aku pacaran sama Vito pun gak.


Astaga, aku bahkan ga tau seperti apa wajah Aksa, aku ga tau.


Tapi kenapa rasanya berbunga bunga saat ingat dia.


Hahhh.. Ingat??!! Aku bahkan belum memiliki ingatan apapun tentang dia, gila.


Aksa


(Kamu pandai memaki maki keluarga mu, selamat!!!😇)


Apa itu, itu balasan chatnya atas rasa terima kasihku?.


Memaki?? Memaki apa?? Keluarga??.


Astaga, aku ingat, aku memaki oma, papa, mama, tante, om dan juga Yuri di danau sebelum kebakaran.


Dia mendengar?? Aku malu.


Aku


(Itukah jawaban atas rasa terima kasih ku?😠)


Aksa


(ya.. Itu sebagai kata pujian, kamu hebat dalam hal maki memaki 😊)


Aku


(kenapa pujian itu seolah hinaan? Jangan berikan aku pujian seperti itu, setidaknya kamu bisa basa basi menanyakan kabarku sebagai gantinya 😒)


Aksa


(Aku tau kamu baik baik aja, udah sehat dan 2 hari lagi bisa pulang, Alin udah ngasih tau aku semua detailnya)


Dia mengawasiku?? Menanyakan kabarku??


Wah cukup perhatian ternyata.


Padahal kita tidak saling kenal, tapi kenapa dia begitu perduli.


Aku


(Haruskah aku bilang makasih sekali lagi?)