My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
Thinking...


"Lho belum kenal dia, mungkin calon tunangan lho akan cocok sama lho" Vito memberi nasehat saat aku bercerita.


Benar apa kata Vito, aku belum tau seperti apa sosok evin, bisa jadi dia berbeda dari Rio.


Tapi tetap saja hatiku masih terasa berat.


"Kalau lho mau tunangan sama gue, gue akan bilang mama buat lamar lho, dengan status keluarga gue yang lumayan, kayanya oma lho ga akan nolak" Vito menawarkan.


Aku Menatap Vito jengkel.


"Aku ga bisa, kamu ngertikan!?" tuturku.


Aku sudah terlanjur menanam Vito dihatiku sebagai sahabat.


Kita ga bisa balik kaya dulu lagi, ga bisa.


"Lho coba kenal aja dulu sama calon tunangan lho, kalau lho ga suka dan ga cocok sama dia, bukankah gue pilihan yang lebih baik?, kita bisa tunangan dulu, kalau lho tetep ga bisa sayang gue sebagai cowok setelah itu, kita ga akan nikah, gue akan lepasin lho buat milih siapapun yang lho mau" ucap Vito serius.


Aku ga tau kenapa Vito begini? Karna cinta kah atau opsesi.


Bukankah itu berlebihan.


Aku diam duduk membisu, merasakan angin yang menerbangkan rambutku ke mana mana.


Tawaran Vito cukup menarik, yaaa.. Bertunangan dengan Vito yang sudah aku kenal baik bukankah lebih baik.


Tunangan terasa sahabat lebih baik.


Dari pada tunangan terasa asing.


Namun tetap saja, itu tidak adil pada Vito.


Aku tau aku ga bisa sayang Vito seperti dulu, bukankah tunangan tanpa rasa namanya memanfaatkan?.


Aku ga mau jadi orang jahat yang memanfaatkan sahabatku sendiri.


"Kamu bener bener mau aku jadi orang jahat?!" seruku pelan.


"Kenapa kamu kaya gini Vit?" aku mulai frustasi.


"Karna buat gue lho bukan sekedar mantan, lho itu cinta, lho temen dan lho sahabat, lho segalanya" Aku tau Vito tidak main main dengan ucapannya.


Rasanya sedikit nyeri saat aku ga bisa menjadi seprti yang Vito inginkan dan juga ga bisa menjauh dari dia.


Selama ini aku egois, dekat, padahal aku tau Vito tetap mengharapkan aku lebih, seolah memberi dia kesempatan.


Tapi aku juga ga bisa jauh dan pergi dari sisi Vito, Vito sahabat yang berharga.


Vito mengelus rambutku lembut, menatapku dalam, penuh kasih sayang.


"Maaf udh buat lho kepikiran, gue tau ko apa yang lho pikirin dan gimana prasaan lho, tadi itu hanya tawaran, kalau lho mau lho bisa hubungin gue, kalau enggak juga ga papa, jadi jangan jadikan itu beban. Hidup lho punya lho, lho yang jalanin, lho berhak mutusin dan nentuin pilihan lho, dan apa yang lho mau, yang lain anggap hanya angin lewat" tuturnya.


Aku menyandar di bahu Vito.


Vito sangat tau apa yang aku rasakan, dan bisa mengerti kearah mana fikiranku.


Itu sangat membantu, tanpa perlu sibuk sibuk menjelaskan Vito sudah mengerti.


"Makasih" ujarku, lalu menutup mata merasakan angin pantai yang mulai sejuk.


Vito mencium ubun ubunku lembut, membuat aku merasa dibelai seorang kakak, padahal Vito lebih muda dariku.


Aku tidak tau apa yang Vito rasakan? Sakitkah?


***Bagaimana jika kalian menjadi Vito?? Sakitkah??.


Saat kalian mencintai seorang sahabat, teman, dan mantan sekaligus?.


Dia ada disisi kalian, selalu kalian sayangi, padahal kalian tau bahwa dia tidak akan kembali, namun kalian selalu memberi dia kesempatan.


Bukankah itu bodoh***?.