My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
you are...


seperti rencana, acara tunangan di gelar 2 hari setelah lamaran.


"kamu cantik" bisik Evin saat kita berdansa.


aku tersipu malu di buatnya.


aku memakai gaun indah, berwarna maron.


yah. .. warna yang senada dengan jas yang Evin kenakan.


aku masih malu padanya, yah.. sejak saat hari lamaran, rasa Maluku bukan malah berkurang, tapi malah bertambah.


Evin tersenyum lembut penuh karisma, astaga rasanya aku meleleh.


dia bersikap santai padaku, seolah kami sudah lama saling kenal, anehnya, aku merasa nyaman dengan sikapnya.


aku tidak bisa bicara apa apa, rasanya tidak percaya laki laki sempurna di depanku ini adalah milikku?!!.


tunangan ku?!!


aku juga pura pura lupa pada apa yang terjadi di hari lamaran.


dan syukur lah Evin tidak bertanya apa apa padaku.


aku mencium aroma wangi yang khas dari tubuh Evin.


membuat aku merasa nyaman.


tangan Evin yang ada di pinggangku semakin terasa hangat.


astaga jantungku rasanya ingin copot.


"malu?" bisik Evin padaku?.


aku mendongak sedikit, menatap nya tajam untuk menutupi rasa Maluku yang sebenarnya.


"enggak" jawabku, berbohong.


astaga ini tidak adil, dilihat dari sisi manapun Evin tetap saja tampan.


"apa karena kamu pacar Aksa,? jadi kamu bohong sama aku!??" ucapnya tau aku berbohong.


aku langsung menunduk.


malu, sumpah..


kenapa dia membahas kesalah fahaman waktu itu.


"don't talk" balasku kesal, dia tertawa kecil.


terdengar suara keributan dari luar entah apa, aku dan Evin berhenti berdansa.


beberapa polisi ternyata masuk, menyeret Yuri, Yuri ngomel tidak karuan.


polisi menghampiriku.


"selamat malam Mbak, pelaku tindakan percobaan pembunuhan atas diri Mbak Elzy sudah ditetapkan, dan Yuri lah tersangkanya" tutur polisi itu padaku.


aku tersenyum senang, benar bukan??!! itu Yuri.


aku melihat wajah panik Yuri dan Tante Ratna.


"terimakasih banyak sudah mengurus kasus ini bapak" jawabku tersenyum ramah.


"baik, saya permisi dulu" jawabnya lalu berlalu.


suara berisik dan riuh riuh terdengar, om dan Tante Ratna juga panik, kesana kesini, saat Yuri diseret.


aku berbalik memandang Evin, Evin tersenyum lembut lalu mengusap kepalaku.


Evin memberikan energi ketenangan padaku, seolah mengatakan bahwa semua akan baik baik aja.


dia tidak bertanya seolah tahu segalanya, itu membuat aku nyaman.


rasanya tidak adil, kenapa di sesempurna ini?!. kenapa hanya dia?!!.


......................


Evin


(pagi, sayaang... aku jemput setelah jam kuliah kamu selesai)


sudah berulang kali aku membaca chatnya.


wajahku rasanya memerah, antara malu dan geli.


ini pertama kalinya Aksa, eh Evin, memanggil ku sayang.!!!


perasaan ku menjadi campur aduk karenanya.


sejak saat hari lamaran, dia bersikap berbeda padaku.


sikapnya sok manis.....


tidak dia memang manis, aku saja yang iri padanya.


ah... aku iri pada diriku karena memiliki orang semanis Evin.


aku memandang cincin tunangan kami, cincinya masih melingkar indah dijariku.


ciuman Evin rasanya masih membekas di keningku, astaga.. aku harus bersikap biasa.


sejak saat kami resmi bertunangan, Evin selalu menghubungi ku, lebih dari biasanya saat aku masih mengenalnya sebagai Aksa.


kami juga makan malam bersama, walau kamu keluar tidak lama.


waktu yang ku habiskan bersama Evin terasa menyenangkan.


kami akan malam malam setiap dua hari sekali.


aku sedikit kecewa karena dia orang yang sibuk.


dia bekerja, bukan pekerjaan yang dimiliki keluarga Briyan.


tapi pekerjaan dari perusahaan papanya, berhubung papanya anak tunggal dan dia satu satunya, maka dia yang bertanggung jawab atas.perusahaan itu.


aku akan siap siap untuk malam.


😍😊