
*Sebuah tempat yang indah, banyak lilin dan aroma bunga bertebaran.
Aku duduk diam membisu setelah mengamati sekelilingku.
Vito menatapku, membuat aku sedikit salah tingkah, namun ku sembunyikan perasaan salah tingkah yang kurasakan, karna itu membuat ku seolah menjadi tidak tau malu.
Pelayan menyajikan makanan, menuang jus dalam gelasku dan gelas Vito.
"Makan" ujar Vito padaku setelah pelayan yang menuangkan jus digelas kami pergi.
Seperti biasa selera makanku tidak tinggi, malah rasanya malas sekali makan.
Bukan karna aku tidak suka dengan makanan yang dihidangkan, tapi tidak ada satupun makanan yang pernah ku makan cocok dengan lidahku.
Tentu saja kecuali masakan tante jeny, hanya masakan tante jeny yang bisa membuat aku menghabiskan setengah piring nasi.
Vito makan dengan asiknya, melahap semua makanannya dengan penuh nikmat.
Aku meminum jus digelasku, menyudahi makanku, mengelap mulutku.
"Udah? " ujar Vito bertanya, dan terlihat kaget, mungkin karna melihatku makan dengan singkat dan sedikit.
"Iya" jawabku singkat.
"Lho ga malukan makan didepan gue? " tanyanya, menatap, curiga.
Aku bete, aku bukan seperti cewek lain yang ingin terlihat sempurna didepan lelaki dengan gaya makan elegant dan makan sedikit.
"Malu?? Didepan lhoo, enggak banget" jawabku mantap dan agak acuh.
Vito menghela nafas seolah penuh rasa syukur.
"Gue tau lho ga punya malu sama gue" ucapnya lalu melahap kembali makanannya.
Aku memilih diam, tidak merespon kata kata Vito.
"Ayo pacaran?! "
kata kata Vito membuat aku kaget. Sangat kaget.
Bisa bisanya dia berkata dengan begitu mudah?, dia masih tetap melahap makanannya seolah tidak berkata apa apa, tanpa ekspresi.
aku membeku, perasaan campur aduk kembali lagi dalam diriku, kini mulai disertai desiran desiran aneh, entah apa? Cintakah?
Dia menghentikan makannya, dan menatapku.
"Ga ada alasan buat lho nolak gue sekarang, gue punya segala yang lho mau, keluarga kaya, uang, juga nilai disekolah gue cukup tinggi untuk ngalahin lho,
Dan yang pasti, gue tau, kalau lho suka sama gue"
Vito tetap saja percaya diri, seolah dia tau apa yang aku rasakan, bahkan saat aku tidak sadar dengan perasaan ku sendiri, dia tau.
"Buang gengsi lho" tambah Vito lagi.
Vito menunggu jawabanku.
Aku tiba tiba teringat pada prempuan menyebalkan yang menabrakku dikantin, bukan kah dia pacar Vito?.
"Gue ga mau jadi plakor" jawabku.
Vito terlihat kaget mendengar jawabanku, aku tau bukan jawaban itu yang mau dia dengar dariku.
Apa jawabanku terlalu aneh, hingga Vito tertawa keras, bahkan, lebih keras dari biasa.
"Kalau gue masih pacaran sama nia, ngapain gue ngejar ngejar lho?! " ucapnya, kemudian.
Oh nama gadis menyebalkan itu ternyata Nia!?,
Saat mengingatnya, masih ada rasa kesal dihatiku padanya, kesal sekali.
Namun, Ada rasa lega dan bangga saat dia berkata begitu, seolah aku tau, pesonaku pada orang lain, di luar dugaanku selama ini.
"Gue emang suka gonta ganti pacar, dan gaya pacaran gue singkat, tapi gue ga pernah ambil keuntungan dari mantan mantan gue, juga gue putus bukan karna alasan lain selain kata "kami tidak cocok" itu aja.
Jadi jangan hawatir,!! gini gini gue ga pernah selingkuh" jelasnya.
Ada rasa lega menyelinap dalam hatiku.
Mungkin dia memang tidak seburuk itu.
Ayo coba, coba membuka hati untuk Seseorang, biarkan Vito menjadi yang pertama*.
Mungkin malam inilah awal mulanya hubunganku dengannya.