My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
whisper...


Seperti biasa aku duduk dan membaca buku dengan sahabat sahabatku.


Kami membawa buku masing masing, santai dan tenang.


"Katakan sayang mengapa begini..... "


Nada dering hp rara berbunyi, tanda ada yang menelfon.


Rara melirik hpnya, lalu menoleh pada rafa dan aku yang duduk disampingnya, sedang rafi duduk disampingku.


"Kenapa? " tanya rafa, aku diam tidak perduli, dan mulai membaca buku lagi.


"Nomer baru" jawab rara.


"Angkat aja, siapa tau penting" ujarku tanpa menatap dan melihat rara.


Rara terlihat bimbang dan masih berfikir panjang.


"Kalau penjahat gimana?? Atau kalau ini orang iseng? " hawatir rara berlebihan.


Rara memang sedikit penakut, dan sangat lebay.


Hp rara berhenti berbunyi, sambungan terputus, rara terlalu lama berfikir.


"Lho fikir ini serial TV? " sambung rafi.


"Bukan, ini sereal buat sarapan pagi" jawab rara ketus.


"Katakan sayang mengapa begini..... "


Telepon rara kembali berbunyi.


"Nomer yang Sama" ucap rara setelah melihat layar hpnya.


"Penting kayanya, angkat aja" akhirnya rafa ikut bicara.


Rara menarik nafas dalam sebelum mengangkat telepon.


"Itulah ga enaknya jadi orang ga laku, ada nomer baru aja sampek heboh banget, ga pernah ada yang mau nelpon lho sii!!! " ledek rafi.


Rara memasang muka marah dan siap bertengkar.


"Cepet angkat" rafa berhasil mengalihkan perhatian rara.


Rara akhirnya mengacuhkan rafi, dan mengangkat teleponnya.


Aku tetap membaca buku yang ku pegang, khusuk.


"Hallo" sapa rara diawal kalimat, untuk memulai obrolan.


"Iya ada disini bareng gue...


Hah.?? . Gue ga tau,??? gue tanya dulu" rara


"El.. Hp lho mana? Kenapa ga aktif? " tanya rara padaku.


Aku sontak mengambil hpku disaku bajuku, melihat layar hpku yang enggan menyala.


Aku lupa, hpku tidak aku cas semalam, pasti low bet.


"Lowbet" jawabku pada rara, rara berpaling memandang ke depan.


"Siapa si?? Kenapa nanyak in elzy?" kepo rafi.


Rara menggeleng, tanda tidak tau.


"Tanyain dulu lol" rafa menyambung, rara mengangguk.


Aku menatap rara, penasaran, kenapa si penelpon bertanya tentangku?.


"Hpnya elzy lowbet, lagian ngapain lho nanyain elzy?? Dia udah punya pacar" tutur rara.


"Haaaa... " rara tampak kaget.


"Siapa? " tanyaku ikut penasaran, rara berpaling dan menatapku dengan tatapan tidak percaya.


"Vito, mau ngomong sama lho" rara menjawab dengan gaya tidak percaya, maklum, dia penggemar Vito.


Rara memberikan hpnya padaku, aku menerimanya.


"apa? " tanyaku


"Ayo makan bareng!? " Vito


"Hari ini gue makan bareng temen temen"


"Lho ga mau makan bareng gue?" Vito


"Gue mau makan bareng temen temen"


"Ohhh.. Yaudah.. See you" ujar Vito, lalu mematikan panggilannya.


Dia seperti sedang kesal, entah karna apa, namun biarlah, mungkin karna masalah pelajaran.


Aku mengembalikan hp milik rara, rara mengambilnya.


"Kenapa ga makan bareng Vito aja? " tanya rara.


"Yaaa karna elzy setia kawan, ga kaya lho dodol. " rafi menyambung.


"Gue tanya elzy bukan lho monyet" balas rara.


"Dasar katak lupa diri" tambah rafi.


"***Dasar lho bau *** kucing"


"Lho cewek jadul"


"Jelek"


"Buruk rupa"


"Beruang"


"Kangguru"


"Sinting"


"Gilaaaa"


"Miring lho"


"Gila lebih parah***"


Pertengkaran ga nyambung mereka yang seperti biasa mulai lagi, aku dan rafa hanya bisa menggeleng, sambil memikirkan cara menghentikan mereka.


"Laper ga? Ayo makan, hari ini rafa teraktir" ujarku sambil berdiri, rafa ikut berdiri.


"Setujuuuuuuu" rara langsung bersorak, berhenti cekcok, ikut berdiri.


"Wahhhh gila lho el, gue jadi di bawa bawa!! " protes rafa.


Rafi berdiri mengejar rafa yang sudah beberapa langkah menyamaiku, rafi merangkul rafa.


"Jangan libatin gue, dalam masalah ini kita bukan saudara" ucap rafi lalu menjauh dari rafa, rafi mendekatiku, dan merangkulku seperti biasa.


"Jahat banget lhoo, tar pulang gue aduin mama lho" balas rafa.


"Mama lebih sayang gue"....


"Sekarang yang bawel yang bayar" ucapku


Sontak mereka semua diam, namun ganti saling colek colekan.


Aku ga tau kenapa selama berjalan menuju kantin rasanya semua murid di sekitar, melihat kami lalu berbisik bisik.


Seolah ada yang aneh dengan kami, padahal bukan kah kami begini sudah biasa?? Entalah.. Biarlah....


**Menyalahkan orang lain lebih mudah bukan??


Dari pada mengoreksi diri sendiri.....


Membicarakan keburukan orang lain adalah hoby bagi mereka...


Dari pada membenahi diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik**...