
Aksa
(Udah makan?? jangan terlalu pemilih, makan walaupun sedikit)
Aku
(Aku udah sarapan, selera makan ku sedang tidak bagus๐ฐ)
Aksa
(Aku akan sibuk setelah ini, mungkin sampai beberapa minggu kedepan, wait for me ok!?๐)
Aku
(Yes Sir I'm waiting you, and good luck for your job๐๐๐)
Aku duduk santai disofa rumahku, hari ini hari ke 4 aku dirumah.
Menonton televisi, entah film apa?.
Sejak tadi aku hanya fokus pada telponku, membalas dan mengirim chat pada Aksa.
Aku sudah sepenuhnya pulih, tentu saja yang tersisa hanya bekas luka bakar dibahu kananku yang meninggalkan sedikit bekas.
Tapi cukup dengan dioleskan salep dengan teratur bekasnya akan menghilang, itu pesan dokter Alin.
Tentang wajahku, hah...
Benar benar menyebalkan, juga menguntungkan.
Diwajahku sama sekali tidak ada luka bakar, hanya jaitan di kepalaku yang sedikit sobek akibat pukulan.
Kenapa di preban?? Itulah hal yang sama yang awalnya aku pertanyaankan.
Dokter Alin hanya tersenyum dan berkata, "itu untuk kebaikan" apa maksud mendalam dari ucapan dokter Alin pun sama sekali tidak aku mengerti.
Tapi syukurlah atas kejadian Itu, pertunangan ku dan Rio akhirnya dibatalkan.
"Jangan sampai waktu perpisahan tiba, dan yang tersisa hanyalah air mata hanya air mata..... "
Nada dering ponselku berbunyi Rara menelpon ku, padahal aku sedang menunggu chat balasan terakhir dari Aksa.
Aku mengangkat.
"Ya Ra?? "
"El... Aku mau kerumah kamu ni.... Disuruh nganter makanan sama mama" ujar Rara.
Wah.. Akhirnya aku bisa enak setelah sekian lama.
"Siiippp... Aku emang kangen banget sama masakan tante jeny, aku tunggu dirumah ya?"
"Ok siap, aku berangkat" balas Rara lalu memutuskan sambungan.
Aksa
(Jaga diri, aku harus meeting sekarang da.. ๐)
aku
(Ok๐sukses ya ๐)
Untuk beberapa hari ini aku ga akan chat tan bareng Aksa, mungkin bisa sampai beberapa minggu.
Ahhh... Ko rasanya sedih gini ya??
Sejak kapan aku begini?.
Beberapa menit berlalu, Aksa udah ga bales chatku lagi, wah aku kecewa sedikit.
Aku dengar suara pintu dibuka, wahhh pasti Rara udah dateng.
Aku beranjak dan mendekati pintu, berniat menyambut Rara.
Melangkah dengan senangnya.
Saat tiba di ruang depan, rasanya hatiku tidak enak, yah saat ku lihat sosok nenek di sana, bukan Rara.
Nenek berdiri dekat dengan pintu masuk, tidak beranjak.
Aku kebingungan sudah, haruskah ku tawarkan nenek duduk dulu? Atau ku biar saja, dan pergi.
"Silahkan duduk nyonya besar, tuan sama nyonya sedang tidak ada" ujar bibi, pembantuku.
Nenek melihat ke arahku yang terdiam membatu.
"Tidak usah, saya sedang sibuk untuk sekedar duduk, saya langsung saja bicara karna elzy sudah ada disini" ucap nenek.
"Baik nyonya besar, saya tinggal kebelakang kalau ada yang bisa saya bantu silahkan panggil saja" bibi pergi setelah nenek mengangguk.
Aku sedikit melangkah maju.
"Ada apa oma?" aku membuka pembicaraan, aku sudah punya firasat buruk tentang ini.
"Pertunangan kamu akan dilaksanakan minggu depan, dengan cucu pertama keluarga briyan, namanya evin" ujar nenek.
Wajah ku memerah, aku marah, sangat, ini belum Seminggu setelah aku mengalami kebakaran.
Aku baru beberapa hari dirumah.
"Elzy ga mau oma, elzy baru keluar dari rumah sakit"
"Kamu udah sehat, jadi ga ada alasan kamu menolak, tanggal, hari, tempat, semua udah beres, kamu hanya tinggal pamer wajah kesana" lagi lagi nenek memaksakan kehendaknya.
"Elzy tetep ga mau, elzy udah punya pilihan sediri, elzy ga mau oma, elzy ga mau" aku sekarang sedikit berteriak.
Kesal rasanya, pertahananku sudah mulai rapuh, mataku mulai berkunang kunang.
Apa lagi setelah Aksa mulai terlintas dibenakku.
Aku tidak tau seperti apa dia, aku ga tau anak siapa dia, bagai mana dia.
Aku hanya tau aku nyaman dengan Aksa.
Aku ingin Aksa.
"Kamu taukan kamu ga bisa nolak apa yang oma mau" nenek mulai mengancam lagi.
"Kalau gitu kenapa ga oma aja yang tunangan sama cucu keluarga briyan,?? Kenapa harus elzy,? Oma yang punya bisnis kenapa harus elzy terlibat, oma ga adil" aku mulai tidak terkontrol.
"Praaakkkk.. "
Oma menampar pipiku, rasanya nyeri diwajahku.
"Kurang ajar, sekali lagi kamu bicara seperti itu, oma pastikan semua sahabat sahabat kamu ga akan punya masa depan"
"Oma gila" ujarku,
Saat itulah aku pergi, melangkah menjauh.
Aku melihat Rara berdiri di luar pintu, pasti mendengar semuanya.
Tanpa menyapa Rara aku Pergi, menuju mobilku.