
Sekarang aku bukan lagi seperti aku yang dulu saat SMA.
Aku sekarang sudah semester 5.
Sangat cepat bukan waktu berlalu?.
Sudah 2 tahun lebih aku kuliah, masih tidak percaya kalau masa SMA telah lama terlewati.
Teleponku bergetar, ya aku memasang mode senyap di hpku, jelas, sekarang waktu kelas mulai, dosen ada didepan menjelaskan.
Aku menatap layar kaca hpku, Vito, itulah nama yang tampil dilayar hpku.
Aku menunduk untuk mengangkat telepon, jelas agar dosenku tidak melihatku, yaps pak ridwan lumayan galak.
"Iya..!! " ucap ku dengan suara berbisik.
"Lho dimana?? " Vito bertanya.
"Aku dikampus, lagi dikelas" jawabku tetap berbisik.
"Gue udah didepan, abis kelas langsung keluar ya??!!, See you" ucap Vito sebelum memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Aku kembali menegakkan bahuku, mencoba mendengar kembali penjelasan dosen.
Aku menghela nafas karna kesal, ya Vito tetap saja seenaknya, masih seperti dulu, tidak berubah sedikitpun.
Gaya, bahasa, cara dan tingkahnya tidak ada yang berubah, masih sama.
Tapi tetap saja, Vito orang yang menyenangkan, penuh kejutan dan perhatian.
Dia tetap saja membuat aku merasa nyaman didekatnya.
Ah... Sekarang aku tidak bisa lagi konsentrasi, sialan, ini semua gara gara Vito.
Dia tidak bisa membuat aku tenang, bagaimana bisa aku tenang? Vito akan membawaku pada mamanya untuk makan malam. Malam ini.
Huh... Apa yang harus ku jawab jika mama Vito bertanya tentang hubungan kami??.
Aku bingung, juga grogi, prempuan mana yang tidak deg degkan saat bertemu orang tua laki2.
Rasanya, aku sudah gemetar duluan, takut, bimbang, dan resah menjadi satu.
Bagaimana jika mama Vito tidak menyukaiku?, apa yang harus kulakukan??.
Bagaimana jika aku berbuat salah didepannya nanti? Apa yang harus ku lakukan??.
Astaga, memikirkan nya saja sudah membuat aku tidak nyaman.
Aku baru sadar, bahwa teman temanku sudah berkurang, pergi meninggalkan kelas, dosenkupun sudah tidak ada.
Entah kapan pak ridwan keluar dan menyelesaikan kelas, aku tidak sadar.
Ini gara gara Vito, menyebalkan.
"Hahahaha.... Ayoo pulang" ujar sindi teman sekelasku sambil tertawa jail.
"Kamu tau,? Aku hampir mati jantungan" kesalku merapikan buku dan beranjak melangkah menjauhi kelas.
Sindi mengejarku, menyamai langkahku.
"Kamu sich melamun terus hahahah" sindi masih saja tertawa.
Aku terlalu lelah menjawab perkataan sindi, aku diam, masih sedikit kesal.
Aku melihat Vito dari kejauhan, berdiri sok keren di depan mobilnya.
Cewek cewek meliriknya tanpa henti.
Dasar si centil Vito, tetap tidak berubah.
"Aku duluan ya sin, aku udah di jemput!!" pamit ku pada sindi.
"Ok hati hati" pesan sindi, aku mengangguk.
Aku berlari lari kecil mendekati Vito, dari sini bisa ku lihat, dia telah memancarkan senyum mautnya.
Ya senyum maut, yang bisa melumpuhkan wanita.
Vito membukakan pintu mobilnya untukku sebelum aku sampai dan berdiri didepannya.
Itu artinya dia ingin aku masuk kedalam mobil tanpa banyak omong.
Aku melewati Vito tanpa melihat atau melirik ke arah nya, langsung masuk mobil duduk diam, sok jual mahal.
Aku tau Vito pasti tersenyum melihat tingkah ku yang begitu.
Vito menutup pintu mobil untuk ku, melangkah menuju tempat duduk kemudi, membuka pintu, masuk, menutup pintu, dan menatapku.
"Udah siap??! " Vito bertanya dengan senyum jailnya.
"Ayo berangkat" jawabku ketus, seperti mengeluh.
Vito malah tertawa. 😓😓