
Aku lanjut makan malam dengan Vito, pastinya di restaurant mewah.
bukan restaurant tempat kami pertama kali makan bersama, yang ini lebih sederhana tapi lebih berkelas dan lebih mahal tentunya.
Seperti biasa, aku makan tidak banyak, bahkan sangat sedikit, tidak lebih dari 3 sendok.
"Lho harus makan lebih banyak lagi" ujar Vito, aku menggeleng enggan.
"ini enak, cobain" tambah Vito menawariku makanan miliknya.
Aku menggeleng pelan, saat Vito menyodorkan sendoknya ke arahku, bermaksud menyuapiku.
"Ayoo sekali" suara Vito memelas, ada nada sedikit memohon disana, aku lemah.
Aku membuka mulutku, memakan makanan yang Vito sodorkan, disuapi.
Vito mengamatiku.
Rasanya.....
Aku mencoba menghaluskan makanan itu dimulutku, meski rasanya tidak cocok dengan lidahku.
Aneh, itulah rasa makanan yang Vito berikan padaku, aku tidak suka.
Namun, aku bersikap biasa dan menelannya, walau aku tau ekspresiku tidak mungkin bisa disembunyikan, Bahwa Aku tidak suka.
Vito pasti tau, bahwa aku tidak suka makanan yang dia berikan. Sangat tidak suka.
Aku meminum jusku, dan dengan susah payah akhirnya, makanan itu masuk kedalam perutku.
"Mau lagi? " dia menawarkan lagi.
"Engga'" jawabku sepontan, membuat Vito tertawa kecil.
"Seharusnya makan lho lebih banyak, biar lho ga sekurus ini" ucap Vito, ada nada hawatir dalam ucapannya.
"iyaaaa,,, cepet makan " jawabku, lalu langsung mengalihkan pembicaraan.
Vito lanjut memakan makanannya dengan lahap seperti biasa, aku melihat Vito makan dengan senangnya.
Aku juga ingin makan selahap itu, tapi tidak bisa, mungkin karna aku terlalu pemilih, entalah.
Entah kenapa perutku tiba tiba terasa tidak enak, seperti teraduk aduk, ingin mual.
"Gue ketoilet dulu" pamitku sambil berdiri, Vito mengangguk.
Aku melangkah menuju toilet yang tidak jauh, aku mempercepat langkahku, saat ku rasakan makanan didalam perutku rasanya sudah ada di kerongkonganku, ingin keluar.
Aku masuk ke toilet wanita, dengan sedikit tergesa gesa.
"Uweekkk uweeekkk... " makanan yang kumakan keluar semua.
Aku keluar, bercermin dan berkumur, lalu merapikan baju dan rambutku sebelum keluar.
" peerrreeekk"
Pintu toilet terbuka, seorang wanita masuk.
"Wah... Lho lagi kencan ya?? Hebat ya lhoo.. udah mau ditunangin masih aja kencan sama cowok lain, kalau keluarga briyan tau pasti risih sama lho"
Aku menoleh pada sumber suara yang sedang mengoceh, itu yuri, yaa.. siapa lagi kalau bukan dia.
Dia berdiri didepanku dengan angkuh dan sombong seperti biasa, sambil memainkan hpnya, sok tidak perduli dan tidak melihatku.
"Lho mau apa? " tanyaku sebal.
Dia menatap, tersenyum licik.
"Gue ga butuh apa apa dari lho, gue cuma mau ngasih foto ini ke oma biar oma tau kalau lho itu bandel, dan ga mau dengerin apa kata oma"
Yuri memperlihatkan fotoku dan Vito yang sedang duduk tadi, wajahku terlihat jelas, sedangkan vito tidak, itu karna posisi yuri memotret ada di belakang Vito.
Yuri menggeser layar hpnya lagi.
Terlihat jelas sosokku yang disuapi seorang lelaki.
Yuri menyimpan hpnya.
"Gimana!?? Gue fotografer hebat bukan? Oma pasti suka! " senyum bangganya mengembang, seolah dia telah menang.
Namun, Entah kenapa aku tidak perduli, mungkin karna Vito bukan laki laki miskin, dia dari keluarga hebat, aku tau itu, walau aku tidak pernah bertanya padanya.
Aku tau dari gaya hidupnya yang ku amati selama ini.
nenek pasti tidak masalah dengan hubunganku dengan Vito jika dia tau Vito anak orang kaya.
Aku melangkah maju, mendekat pada yuri dan berkata dengan pelan seperti berbisik.
"Kalau gitu, lapor aja sama oma, gue ga takut, karna cowok yang gue pacarin bukan gembel kaya cowok yang sering lho bawa sopping di mall.
cowok gue mampu bayarin gue makan enak, ketempat mahal dan belanja sepuasnya, bukan kaya lho, yang harus bayarin cowok ini dan cowok itu, dasar murahan goblok"
Setelah berkata begitu aku langsung pergi, yuri pasti kesal karna aku malah balik menghinanya, dengan menggunakan kebiasaan buruknya.
Yuri mengejarku, aku tidak perduli.
Yuri marah marah dan mengoceh sampai keluar tanpa malu, hingga akhirnya beberapa pelayan resto menghentikannya.
Saat berhadapan dengan orang jahat, kita harus menjadi jahat.
Karna orang jahat tidak tau arti baik sebelum dijahati...