Heartstrings

Heartstrings
Rasa Penasaran


Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota yang tidak terlalu ramai. Sepanjang perjalanan Rey terus memikirkan Clara. Untuk pertama kalinya dia melihat Clara menangis. Ingin rasanya dia menarik Clara dan membawanya bersembunyi. Tapi langkahnya terhenti, Apa urusannya kalau Clara menangis? Rey paling benci mencampuri urusan orang.


Sudah sejak pagi teman-teman dikelasnya membicarakan mahasiswa baru yang cantik dengan ciri-ciri yang sama dengan Clara. Rey masih berusaha fokus dengan buku dan HP nya.


Lalu saat di kantin Rey melihat Clara berjalan bersama Tania dan dua teman barunya dengan banyak macam pandangan ke arah mereka, beberapa mahasiswa yang duduk disekitar meja Rey pun juga membicarakannya. Rey mulai jengah.


Akhirnya Rey mengirim chat ke Clara menanyakan sampai jam berapa kuliahnya agar mereka bisa cepat pulang. Dia sudah bosan mendengar semua orang membicarakannya. Saat tahu Clara ingin pergi ke mall, Rey berniat mengantar mereka. Ketika sedang menunggu, Rey melihat langkah kaki Clara menuju gedung Kesenian. Rey pun penasaran dan mengikuti Clara. Setelah menunggu beberapa lama dia malah melihat Tania keluar seorang diri. Rey memutuskan masuk ke dalam gedung untuk melihat keadaan Clara. Tapi justru yang di dapatnya adalah pemandangan Clara yang sedang menangis.


Sudah pukul 7 malam ketika Clara tiba di rumah keluarga Anggoro. Kakinya terasa sangat pegal karena harus menemani Tania. Dia sungguh takjub dengan tenaga yang dimiliki Tania.


“ Clara, makan dulu yuk” ujar Kiran yang sedang menyiapkan makanan di atas meja ditemani oleh Bi Surti.


Seperti biasa makan malam kali ini juga selalu ramai, Clara menceritakan hari pertamanya kuliah dengan tersenyum seolah tidak terjadi apapun. Budi dan Kiran lega melihat menantu mereka senang dengan kegiatan kuliahnya.


“ Kemana aja kamu?” tanya Rey ketika mereka sudah ada di kamar


“ pergi service laptop kak”


“ kenapa jam segini baru pulang?”


“ Muter-muter dulu sama Tania”


“ Lain kali kalo pergi sampai malem kabarin biar kakak jemput”


“ Iya kak. Aku juga mau ngomong nih.. Kakak juga kuliah di Universitas S ya?”


“ Memang kenapa?”


“ Kok ngga bilang aku? Aku kaget tau pas liat kakak di kantin sama teme-temen yang dateng ke pesta kita itu”


“ Kamu ngga nanya ngapain aku bilang?”


“ Bodo amat kak” Clara langsung menarik selimutnya menyudahi percakapan dengan Rey. Kalau terus dilanjutkan hanya menjadikan Clara mati kutu kehabisan kata-kata.


Rey hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya yang ngambek. Terbayang lagi wajah Clara saat tadi menangis. Dia sungguh terusik dengan wajah yang basah karena air mata itu. Tampak kesedihan di raut wajah Clara yang selama ini tidak pernah ditunjukkan di depan kedua orang tua mereka.


Saat malam masih menyelimuti, Rey meraba-raba sisi tempat tidur lainnya dan menyadari bahwa tempat itu kosong. Clara tidak ada disana. Rey terbangun melihat-lihat sekitar dan mendapati Clara sedang berdiri di balkon kamar. Dari samping Rey bisa melihat wajah clara sedang menatap langit malam yang saat itu tidak ada bintang.


“ Kenapa?” Rey menghampiri Clara lalu memeluknya dari belakang


“ Kak...” Clara hendak berbalik menghadap Rey namun dicegah. Sebenarnya Rey malu melakukan hal ini. Dia juga tidak mengerti kenapa tubuhnya bergerak lebih dulu dari otaknya.


“ Aku pengen peluk kamu sebentar”


“ Aku ganggu kakak tidur ya?”


Mereka terdiam memandang langit malam tanpa ada suara. Cukup tenang..


“ Kamu kenapa kebangun ?”


“ Tadi aku ke toilet, terus langsung ngga bisa tidur lagi. Jadi aku keluar aja takut bangunin kakak kalau aku ada di tempat tidur”


“ Clara, apa kamu tertekan dengan pernikahan ini?”


Clara terdiam sebentar lalu menggelengkan kepalanya. Clara tidak pernah menyesal menikah dengan Rey. Selain karena itu adalah permintaan orang tuanya, tapi karena Rey juga sangat baik padanya. Ya keluarga Anggoro sudah baik padanya.


Ada perasaan lega yang Rey rasakan ketika dia tahu Clara tidak tertekan menikah dengannya. Tidak tertekan belum tentu bahagia.


“ Lalu apa kamu.....” belum sempat Rey menyelesaikan kalimatnya, Clara berbalik menghadapnya.


“ Sudah kubilang aku mau peluk kamu dari belakang, kenapa menghadap kesini?”


“ Kakak maluu yaa?” goda Clara


Saat tadi dipeluk oleh Rey, dia merasa ada perasaan tenang dan nyaman dalam hatinya. Clara memandang wajah suami tampannya lalu memeluknya.


“ Ada apa ini? Sekarang kamu juga senang ya peluk kakak?”


Sontak saat Clara mau melepas pelukannya, Rey berbisik di telinganya


“ Aku akan membuatmu bahagia”


Clara terpaku dalam pelukan Rey mencerna kembali apa yang baru saja dikatakan suaminya. Sedangkan Rey kembali mengutuk dirinya karena mulutnya mengucapkan hal memalukan itu.


“ Makasih kak..” ucap Clara pelan


Setelah berpelukan cukup lama atau setelah Rey sudah bisa mengatur kembali perasaannya mereka berjalan ke tempat tidur. Tidak butuh waktu lama Clara sudah kembali terlelap padahal tadi dia masih belum mau tidur dan masih mau menatap langit malam.


Dikecupnya kening Clara lalu dibawa kedalam dekapannya.


Siapa kamu sebenarnya hingga bisa mengalihkan perhatianku?


Aku ingin jadi sumber bahagiamu..


Aku ingin jadi satu-satunya pria yang memelukmu..


Aku akan melakukan apapun agar kamu bahagia..-Rey


 Sebelum Rey menutup matanya, dikecup lagi kening istrinya. Lalu mereka berdua tertidur dengan saling berpelukan.