
Rey terbangun karena merasakan sakit dikepalanya lalu dia bangun dan menyenderkan badanya ke kepala tempat tidur. Rey melihat sisi kanan tempat tidur masih kosong, mengedarkan pandangannya tapi tetap tidak menemukan sosok Clara. Rey melirik ke arah jam dinding, baru menunjukkan pukul 2 pagi. Lalu Rey berjalan ke arah balkon pun tidak dijumpai sosok yang dicari.
Rey terduduk di sofa berusaha mengingat-ingat kejadian kemarin
Clara..
Kalau aku tidak bisa membuatmu mencintaiku
Maka aku akan memaksamu tinggal disisiku selamanya..
Cuma ada satu cara agar kamu tinggal disisiku
Kamu harus segera hamil.
Tidak peduli kalau kamu membenciku..
Bencilah aku dan takdir yang menyatukan kita..-Rey
Rey melihat lampu kamar mandi yang masih menyala, perasaannya mulai tidak enak karena seingatnya dia meninggalkan istrinya disitu. Rey bergegas berlari ke arah kamar mandi dan benar saja begitu pintu dibuka yang terlihat adalah tubuh Clara yang tergeletak tidak sadarkan diri dibawah guyuran air shower.
“ Clara!!” Rey menggendong tubuh Clara keluar kamar mandi lalu membaringkannya diatas tempat tidur. Dilihatnya wajah Clara yang pucat serta dingin. Entah sudah berapa lama Clara pingsan di dalam sana.
Rey mulai panik, segera turun kebawah sambil berteriak memanggil nama Bi Surti.
“ Ada apa den?”
“ Bi tolong telepon dokter Indra agar segera kesini ya”
“ Siapa sakit den?”
Belum sempat dijawab, Rey sudah berlari lagi ke atas menuju kamarnya. Ketika hendak mengganti baju Clara, dilihatnya tanda merah, bekas gigitan bertebaran di dada, leher bahkan pundak Clara.
Shitt!! Setan apa yang merasukinya sampai berbuat seperti ini. Dia menjadikan Clara sebagai pelampiasan amarah dan rasa cemburunya itu dengan cara yang brutal.
Tidak lama dokter Indra datang dan segera memeriksa kondisi Clara. Rey dan Bi Surti memperhatikan dari belakang dengan cemas.
“ Rey, kita bicara di luar ya”
“ Iya om.. Bi Surti temenin Clara dulu yaa”
Mereka berdua keluar dari kamar “ Sebenarnya apa yang terjadi Rey? Istrimu itu demam tinggi lho”
“ Rey berantem sama Clara di kamar mandi om. Trus Rey pergi keluar tinggalin dia didalem”
Om Indra membuang nafas dengan halus “ Om nggak akan tanya penyebab kalian berantem, tapi kamu nggak bisa melampiaskan ke istrimu seperti itu Rey. Kasihan dia masih berumur 18 tahun”
“ Om selalu percaya kamu bisa menyelesaikan masalah apapun dengan kepala dingin. Kali ini juga om harapkan seperti itu Rey”
“ Iya om..Makasih ya dan maaf sudah mengganggu waktu tidur om Indra”
“ Sudah kamu kembali ke kamar jagain istrimu. Nggak perlu antar om”
Rey kembali ke kamarnya dan menyuruh Bi Surti untuk kembali istirahat. Dielusnya kepala istrinya yang terbaring lemah.
“ Maaf...” ucap Rey lirih yang menyesali perbuatannya sambil kedua tangannya memegang tangan Clara.
Clara mengejapkan matanya memperhatikan sekitarnya dan bertanya-tanya kenapa dia sudah ada di tempat tidur. Seingatnya dia sedang menangis di kamar mandi dan.... Clara kaget pakainnya pun sudah diganti. Clara berusaha bangun dan memposisikan dirinya bersandar di kepala tempat tidur. Clara mengalihkan pandangannya dan mendapati sosok Rey yang tertidur pulas di sampingnya. Masih kesal dengan perbuatan Rey semalam, Clara berdiri hendak keluar kamar. Namun belum sempat melangkah, kepalanya terasa pusing hingga akhirnya dia terjatuh membuat Rey kaget terbangun dan segera menghampirinya.
“ Kamu nggak apa-apa?”
Clara memalingkan wajahnya. Rey tahu kalau Clara masih marah akibat perbuatannya semalam. Dibaringkannya setengah duduk tubuh Clara yang masih lemah ke atas tempat tidur kemudian Rey ke kamar mandi dan keluar membawa baskom berisi air hangat dan handuk.
Diraih tangan Clara agar Rey bisa membersihkannya. Clara menatap Rey yang sedang membersihkannya dengan hati-hati dalam diam. Clara menarik tangannya namun segera diraih kembali oleh Rey.
“ Kenapa? Apa kakak sedang mengasihaniku?”
Clara sudah tidak bisa menahan kesedihannya lagi lalu menghempas tangan Rey “ Sudah kubilang aku tidak perlu rasa kasihan dari kakak!”
Detik itu juga Rey langsung memeluk tubuh Clara, “ Lepas!! Lepaskan aku!!” namun Clara meronta, memukul dan menggigit bahu Rey. Lama-lama pukul Clara semakin lemah karena kehabisan tenaga.
“ Bukan karena kasihan..aku.....”
“ Kenapa kakak berbuat seperti itu? Apa aku nggak berharga dimatamu?”
“ Aku minta maaf Clara.. Maafkan aku..” Rey mempererat pelukannya “ Aku mencintaimu Clara”
Deg!! Clara sempat mempertanyakan apa pendengarannya bermasalah ataukah dia yang sedang berkhayal?
" Aku mencintaimu..sangat mencintaimu Clara" Kali ini dapat dipastikan kalau Clara tidak sedang berkhayal ataupun mengalami gangguan pendengaran.
Laki-laki yang dingin dan cuek ini akhirnya menyatakan perasaannya. Clara senang dengan pernyataan cinta Rey tapi juga bingung. Baru kemarin Rey melakukan hal yang menyakitinya, sekarang dia menyatakan cintanya.
Namun kaarena perasaan senangnya terlalu besar, Clara akhirnya menangis dalam pelukan Rey. Memukul-mukul pundak Rey dengan sangat kencang.
Rey pun senang karena Clara bisa menangis di depannya.
Setelah hal buruk yang Rey lakukan kepada Clara, tidak sekalipun mampu membuat Clara menangis dan itu membuat Rey frustasi mempertanyakan seberapa besar pengaruh dirinya dalam hidup Clara.