
Asha pun mengikuti Fadli yang ternyata hendak menuju wisata danau yang tidak jauh dari sana.
"Ngapain ke sini?" Tanya Asha begitu mereka sampai dan memarkirkan motor
"Lo ngapain ngikutin gue?"
"Gak kenapa kenapa, lagi pula gue bosen di rumah"
"Udah lama gue gak main ke sini" Ucap Fadli ia turun dari motor dan hendak berjalan jalan di tepian danau yang terlihat biru itu. Hari ini cukup ramai, banyak anak anak muda yang menongkrong atau berpacaran.
"Sekarang kursi kursi nya udah di perbanyak ya"
"Kayaknya tempat parkir juga lagi di perluas"
"Kita duduk di situ aja tuh kosong" Asha menunjuk pada satu kursi kayu panjang di bawah pohon
Mereka pun duduk di sana, di temani angin sepoi sepoi dan di suguhi pemandangan air yang biru menyejukkan mata. Di dalam danau tersebut juga terdapat banyak ikan ikan kecil, ada juga yang berukuran sedang, mereka terlihat sehat dan gemuk.
"Bawa pacar enak nih" Ucap Asha
"Kayak punya aja lo"
"Hahaha dasar jomblo"
"Lo kan banyak ceweknya Sa"
"Banyak apaan"
"Iya, gue liat whatsapp lo banyak kontak cewek"
"Bukan siapa siapa itu mah, temen.. temen.."
"Masa?" Fadli tidak percaya
"Iya lah.. "
"Temen apa calon pacar tuh"
"Temen yeeeh di bilangin"
"Punya kali lo satu dua gebetan"
"Ada temen chat.. temen chat doang kalo lagi gabut"
"Ohh gitu.. "
"Lo kali yang banyak cewek"
"Nggak, hp gue aja rusak kan"
"In real life"
"Nggak juga"
"Hahaha bisa aja lo, gue sebenarnya lagi suka sama seseorang"
"Siapa?" Fadli menoleh
"Ada deh.. "
"... " Fadli mengerutkan alis
"Apa?" Asha juga menoleh ke arah Fadli melihat Fadli mengerutkan alis sambil menatapnya penuh curiga, "gue mau beli kopi dulu ah, lo mau gak?"
"Gue minuman aja" Fadli mengalihkan pandangannya, sepertinya Asha juga tidak mau mengatakannya ia memang selalu main rahasia rahasiaan pikirnya.
"Minuman apa?"
"Serah.. "
Entah apa yang Fadli pikirkan saat ini, ia hanya melamun sambil melempari ikan ikan di depannya dengan bebatuan kecil.
Sedangkan Asha berjalan menuju warung, di sana ada 2 warung kecil. Kedua warung tersebut cukup ramai pembeli, Asha memesan 1 kopi memakai gelas plastik dan 1 minuman rasa jeruk.
'Dia? Bukannya peserta paskibra baru?' Asha tidak sengaja menoleh lalu melihat perempuan yang tidak asing tengah bersama beberapa anak laki laki.
Setelah minumannya selesai di buat, Asha pun membayar minuman tersebut lalu segera kembali pada Fadli. Ia memberikan minuman rasa jeruk pada Fadli, tak lupa juga Asha sempat membeli beberapa makanan ringan.
"Berapa?" Tanya Fadli
"Tiga ribu"
"Nih, sini dua ribu"
Asha menerima uang 5000 rupiah dari Fadli, lalu ia memberikan 2000 rupiah pada Fadli.
"Sa, lo suka sama cewek dari apanya?"
"Emm.. Wajahnya.. Sikapnya juga penting. Kenapa tiba-tiba nanya soal itu?"
"Nanya aja"
"Menurut gue sih gak cantik cantik banget juga gak masalah yang penting sikapnya, tapi apalagi kalo cantik beuhhh udah itu mah... "
"... " Entah Fadli sedang memikirkan apa dia hanya diam mendengarkan ucapan Asha
"Nggak, gue cuma nanya aja"
"Lo suka sama siapa? Temen sekelas?"
"Nggak"
"Akhir akhir ini gue liat lo makin nempel aja sama si Aya, ada apa?"
"Gak ada apa-apa, gue cuma ngobrolin tugas" Tugas mendekati Najwa maksudnya
"Masa?"
"Iya, tanya aja ke orangnya"
"Lo gak suka sama si Aya?"
"... Nggak"
"Ohh terus sama siapa?"
"Ada deh.. Lo juga gak mau bilang suka sama siapa"
"Tuh kan bener lo lagi suka sama cewek, pake bohong segala. Gue gak perlu tau siapa cewek yang lo suka, tapi ini lo bingung kenapa?"
"Menurut lo gue salah gak kalo gue suka sama cewek karena cewek itu cantik, gue gak tau sikap aslinya dia kayak gimana"
"Emm.. Gak salah sihh pada dasarnya semua orang beda beda pendapat, tapi lo kalo... misal nih ya misal, lo tau kan sikap si Yuli gimana? Karena sikapnya yang kayak gitu lo jadi gak suka sama dia kan? Nah gimana jadinya kalo si Yuli cantik? Kalo dia tiba-tiba jadi cantik banget, apa lo bakal suka?"
"...iya juga.. Tapi sikapnya kan bisa kita ubah pelan pelan?"
"Iya, tapi gak semua orang bisa berubah kayak yang lo mau. Cintai mereka apa adanya"
"Gak salah juga kali, kalo tujuan kita emang mau ngerubah dia jadi orang yang lebih baik, kan?"
"Tapi kalo lo ngutamain fisik, fisik kan bisa berubah juga, semua orang bakal tua kalo udah tua keriput cakepnya ilang"
"Tapi-"
"Iya iya dah serah lo, kalo udah terlanjur suka sih emang susah"
Fadli menghelakan napas
"Jadi siapa cewek yang lo suka?"
"Ada deh.. "
"Dasar... "
Mereka tidak lagi mengobrol, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Mungkin Asha sedang merasa tenang apalagi berada di tempat yang menyejukan, tapi berbeda bagi Fadli. Tempat yang tenang tidak membuat pikirannya tenang.
Cukup lama mereka duduk di sana, hingga pukul 13.00 barulah mereka pulang, sudah waktunya sholat dzuhur juga. Mereka pun bangkit meninggalkan gelas plastik dan sampah makanan mereka di sana, menuju tempat parkir.
"Lo mau langsung pulang?" Tanya Asha
"Iya"
"Ikut gak ke rumah si Firman, katanya lagi nangkepin ikan"
"... "
"Woi?!" Asha melihat Fadli yang terdiam padahal ia sudah menaiki motornya tapi kenapa ia melamun?
Asha pun turun dari motornya dan menghampiri Fadli, terlihat Fadli tengah menatap ke satu arah dengan serius
"Liatin apa sih?" Asha mengikuti arah pandang mata Fadli, dan tertuju pada sekumpulan anak di warung yang ia beli kopi tadi. "Oh itu cewek yang ikut paskibra bareng kita kan? Gue lupa namanya"
"... " Fadli masih tidak merespon Asha, sepertinya ia tidak mendengar suara Asha sama sekali karena saking fokusnya
"Ni anak kenapa sih, heran gue. Ngapain lo liatin mereka serius gitu? Aneh... Woi anj***" Asha menyenggol bahu Fadli cukup keras hingga berhasil membuat Fadli tersadar
"Kenapa?" Fadli terlihat kesal ia mengerutkan alis menatap Asha
"Lo ngapain liatin mereka t*l*l"
"Gak kenapa kenapa"
"Itu cewek yang ikut paskibra bareng kita kan? Siapa sih namanya gue lupa? Dia cantik ya, tapi kok main sama cowok apalagi sama si Gilang itu"
"... Dia si Najwa.. "
"Ohh.. Ayo katanya mau pulang"
"... " Kenapa dia sama cowok cowok itu? Fadli masih saja penasaran dan rasanya tidak ingin melepaskan pandangannya
"Lo mau ikut gak ke rumah si Firman?"
"... "
"Ampun dah tu anak, udahlah gue duluan aja" Asha tidak mempedulikan Fadli, ia segera menghidupkan motornya dan pergi dari sana.
Fadli benar-benar lupa pada Asha, ia bahkan tidak menyadari Asha telah meninggalkan nya.