
“ Kak, makan siangnya sudah siap.”
“ Hmmm..”
Sudah tiga hari Budi dan Kiran pergi untuk urusan pekerjaan sehingga Clara bisa membantu Bi Surti untuk menyiapkan makanan. Clara banyak belajar mulai dari cara memotong ayam, membersihkan sayuran maupun memasak. Tiga hari ini pula Bi Surti terhibur dengan tingkah lucu Clara seperti salah satunya saat merebus telur. Saat itu Clara memasukan telur ke dalam panci yang berisi air mendidih sehingga membuat telur-telur itu pecah. Tentu saja Bi Surti terkejut namun selanjutnya malah tertawa karena melihat wajah Clara yang bingung.
“ Kak, habis makan aku mau ke supermarket beli shampoo sama sabun”
“ Hmm..nanti aku antar..”
“ Nggak usah kak. Nanti aku sama Pak Ujang aja”
“ Nanti aku antar” ada penekanan dalam ucapan Rey yang menandakan dirinya tidak suka dibantah membuat Clara diam.
Selesai makan mereka langsung menuju supermarket di salah satu mall terdekat. Rey berjalan di depan sambil mendorong troly sedangkan Clara sibuk lihat kanan kirinya mencari barang-barang yang dia butuhkan.
Cukup lama Rey menemani Clara, mulai yang tadinya hanya belanja di supermarket lalu dilanjutkan menuju beberapa counter yang Rey tahu itu adalah tempat kosmetik. Rasanya Rey ingin pulang meninggalkan belanjaannya disitu karena sudah merasa lelah dan bosan Niat itu diurungkannya karena melihat bagaimana para laki-laki itu menatap istrinya dengan tatapan yang terpesona. Sedangkan yang menjadi objek tatapan terlihat biasa saja tidak merasa terganggu.
Puas belanja mereka langsung bergegas pulang. Sebenarnya Clara ingin mengajak Rey untuk jalan-jalan lagi tapi melihat tampang Rey yang sudah bosan niat itu tidak dia katakan
“ Kakak mau makan apa nanti malam?”
“ Aku sudah bilang Bi Surti tidak perlu masak, nanti kita delivery order aja”
“ Masakan aku nggak enak ya kak?”
“ Enak”
“ Jujur saja kak. Aku nggak akan marah”
Rey tiba-tiba memberhentikan mobilnya di bahu jalan dan mendekatkan wajahnya ke wajah Clara
“ Istriku yang memasak mana mungkin ngga enak”
“ B..baik kak. Bisa kan kita ngobrolnya dengan cara yang normal?” berusaha mendorong dada Rey agar menjauh darinya.
“ Ini normal kok. Bahasaku kamu ngerti kan?” semakin mendekat
“ Maksud..maksudku ja..jangan dekat seperti ini” berusaha mendorong lagi
“ Kita suami istri wajar dong berdekatan. Malah aku bisa lebih dekat lagi dari ini” Rey mendekatkan wajahnya seolah-olah akan mencium Clara. Clara yang tidak bisa menghindar lagi hanya bisa menutup mata. Tuhan dia masih belum siap kalau Rey menciumnya.
“ Kenapa kamu tutup mata? Kamu kira aku akan menciummu?”
“ Kakak!!” Wajah Clara sudah merah padam akibat malu. Entah dia harus merasa senang atau marah atas kejadian ini. Clara melihat Rey yang sedang tertawa bahagia karena berhasil membuat dirinya salah tingkah.
Lalu kini gantian Clara yang tiba-tiba memajukan wajahnya kepada Rey. Melingkarkan tangannya dipundak Rey, semakin mendekat dan mendekat hingga Rey langsung menutup matanya.
“ Kakak, aku lapar” bisik Clara dengan lembut di telinga Rey. Gelak tawa keluar dari mulut manis Clara hingga dia memegangi perutnya yang terasa nyeri. Dia tidak menyangka bahwa Rey akan jatuh ke perangkapnya juga.
Namun dengan cepat Rey menarik tangan Clara dan mengecup bibir manis itu. Clara terdiam dan terpaku. Kejadian itu secepat kilat namun dia masih bisa merasakan lembutnya bibir Rey.
Hatinya bergejolak, dia memang sudah menerima Rey menjadi suaminya tapi untuk ciuman dia masih belum siap.
Clara membuka pintu mobil dan berlari ke arah taman kota. Rey mengejarnya dan menangkap pergelangan tangan Clara
“ Mau kemana kamu?”
“ Aku mau jalan-jalan di taman dulu kak”
“ Kakak temenin”
“ Nggak usah. Aku cuma sebentar kok.”
“ Pokoknya kakak temenin”
“ Kak, aku cuma pengen jalan-jalan. Lagian ini masih sore” melepaskan tangannya dan berjalan menjauhi Rey.
Rey berjalan kembali masuk ke dalam mobilnya menyesali apa yang tadi sudah dia lakukan.
“ Sialll!!!” gerutu Rey sambil memukul stir mobil
“ Kenapa gue bisa kelepasan gini sih?” Rey melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Tiba di rumah dia melihat dua sahabatnya sedang menunggu di ruang tamu. Rey memberikan belanjaan Clara ke Bi Surti dan menyuruhnya bawa ke kamar mereka.
“ Bro, kemana aja lo dari tadi gue ama Dave nungguin ampe keriput nih”
“ Belanja”
“ Hah? Belanja apaan lo?”
“ Keperluannya Clara” Rey menyandarkan badannya ke sofa sambil memijat-mijat keningnya
“ Kenapa lo?”
Rey membuang nafasnya dengan kasar
“ Gue bikin Clara sedih”
“ Lo apain anak orang?”
“ Gue cium”
“ Wajarlah Rey, dia kan istri lo. Kalo gue jadi lo sih nggak akan tahan cuma dapet cium doang” ujar Alex yang memang kalo bicara tidak pernah difilter ataupun dipikir panjang akibat dari ucapannya
“ Memang sih Rey dia istri lo, tapi lo juga harus inget umurnya itu masih muda. Lo nggak bisa main nyosor cium dia” Dave lebih bijaksana saat merespon cerita Rey “ Dari pertama gue liat Clara juga keliatan kali kalo dia masih polos. Masa lo sendiri nggak tau?”
“ Gue tau, Dave. Justru karena gue tau sekarang gue merasa bersalah”
“ Yaudah sekarang Claranya mana?”
“ Pergi”
“ Pergi kemana? Jangan bilang lo nggak nyusulin dia?”
“ Gue udah susulin dia, tapi dia bilang mau jalan-jalan sendiri” Rey mengacak-acak rambutnya “ Pusing gue!!”
Rey mengambil kunci mobilnya beranjak dari sofa.
“ Gue jemput dia dulu deh. Lo pada kalau mau ambil PS ambil aja. Habis itu langsung pada pulang lo sana!”
Alex dan Dave menggelengkan kepala melihat mobil Rey yang sudah pergi meninggalkan rumah.
“ Calon bucin tuh dave temen kita”
Taman Kota
***
Clara duduk disalah satu bangku taman memandang suasana sore yang terasa menyenangkan. Dia memikirkan kembali kejadian di mobil dan menyadari harusnya dia tidak menghindar dari Rey.
Terlepas dari kesepakatan mereka, Rey tetaplah suaminya yang harus dia layani. Namun dia merasa dirinya bukan wanita murahan yang bisa disentuh tanpa ada sebuah rasa cinta. Dalam pernikahan mereka, rasa cinta itu tidak akan pernah hadir karena saat dia beranjak dewasa maka Rey akan menceraikannya.
Hati Clara terasa sakit mengingat suatu hari nanti dia akan bercerai dengan Rey. Perceraian dengan Rey akan menjadi sebuah masalah baru dalam hidupnya. Entah berapa bayak orang yang akan kecewa dengan perceraian ini, lalu siapa yang akan percaya bahwa jika dia masih tetap seorang perawan walau sudah bercerai?
Tiba-tiba Clara merasakan ada sesuatu yang dingin di pipi kirinya. Saat menoleh dia melihat Samuel menyodorkan es krim pada dirinya.
“ Kak Muel, kok ada disini?”
“ Lagi foto-foto aja. Terus ngeliat kamu disini” jawab Samuel sambil menaruh jaket ke paha Clara yang terkekspos. Clara sendiri bahkan sudah lupa kalau tadi dia meninggalkan mobil Rey dengan menggunakan celana pendek.
“ Kakak foto apa aja?”
“ Sunset..” Jawaban yang menyakiti hati Clara.
Ya dulu sebelum mereka berpisah, Samuel pernah berjanji akan mengajak Clara keliling dunia untuk mencari sunset yang paling indah. Tapi janji kini tinggal janji, karena gadis itu sudah menjadi milik orang lain.
“ Lain kali jangan ke taman sendirian. Dimana suamimu?”
Rasanya ingin tertawa mendengar panggilan itu. Apa yang harus dia katakan kepada Samuel tentang pernikahannya?
Clara terdiam dan menundukan kepalanya. Dia tidak bisa menjelaskan semua perasaanya itu kepada Samuel. Dadanya sesak, matanya berbayang akibat air mata yang sudah berkumpul dan siap terjun bebas.
“ Hei..” Samuel berjongkok di hadapan Clara dan memegang dagunya “ semua akan baik-baik aja”
“ Kak Muel..” air mata itu akhirnya tumpah mengalir dengan deras membasahi pipi.
Kesedihan itu yang bisa dirasakan Samuel dari sorot mata Clara.
Ara..
Andai waktu bisa kembali ke masa-masa sekolah dulu..
Aku tidak akan pernah meninggalkanmu..
Aku menyesal telah meninggalkanmu..- Samuel
“ Berhentilah menangis. Ingatlah bahwa semua orang tetap akan menyayangimu” diusapnya airmata Clara dengan tangannya
“ Sudah selesai mesra-mesraannya?”
Rey tiba-tiba muncul lalu menarik tangan Clara sehingga dia juga ikut berdiri. Kemudian Rey melepaskan jaketnya dan mengikatnya ke pinggang Clara.
“ Pulang” Rey menatap Clara dengan sangat dingin hingga Clara pun tidak bisa berkata tidak
“ Kak, sakit.. lepasin tangan aku” Clara meronta berusaha melepaskan tangannya. Rey tidak peduli dan menarik Clara untuk ikut pulang dengannya.
Langkah Clara terhenti ketika Samuel juga menarik tangan Clara yang satu lagi.
“ Lo nyakitin dia”
“ Lepasin tangan lo dari tangan istri gue!” teriak Rey. Wajah Rey memerah menahan amarah sejak tadi melihat Samuel berjongkok di hadapan Clara, urat-uratnya mulai terlihat dari rahangnya.
“ Lo jangan kasar sama dia”
“ Dia istri gue. Lo nggak ada hak buat ngatur gimana cara gue memperlakukan istri gue” dengan tangan satu lagi rey menarik kaos Samuel.
“ Kak Muel, nggak apa-apa.. Aku akan pulang sama Kak Rey”
“ Kak Rey, ayo kita pulang”
Rey melepas genggaman baju Samuel dan menarik Clara pulang. Kali ini Samuel tidak bisa berbuat apa-apa. Dia merasa tidak bisa melindungi Clara.