
Long Story
***
Budi dan Santoso pertama kali bertemu saat usia 10 tahun di sebuah panti asuhan. Saat itu Budi baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Keluarga dekatnya tidak ada yang mau mengasuhnya, menganggap bahwa dia hanya anak pembawa sial bagi keluarga besar Anggoro. Penolakan dari keluarga besarnya membuat Budi menjadi anak yang pendiam dan tidak percaya diri.
Namun sejak bertemu dengan Santoso, perlahan Budi sudah bisa membuka hatinya. Santoso membawa cahaya dalam gelapnya kehidupan yang dia jalani. Ada sebuah ikatan yang tidak terlihat anatara Budi dan Santoso, ikatan yang lebih kuat dari pada hubungan darah.
Masuk bangku kuliah, Kakek Budi datang ke panti asuhan untuk membawanya kembali ke keluarga Anggoro. Terjadi pergolakkan antar sesama keluarga untuk merebut kursi panas sebagai pemimpin tertinggi Anggoro Corporate.
Budi bersedia kembali ke keluarga Anggoro dengan syarat Santoso harus ikut bersamanya.
Dari situlah Budi dan Santoso dikenal dalam kalangan pebisnis sebagai golden and silver man. Dimana ada Budi disitu sudah pasti berdiri Santoso juga. Tangan besi Budi dan Santoso mampu membuat Anggoro Corporate menduduki posisi 5 besar perusahaan tersukses se Asia.
Mereka berdua berhasil membungkam mulut-mulut orang licik itu. Sudah menjadi rahasia umum kalau apa yang diucapkan Santoso sama dengan keputusan Budi selaku pimpinan di Anggoro Corporate. Santoso sudah menjadi tangan kanannya baik itu untuk urusan perusahaan, keluarga besar Anggoro ataupun masalah percintaan.
Pertemuan Budi dan Kiran juga atas campur tangan Santoso. Tidak seperti keluarga kaya pada umumnya, perjodohan antara Budi dan Kiran sendiri memang didasari sebuah cinta. Dihari pernikahannya, Budi berjanji pada Santoso akan menikahkan anaknya dengan anak Santoso. Dia ingin menjadikan Santoso sebagai bagian keluarga Anggoro, tidak ingin kehilangan orang yang berarti baginya itu.
***
Malam itu suasana di kamar Clara sangat hening. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11, namun Calara belum merasa mengantuk. Dia masih duduk diatas sofa sambil menontonacara TV yang bahkan dia sendiri pun tidak tahu itu acara apa. Pikirannya masih melayang jauh.
Tok!Tok!Tok!
“ Ara, boleh kakak masuk? “
“ Masuk kak, pintunya ngga dikunci kok”
Sosok Ryan anak kandung Susan dan Haris muncul dari balik pintu. Selesai makan malam tadi Ryan dipanggil Haris ke ruang kerja untuk membahas pernikahan Clara dan Rey. Ryan sendiri cukup terkejut dengan berita itu dan juga keputusan orang tuanya yang menyetujui perjodohan itu. Namun setelah mendengar cerita dibalik berita perjodohan itu, dia hanya bisa menghela nafas panjang sembari membayangkan adik yang dia sayangi itu justru harus menikah duluan dengan orang yang belum dikenalnya.
“ Sini kak, duduk sama aku” Clara menepuk sofa disebelahnya yang kosong “ Kakak mau aku ambilin cemilan atau minum ngga ?”
“ Ciiyeee.. mau nikah. Kamu ngelangkahin kakak nih “ Ryan memegang kedua pipi adiknya lalu merapatkan sehingga wajah Clara terlihat lucu di matanya. Saling menggelitik dan perang bantal akhirnya dilakukan mereka berdua. Ryan berusahan menghibur adik kecilnya itu. Berharap dapat mengurangi setidaknya sedikit kesedihan yang tersimpan di hati Clara.
“ Makanya kakak cari pacar dong. Kasian kan mommy tiap hari mikirin kakak terus yang masih jomblo”
“ Mentang-mentang mau nikah sekarang udah sombong ya” mencubit gemas pipi Clara
“ Tipe kakak yang kaya gimana nanti aku cariin deh “
“ Nggak mau! Masa kakak pacaran sama bocah seumuran kamu?”
“ Yaa nanti aku minta kenalin ke kakaknya temen-temen aku lah” Clara membalas mencubit pipi kakaknya
“ Nggak usah.. Mending kakak cari sendiri dari pada ngandelin kamu” Ryan beranjak dari sofa pamit untuk kembali ke kamarnya. Clara ikut berdiri ikut mengantar kakaknya sampai batas pintu kamarnya.
“ Tidurlah..uda malem” Ryan kembali mengelus kepala Clara. Clara merasa nyaman dan kesedihannya berkurang setelah bertemu kakaknya. Clara mengangguk sebelum dia menutup pintu kamar dan berjalan ke arah tempat tidurnya.
Makasih kak Ryan udah ngehibur aku..-Clara
Ryan sudah kembali ke kamarnya. Selesai mengganti baju dia berjalan menuju jendela kamarnya. Menatap langit malam yang terasa sepi tanpa adanya bintang. Di kepalanya terbayang wajah Clara yang tersenyum, terngiang juga suara Clara yang selalu memanggilnya Kak Ryan.
Tersenyumlah my little princess..
Doaku semoga kamu bahagia tanpa ada airmata..
Semoga laki-laki itu tidak akan pernah melukai hatimu..
You always be my little princess..- Ryan