
Rey tiba di salah satu club malam terbesar di kota. Sebenarnya dia jarang sekali datang ke tempat seperti ini selain karena urusan bisnis, tapi kali ini hatinya sedang panas dan amarahnya pun butuh tempat untuk disalurkan.
Rey masuk ke salah satu VIP room yang sudah disewa oleh Alex. Rey melempar dirinya dengan kasar disalah satu sofa dan langsung menenggak segelas wine.
“ Lo kenapa Rey?” Alex dan Dave sangat bingung dengan kelakuan temannya yang tiba-tiba mengajak bertemu di club malam. Padahal sebelumnya Rey terlihat antusias saat mau mejemput Clara.
Tidak ada jawaban dari Rey, dia masih terus menuangkan wine ke gelas dan meminumnya lagi.
“ Woi kalem bro.. Lo cerita dulu, jangan kaya gini” Alex menahan tangan Rey untuk minum wine
“ Siallll!!”
Prang!! Suara gelas yang pecah akibat lemparan Rey
“ Lo kenapa woi, jangan kaya gini” Alex dan Dave mulai panik. Rey yang biasanya selalu tenang saat menyelesaikan masalah kini berubah menjadi tidak terkontrol.
“ Gue ngeliat Clara pelukan sama Samuel”
“ Dimana?”
“ Tadi di sekolahnya Clara. Mereka pelukan di depan semua orang. Shitt!!”
Rey mengacak-acak rambutnya. Pikirannya sudah dikuasai dengan amarah yang tidak tertahankan. Apalagi kalau mengingat bagaimana semua orang disitu kompak memberi restu kepada mereka tanpa tahu status Clara. Ya memang tidak ada yang tahu Rey.
“ Lo berdua tau mereka itu pasangan melegenda di sekolahnya. Bahkan tadi Samuel nyanyi buat Clara. Clara itu istri gue!!”
“Lo tau gimana Clara manggil cowok itu? Kak Muel.. Cuma Clara yang bisa manggil dia seperti itu” Rey mengingat-ingat kembali apa yang sudah dia dengar dari anak-anak SMA yang berkumpul disitu, bahkan para guru pun mengetahui hubungan mereka.
Rey tertawa seolah menertawakan kebodohannya selama ini. Bagaimana bisa dia ditipu oleh seorang bocah ingusan itu? Setelah apa yang Rey lakukan selama ini nyatanya tidak bisa membuat Clara berpaling dari laki-laki itu.
“ Waktu Samuel mau peluk dia, nggak ada tanda-tanda penolakan. Tapi giliran gue cium, dia langsung kabur turun dari mobil!”
Alex dan Dave tidak bersuara sedikitpun dan hanya mendengar setiap keluhan Rey yang mulai mabok. Kedua sahabatnya ini yakin kalau Rey sudah benar-benar jatuh cinta sejatuh-jatuhnya secinta-cintanya kepada Clara
Sudah 2 jam Clara menunggu seorang diri di depan gerbang sekolah namun belum ada tanda-tanda Rey akan datang menjemputnya. Berulang kali dia mencoba menghubungi Rey namu selalu dijawab oleh operator telepon.
Karena langit sudah mau gelap akhirnya Clara terpaksa pulang naik taksi. Dia sudah menebak kalau Rey pasti lupa menjemputnya. Kak Rey pembohong!, teriak Clara dalam hati.
Tiba di rumah keluarga Anggoro langit sudah gelap. Kemacetan ibu kota semakin memperpanjang waktu yang harus ditempuh Clara untuk sampai rumah.
Begitu masuk rumah Clara sudah di sambut oleh Bi Surti.
“ Bi, Kak Rey ada di rumah?”
“ Anu non... mmm.. Den Rey tadi diantar temannya pulang dalam kondisi mabok”
“ Hah? Terus sekarang dia dimana bi?”
“ Ada di kamar non. Bibi juga bingung kenapa den Rey bisa sampai mabok. Den Rey itu nggak pernah mabok -mabokan. Kalo Tuan dan Nyonya tau bisa panjang urusannya non”
Clara segera berjalan menuju kamarnya. Sampai di dalam kamar dia melihat Rey yang tertidur di atas tempat tidur masih dengan pakaian yang sama saat dia keluar tadi pagi.
“ Kak, bangun. Kamu ganti baju dulu” Clara mengguncang-guncangkan tubuh Rey namun tidak ada respon sedikitpun. Melihat tubuh Rey yang berantakan, Clara segera ke kamar mandi dan hendak menyiapkan baskom untuk air hangat serta handuk bersih
Brakk!! Tiba-tiba pintu kamar mandi di dobrak oleh Rey yang memang sengaja tidak Clara kunci tadi.
Clara melihat mata dan wajah Rey yang memerah juga bau alkohol yang menyengat. Merasa situasi akan berjalan tidak baik Clara hendak kabur dari situ namun tangannya ditarik Rey dan tubuhnya disandarkan ke tembok.
Kemudian Rey menyalakan shower sehingga membasahi tubuh mereka. Clara menutup dadanya dengan kedua tangannya.
“ Kak Rey...”
“ Apa yang dulu kukatakan kurang jelas? Sepertinya kamu sedang bermain api denganku” Rey mencium Clara dengan kasar. Dengan rakus Rey ******* ******* bibir Clara kemudian menggigitnya hingga lidah Rey masuk dan bermain dengan lidah Clara. Kali ini dibiarkannya hasratnya mengambil alih jalan pikirannya. Rey menuntut lebih dari sebuah ciuman saja. Tangan Rey memegang dengan kuat kedua tangan Clara dan satu tangannya lagi sudah berada di dada Clara dan meremasnya dengan kuat. Rey semakin menekan tubuhnya hingga tak ada lagi jarak antara dia dan Clara.
Ciuman itu berhenti ketika Clara sudah hampir kehabisan nafas.
“ Kenapa? Apa kamu tidak mau melayani suamimu? Lihat dirimu bahkan untuk mendapatkan sebuah ciuman saja aku harus memaksamu seperti ini tapi kamu dengan mudahnya menerima pelukan dari laki-laki lain tanpa ada penolakan sedikitpun!”
Kini Clara tahu apa penyebab Rey seperti ini, dia sudah melihat adegan dirinya berpelukan dengan Samuel. Demi apapun Clara ingin menjelaskan situasinya saat itu, tapi dia sangat takut melihat amarah Rey yang seperti ini.
“ Apa kamu lupa kalau kamu istriku ku? Jawab aku Clara!!”
“ Kak Rey..” Clara menggenggam tangan Rey
“ Jangan sentuh aku!! Jawab saja pertanyaanku!!”
“ Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Kak Muel, kak”
Rey tertawa mengejek “ Kak Muel...Kak Muel..Aku sudah muak mendengat nama itu. Kamu bilang nggak ada hubungan apa-apa? Lalu kenapa kalian berpelukan di tempat umum?”
“ Maafkan aku kak. Aku tau aku salah.. Sebagai seorang istri.......”
“ Istri? Kamu bilang kamu seorang istri? Apa kamu sudah menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri?”
“ Maaf kak”
“ Layani aku, maka aku akan memaafkanmu” Rey merobek baju Clara sehingga kini dadanya yang putih mulus terekspos jelas.
Lalu Rey mendaratkan bibirnya di leher Clara, diciumnya keras-keras hingga meninggalkan tanda merah sebagai tanda kepemilikan. Ciuman itu turun ke dada, digigitnya dada Clara hingga meninggalkan bekas gigitan. Rey seperti kesetanan dengan segala aksinya sedangkan Clara terus meronta. Dia tidak mau melayani suaminya yang dalam keadaan mabok ini. Dan dia pun tahu kalau Rey belum mencintainya, hingga ragu untuk melayaninya.
“ Kak, hentikan!! “ dengan sekuat tenaga Clara menghempas tangan Rey yang memegang lengannya. Llau Clara terduduk di atas lantai, menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya yang sudah ditekuk.
“ Apa seperti ini perlakuan seorang istri?” Rey pergi meninggalkan kamar mandi sambil membanting pintunya.
Clara terdiam dibawah guyuran air shower. Air matanya jatuh mengingat perlakuan Rey padanya. Rey memperlakukannya seperti wanita murahan dan itu membuat hatinya semakin sakit.