
“ Katakan padaku kemarin kenapa kamu bisa pulang bareng senior?”
Istirahat siang ini dipakai Tania untuk mengintrogasi Clara. Sudah dari malam dia masih memikirkan banyak kemungkinan hubungan anatar Clara dan Rey. Mereka berdua sengaja mengobrol di samping parkiran yang tidak terlalu ramai. Clara memang sengaja mengajknya kesini karena dia tidak mau semua orang tahu hubungannya dengan Rey.
“ Ayo cerita..” Tania sudah mulai gemas karena Clara masih saja diam.
“ Sebenarnya aku itu..hmmm...aku sama...”
“ Dia istri gue..” ucap Rey yang tiba-tiba muncul lalu memeluk pundak Clara.
Tania kaget mendengar pengakuan dari Rey. Matanya melirik Clara lalu kemudian melirik Rey lagi seolah-olah masih tidak percaya.
“ Aku masih ada kelas.. Nanti sore kita pulang bareng ya?” Dikecupnya kening Clara dengan diiringi siulan dari Alex dan Dave yang merasa jiwa jomblonya terusik. Rey yang cuek dan dingin itu bisa semanis tadi bahkan di depan mereka.
Tania pun masih melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja matanya lihat. Sedangkan Clara hanya menundukan kepala menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
“ Kamu beneran istrinya dia?”
“ Iya, tan. Ceritanya panjang sih”
“ Kapan kalian nikah? Kok kamu nggak undang aku?”
“ Aku nikah 4 bulan yang lalu, tan. Kita nikah karena janji orang tua aku sama Kak Rey”
“ Terus?”
“ Iya maaf aku nggak undang kamu karna aku malu tan. Maaf yaa?”
Tania membuang nafasnya halus kemudian mencubit pipi Clara “ Kenapa harus malu sama aku? Terus gimana sama Kak Sam?”
Clara termenung. Sejak dia dan Rey menikah, sejak itulah dia sadar bahwa hubungannya dengan Samuel sudah tidak mungkin. Saat ini dia bahagia ada disisi Rey, ada perasaan nyaman dan aman. Walau perlahan perasaannya pada Samuel sudah terkikis, tapi dia tidak menyangkal kalau bayangan Samuel masih sering muncul di pikirannya.
“ Aku uda nikah, tan. Jadi antara aku sama Kak Muel udah nggak ada harapan”
“ Apa kamu cinta sama Kak Rey?”
“ Aku juga nggak tau apa aku cinta atau enggak. Yang pasti aku bahagia saat kita bersama dan aku ingin jadi istri yang cocok buat dia”
“ Kalian cocok kok.. Yang satu ganteng, yang satunya cantik” ucap Tania sambil menyenggol pundak Clara dan mereka pun tertawa.
Selesai kuliah hari itu Clara segera menuju ke parkiran mobil, disana Rey sudah menunggu. Clara menatap laki-laki yang sedang berkutat dengan HP nya. Tampan satu kata yang mewakili betapa Tuhan sangat mengasihi ciptanNya ini.
“ Kak, minggu depan SMA aku adain pensi dan mereka undang tim aku berpartisipasi”
“ Partisipasi apa?”
“ Pertandingan basket,kak”
“ Kamu anak basket dulu?” nada bicara Rey seolah meremehkan Clara. Dia tidak menyangka istrinya yang cantik, putih dan selalu merawat tubuhnya itu dulunya adalah pemain basket. Tidak seperti wanita cantik lainnya yang lebih suka shopping, ngemall dan bergaya bak sosialita. Image itu semua tidak pernah melekat dalam sosok Clara.
“ Bukan cuma basket kak, aku juga dulu perenang”
Tiba-tiba Rey menghentikan mobilnya membuat clara terkejut.
“ Kak!!” Clara menoleh kebelakang mobil memastikan tidak ada kendaraan lain yang akan menabrak mereka “ Kakak kenapa sih? Jantungku mau copot nih”
Rey menatap istrinya yang masih shock dan memeluknya. Ada perasaan tidak rela jika membayangkan semua orang bisa melihat lekuk tubuh istrinya dalam balutan baju renang. Rey benar-benar tidak rela dan itu dibuktikan dengan semakin kencangnya pelukan Rey.
“ Kak, sakit.. Aku nggak bisa nafas”
Rey tidak perduli dengan erangan Clara. Diciumnya bahu, lalu merambat ke leher dan naik ke telinga Clara dengan sangat lembut. Clara dapat mendengar suara nafas Rey yang sudah tidak beraturan lagi.
“ Kak..” Clara mendorong pelan tubuh Rey agar menghentikan aksinya. Dia sangat malu dan takut kalau ada orang yang melihat aksi mereka. Beruntung mobil Rey berhenti tidak terlalu di tengah jalan dan kondisi saat itu tidak terlalu banyak mobil yang lewat.
Dipegangnya kedua sisi bahu Clara, lalu berkata
“ Cuma aku yang boleh melihat dan menyentuhmu. Kamu milikku”
Ditatapnya kedua bola mata indah istrinya. Saat Rey mendekatkan wajahnya, tangan Clara berusaha menahan dada Rey agar tidak semakin mendekat. Dengan lembut Rey memegang tangan Clara yang ada di dadanya kemudian dilingkarkan kepinggangnya kemudian Rey mencium bibir Clara. Rey sengaja menciumnya dengan perlahan dan sangat lembut agar Clara tidak merasa takut dan lari seperti terakhir kali. Clara terdiam karena kaget tapi dia juga tidak menolak ciuman Rey. Pikirannya kacau, jantungnya berdetak semakin kencang dan tangannya meremas baju milik Rey.
“ Tutup matamu kalau sedang berciuman” suara Rey disela-sela ciuman mereka sambil membiarkan Clara mengambil nafas. Kemudian Rey menutup mata Clara dengan telapak tangannya dan mereka kembali berciuman. Rey ******* bibir itu diselingi dengan gigitan kecil pada bibir Clara. Ter;ihat Rey lebih mendominasi sedangkan Clara berusaha mengikuti permainan Rey.
Sebenarnya Rey belum puas mencium bibir Clara namun segera dia hentikan aksinya karena hasratnya sudah menuntut lebih dari sebuah ciuman dan Rey tidak mau memaksa Clara yang dia tahu masih belum siap.
Wajah mereka masih sangat dekat hingga hidung mereka saling bertemu. Keduanya masih menutup matanya merasakan ciuman tadi sambil mengatur nafas.
Diusapnya bibir Clara dengan ibu jari “ Kamu milikku Clara. Kedepannya aku nggak mau kamu ikut renang lagi ya?”
Clara mengangguk sambil menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang memerah. Melihat itu Rey mengusap kepala Clara sehingga rambutnya sedikit berantakan dan kembali menjalankan mobilnya.
Sepanjang jalan Rey terlihat tersenyum bahagia apalagi saat mengingat adegan ciumannya tadi. Bibirnya manis, batin Rey.