Heartstrings

Heartstrings
39.


" Abis ngurusin si Najwa lagi?" Tanya Fatimah yang melihat Ayara menghampiri nya, Ayara baru saja keluar dari kelas bersama Fadli.


Karena beberapa hari ini banyak anak anak lain yang melihat Fadli dan Ayara ngobrol berdua di kelas mereka pun mulai membuat gosip, tentang Fadli dan Ayara. Kebanyakan mereka mengira Fadli berpacaran dengan Ayara. Fadli benar-benar tidak memberi tahu sedikit pun kepada teman temannya tentang ia yang menyukai Najwa.


"Iya.. " Ayara pun segera membeli makanannya


"Hadeehhh.. "


Seperti biasa setelah membeli jajanan, mereka akan kembali ke kelas dan memakan jajanan mereka di kelas.


...


Beberapa hari ini Ayara benar benar seolah menjadi informan bagi Fadli juga bagi Najwa sendiri, Ayara banyak di suruh menanyakan ini dan itu oleh Fadli ataupun Najwa. Coba saja seandainya ponsel Fadli tidak rusak, ia tidak perlu repot repot terlibat dalam hubungan mereka.


"Iya katanya masih belum putus, dia bilangnya masih mematangkan alasannya. Semalem dia juga post foto gak pake kerudung" Ucap Ayara, kini ia bersama Fadli di kelas


"Ohh.." Fadli mengangguk


"Kapan HP kamu bener lagi?" Rasanya aku mulai malas ikut campur urusan kamu pikir Ayara


"Kapan ya.. Gak tau orang yang benerinnya belum ada ngabarin"


"Semoga secepatnya ya.. " Ayara hendak berdiri dan keluar dari kelas


"Iya aku juga maunya HP aku cepet bener, biar aku bisa langsung ngobrol sama dia"


"Iya.. "


"Aku mau mastiin langsung dia bener suka sama aku atau nggak, terus kapan dia mau putus sama pacarnya"


"... " Langkah Ayara terhenti. "Kamu sesuka itu sama dia?" Ayara memutar badannya menoleh ke arah Fadli


"Iya.. "


"Saran aku, kamu pikir lagi baik baik sebelumnya memutuskan untuk ngejar seseorang"


"Maksudnya?"


"Dia bisa suka sama kamu bahkan di saat dia punya pacar, dan walaupun kamu sama dia pacaran, bukan kah ada kemungkinan dia bakal suka sama orang lain lagi?"


"... "


"Selain itu, kamu belum tau dengan baik bagai mana dia sebenarnya"


"... "


"Saran aku, jangan liat orang dari penampilan"


"Bukannya kamu juga tau dia baik, ramah?"


"Sesungguhnya tipu daya wanita itu paling kejam" Setelah itu Ayara pergi meninggalkan Fadli


Mendengar hal tersebut, membuat Fadli bingung ia benar-benar kepikiran ucapan Ayara. Benar, ia belum tahu bagaimana sikap Najwa sebenarnya.


'Ehh kenapa aku ngomong gitu ya.. ' Ayara bingung sendiri kenapa juga ia berkata seperti itu pada Fadli? Seharusnya ia tidak perlu peduli pikirnya. Ayara berjalan menuruni anak tangga, hendak mencari Fatimah dan Okta di warung.


...


Malam minggu..


Saat Ayara sedang asik makan bersama ibu dan bapaknya, ponselnya berbunyi beberapa kali. Ayara melihat banyak notifikasi dari grup chat.


+62 xx: Temen temen besok kita gak bisa latihan, jadi latihan di undur minggu depan


+62 xx: Kenapa gak bisa?


+62 xx: Kenapa?


+62 xx: Iya kenapa kak?


+62 xx: Bagus deh hahaha


+62 xx: Banyak senior yang gak bisa hadir, termasuk pak Wisnu juga gak bisa


+62 xx: Ohh


+62 xx: Yahh padahal aku udah nyiapin keperluan buat besok


+62 xx: Kasih tau temen temen yang lain siapa tau ada yang gak masuk grup


+62 xx: Biarin biar dia nungguin seharian di sana


+62 xx: 🤣🤣


'Oh gak jadi?' Ayara membuka grup chat, ia membaca chat teman temannya tidak ada niatan untuknya ikut nimbrung ia hanya mau menyimak.


"Lagi makan jangan main HP" Ucap Ibu Ayara


"Ini lagi baca grup chat, katanya besok gak jadi latihan"


"Oh kenapa?"


"Ikut paskibra di kecamatan?" Tanya bapak


"Iya" Ayara mengangguk


"Bisa?"


"Bisa"


Setelah selesai makan, Ayara kembali ke kamar meninggalkan ibu dan bapak yang sedang mengobrol. Ayara tahu mereka bisa bertengkar kapan saja jadi ia memilih pergi ke kamar, walaupun dari kamar juga akan terdengar.


...


Besoknya Fadli dan Asha datang ke kecamatan, sebenarnya Asha mempunyai ponsel namun ia sengaja tidak mau masuk grup chat ia menganggap grup chat bukan suatu yang penting. Hingga siang hari mereka masih menunggu dengan kebingungan, tidak ada siapapun yang datang.


"Sa coba lo telpon yang lain, masa udah jam segini belum juga ada yang dateng" Ucap Fadli ia bangkit dari duduknya, merasa kesal dan pantatnya terasa panas


"Gue gak punya nomor mereka"


"Gak masuk grup?"


"Nggak"


"Kenapa?" Fadli mengerutkan alis


"Males aja"


"Terus lo gak punya nomor siapapun buat nanya nanya?"


"Siapa ya.. Gak punya"


"Terus kita gimana nih? Mau nunggu sampe dzuhur?"


"Ya gimana gue juga gak tau, apa kita pulang aja?"


'Pulang? Gue mau ketemu dia' ucap Fadli dalam hati, ia enggan pulang


Karena tidak ada orang untuk mereka tanyai, mereka pun akhirnya hanya diam di sana. Asha asik bermain ponsel sedangkan Fadli hanya duduk diam melirik ke sana kemari berharap seseorang cepat datang.


"Kalian ngapain di sini?" Tanya seorang bapak bapak, sepertinya petugas kebersihan di kecamatan itu


Fadli dan Asha segera menoleh pada sumber suara dengan cepat.


"Iya Pak, lagi nunggu temen yang lain" Ucap Fadli


"Anggota paskibra yang baru ya?"


"Iya.. "


"Bukannya hari ini libur?"


"Libur?" Fadli bertanya ulang


"Iya katanya di undur minggu depan"


"Yang bener pak?" Fadli terkejut begitu pun dengan Asha


"Iya, siapa itu namanya bapak lupa dia bilang katanya minggu ini gak latihan. Kalian gak di kasih informasi?"


"Nggak, saya gak ada HP. Tapi kenapa ko di undur?"


"Katanya pak Wisnu itu sama anak anak yang suka latihnya pada gak bisa hadir"


"Ohh gitu..pantesan udah jam segini belum ada yang dateng, ternyata di undur"


"Udah lama di sini?"


"Udah dari jam 8"


"Wahh lama ya.. "


"Iya, ya udah pak makasih ya kita pulang dulu"


"Iya iya" Bapak bapak itu mengangguk lalu segera membuka pintu yang terkunci dan masuk ke dalam


"Tuh kan lo sih gak masuk grup jadi gak tau apa apa kan" Fadli mengendarai motornya sendiri, mereka berjalan beriringan menggunakan motor masing masing


"... "


"Masuk grup sana!"


"Hmmm"


'Yahh padahal mau ketemu sama dia' ucap Fadli dalam hati, ia kesal karena sudah lama menunggu yang tidak tahunya ternyata latihan di undur benar-benar tidak ada informasi, di tambah kesal karena tidak bisa bertemu Najwa.


Sebenarnya Fadli juga kepikiran ucapan Ayara saat di sekolah kemarin, tapi ia ingin memastikan sendiri. ia ingin bertemu Najwa dan akan memberanikan diri untuk mengajak Najwa berbicara.


"Mau ke mana lo?" tanya Asha begitu melihat Fadli berbelok, seharusnya Fadli terus berjalan lurus untuk sampai ke rumahnya.