
Rey tidak bisa fokus belajarnya apalagi saat tadi siang melihat Clara datang ke kampus diantar oleh Samuel. Pikirannya benar-benar terganggu akan kedekatan mereka.
Berani sekali dia meminta laki-laki itu menjemputnya di rumahku? Batin Rey berteriak.
Selesai mata kuliah pertama, Rey langsung pergi ke taman berniat menenangkan pikirannya. Dia butuh udara akibat dadanya yang sesak menahan amarah sobat.
Bukan ketenangan yang didapat malah harus mendengarkan ocehan tidak berbobot dari sekelompok gadis. Awalnya Rey ingin pergi dari taman namun saat nama Clara disebut akhirnya dia kembali merebahkan diri diatas rumput yang tidak jauh dari kelompok gadis itu.
“ Lo kenal sama mereka?”
“ Gue kakak kelasnya Clara. Siapa sih yang nggak tau hubungan mereka di sekolah? Itu udah jadi rahasia umum. Wajar sih mereka berdua murid paling cakep di sekolah. Hubungan mereka terkenal lho “
“ Terkenal gimana?”
” Dimana ada Clara disitu pasti ada Kak Sam, begitu juga sebaliknya. Pokoknya kalo lo pada ke sekolah gue coba aja nanya sama salah satu murid kenal Clara atau Samuel ngga? Mereka pasti kenal”
“ Tapi mereka beneran pacaran?”
“ Cuma mereka dan Tuhan yang tau. Kak Sam itu....”
Rey meninggalkan taman dengan menahan amarah dan cemburu. Cemburu yang sampai pagi tadi masih disangkalnya di depan Alex dan Dave.
Rey tidak sengaja melihat Clara yang sedang duduk di tangga kampus bersama dengan Tania. Mereka sedang tertawa entah apa yang sedang dibicarakan karena Rey tidak dapat mendengarnya.
Rey menghampiri Clara, sedetik kemudian menarik tangan Clara tanpa mendengarkan keluhan sakit yang Clara ucapkan. Dia membawa Clara ke dalam mobil dan pulang ke rumah.
“ Ikut aku pulang..”
Sebenarnya Clara masih malas untuk bicara dengan Rey, namun dia mengingat pesan kakaknya semalam agar segera menyelesaikan masalah apapun. Mereka semua diam membisu sepanjang perjalanan. Clara mentap ke arah luar sambil memegangi tangannya yang kesakitan. Sesekali Rey melirik ke arah Clara, ada sedikit penyesalan saat dia melihat tangan Clara yang memerah.
Tiba dirumah, Rey kembali menarik tangan Clara menaiki tangga dan menuju ke kamar mereka.
“ Kak, apa mau kamu?”
“ Harusnya aku yang tanya itu. Bagus sekali Clara, kamu bahkan menyuruh laki-laki itu menjemputmu di rumahku?”
“ Aku nggak..”
“ Cukup!! Jangan pernah berhubungan dengan laki-laki itu!”
“ Laki-laki itu namanya Kak Muel. Dan sudah kukatakan berulang kali kalo aku sama Kak Muel nggak ada hubungan apa-apa”
Rey mengepalkan tangannya karena emosinya terus terpancing oleh Clara yang selalu menyebut nama Samuel.
“ Clara!!” teriak Rey sambil menatap lurus kearah Clara
“ Apa? Semalam aku menginap di rumah orang tuaku dan hari ini aku kesiangan. Saat mau berangkat kuliah, Kak Ryan masih tidur, supir masih di jalan habis anter daddy, hanya ada Kak Muel yang kebetulan mampir. Jadi aku terpaksa bareng Kak Muel”
“ Kenapa nggak chat aku minta jemput?”
“ Setelah apa yang kakak katakan kemarin, apa aku tidak punya malu untuk minta jemput? Bahkan ucapan itu mengganggu tidurku. Aku hanya tidak sengaja bertemu dengan Kak Muel tapi kamu sudah marah seperti ini. Aku juga ingin bergaul kak, agar saat kita berpisah nanti...( aku tidak akan mengingat kenangan bersamamu )”
Clara memalingkan wajahnya tidak mau menatap Rey. Luka yang Rey torehkan kemarin kembali berdarah. Dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Rey pun sadar bahwa pada akhirnya dialah yang menyakiti hati gadis itu. Tidak mendengarkan penjelasannya malah berbalik menghinanya, menciptakan sebuah luka yang dalam. Kesepakatan yang dia buat pun tanpa sadar menjadi beban bagi Clara.
Shittt!!!
Baru kali ini Rey merasa dirinya sangatlah bodoh. Dulu dia begitu yakin tidak akan pernah jatuh cinta kepada Clara. Tapi nyatanya perlahan tapi pasti Clara masuk dan tinggal dalam hatinya.
“ Apa aku tidak boleh menjaga kehormatanku? Bahkan saat kita berpisah nanti, siapa yang akan percaya kalau.....”
Rey memeluknya erat. Merasakan kembali perasaan nyaman, bahagia saat mereka bersama. Aroma tubuh yang begitu dirindukan sejak dia melangkahkan kaki meninggalkan rumah. Melepas kerinduan yang sudah dia sangkal sejak kemarin.
“ Kita tidak akan berpisah”
“ Apa kak?”
Rey memegang kedua sisi wajah Clara dan menempel keningnya dengan gadis itu. Ditatapnya wajah Clara yang masih bingung itu sambil tersenyum.
“ Aku bilang kita tidak akan berpisah” dipeluknya lagi Clara
“ Kalau kakak seperti ini karena merasa kasihan denganku, itu tidak perlu.” berniat melepaskan pelukan Rey, namun malah semakin erat dipeluk.
“ Bukan.. bukan karena kasihan”
“ Benarkah kita tidak akan berpisah?”
“ Benar.. Dan maaf atas ucapanku kemarin.. Kamu bukan wanita penggoda, tapi kamu wanita super penggoda profesional”
“ Kakak!!” Clara memukul-mukul dada Rey yang bidang. Tidak terasa sakit, tapi Rey pura-pura kesakitan
“ Aarrgghhh”
“ Sakit ya kak?”
Rey menarik lengan Clara hingga mereka berdua terjatuh diatas kasur dengan posisi Clara yang menimpa Rey. Dipeluk tubuh kecil istrinya.
“ jangan suka menggodaku”
“ Aku tidak menggoda kakak. Bagian mana aku menggoda kakak?”
“ Tingkahmu yang seperti ini selalu membuatku tergoda. Ingat kamu hanya boleh menggoda suamimu saja dan jangan dekat-dekat dengan Samuel lagi”
“ Kak, tadi kamu menarikku di depan banyak orang besok pasti jadi gosip”
“ Biarkan.. Toh kita suami istri”
“ Aku nggak mau jadi sasaran cewek-cewek yang memujamu?”
Rey bangun dari tempat tidur disusul Clara. Mereka berhadapan dan saling memandangi. Dipegangnya kedua tangan Clara dan berkata
“ Maaf karena sudah menyakitimu. Mulai sekarang aku akan melindungimu”
Dikecupnya kening gadis itu dalam-dalam. Lembut dan penuh dengan rasa sayang. Clara sudah memaafkannya sebelum laki-laki itu minta maaf. Apalagi sekarang dia sudah lega karena Rey tidak akan menceraikannya. Hati dan pikirannya pun tenang. Setidaknya hubungan mereka masih bisa diperjuangkan.
“ Makasih kak sudah menjadi suami aku”
Deg!!
Rey tersipu malu dengan aksi Clara yang tiba-tiba. Clara mengucapkan kata suami sambil memandang dengan pandangan menggoda menurut Rey juga dengan wajah yang terkesan manja. Sadar Rey!! Inget ucapan Dave, kamu nggak boleh main nyosor aja kayak bebek.
Oh Tuhan, sampai kapan penderitaan Rey akan berkahir?
Menahan hasrat pada istrinya yang masih terlalu polos untuk urusan itu. Istrinya pun tidak menyadari perubahan raut wajah Rey yang terlihat siap menerkam dan memakan Clara hidup-hidup.