Heartstrings

Heartstrings
35.


Setelah peserta lain selesai sholat, mereka segera kembali pada barisan masing masing menunggu nasi di bagikan.


"Eh? Kak ini bukan kotak nasi aku" Ucap salah seorang peserta perempuan


"Oh iya. Jadi nasinya kita acak, kalian tidak akan makan bekal yang kalian bawa sendiri melainkan bekal teman kalian. Kalian bisa mengumpulkan kotak nasi setelah selesai makan" Ucap senior tersebut


"Lah kok gitu?"


"Yahhh"


"Kenapa di tuker?"


"Yahh sayang banget padahal aku bawa bekal sama daging"


"Gimana sih.. "


Tentu banyak para peserta yang mengeluh akan hal tersebut, sebelumnya mereka tidak di beri tahu jika bekal akan di acak seperti itu.


Selesai makan mereka sempat latihan PBB, barulah setelah itu mereka di bubarkan.


...


"Arghh... Hari ini melelahkan" Setelah Ayara selesai mandi, ia merebahkan dirinya di kasus. Karena saat di kecamatan ia tidak mandi dan hanya ganti baju saja. Rasanya terlalu malas saat datang bulan harus mandi di tempat lain, selain itu banyak anak yang mengantri.


Karena lelah tanpa sadar Ayara memejamkan mata dan tertidur hingga sore.


"Tumben jam segini udah pulang" Ucap Ibu Ayara pada suaminya


"Iya udah beres"


Ibu Ayara menyodorkan segelas teh manis hangat, "gimana hari ini?"


"Gak terlalu banyak pekerjaan"


Sore harinya mereka menutup warung dan segera pulang, ibu Ayara membangunkan Ayara karena sudah terdengar adzan. Menurut kebanyakan orang tua, mereka beranggapan bahwa dilarang seseorang tidur sore hari apalagi menjelang magrib.


Walaupun tidak sholat Ayara tetap bangun, ia makan sekali lagi lalu setelah itu hanya diam di kamar sambil bermain ponsel.


...


Hari Senin seperti biasa mereka melakukan kewajiban upacara di pagi hari.


"Ay aku liat kamu ngobrol sama si Najwa" Ucap Fadil


"Kenapa emangnya?" Ayara menoleh


"Nggak. Bagus deh, aku lupa mau ngomong ini sama kamu"


"Ngomong Apa?"


"Aku suka sama dia.. Kamu bisa kan bantu deketin aku sama dia?" Fadil menatap Ayara


".. Oh, bisa aja"


"Menurut kamu gimana Ay dia cantik kan? Aku udah tau dia dari lama cuma masih malu mau ngedeketin dia sampe lupa"


"Ohh.. " dia bahkan mudah lupa bahwa dirinya menyukai orang lain?


"Entar kamu coba tanyain ya dia udah punya pacar belum"


"Iya entar"


"Makasih ya untung ada kamu hehe.. "


"... " Jadi ini yang mau dia katakan?


"Oh iya, hp aku rusak beberapa hari yang lalu di banting sama si Algi"


"Ko bisa?"


"Gak tau tu anak rese banget, hp aku lagi di cas tiba tiba di banting"


"Kesel ya?"


"Banget lah, aku marah tapi gak bisa berbuat apa-apa yang ada aku yang di marahin ibu"


"Yahh namanya juga anak kecil"


"Bocil rese!.. Eh kamu kemarin di pos 4 bisa ngejawab semua soal?"


"Nggak, aku lupa cara yang menaksir"


"Kirain soalnya gampang, eh tau gitu matematika di bawa bawa"


"Masa kamu gak bisa matematika"


"Bisa sih tapi butuh waktu lama buat mecahinnya soal mereka beda sama soal yang biasa kita tau di sekolah"


"Ohh, soal itu bukan bagian aku yang jawab"


"Mana kemarin air minum aku abis, haus banget, minta ke anak anak lain gak di kasih"


"Haha.." Saat ini mereka tengah mengobrol di kelas setelah selesai upacara dan pelajaran di mulai, karena Fatimah sedang di beri tugas oleh guru untuk menulis di papan tulis jadi Fadil menempati tempat duduknya.


"Kebetulan banget ya kamu satu kelompok sama dia"


"Iya.. "


"Dia gimana orangnya? Baik kan?"


"Iya dia baik ramah juga, dia juga yang ngajak aku kenalan duluan"


"Ohh.. " Fadil terlihat antusias ketika membahas Najwa


"Bukannya banyak anak laki-laki yang suka sama si Dinda? Kenapa kamu suka Najwa?"


"Si Dinda seleb dari sekolah sebelah? Dia cantik sih tapi gitu deh sikapnya" Fadil sudah tahu bagaimana sikap asli Dina, sangat di sayangkan wajah cantiknya harus punya sikap yang tidak canik pikirnya.


"Oh kamu tau sikap dia?"


"Jelas kan? Dia terkenal masa gak tau"


"Iya sih"


"Kamu pernah di tolak cewe kan?"


"Iya pernah, waktu kelas 7. Aku pikir dia cewek pertama yang nolak aku"


"Dia juga dari sekolah sebelum kan? Dia pernah ngajak aku kenalan"


"Iya?"


"Iya, tapi aku gak mau haha"


"Kenapa?"


"Emm.. Gak ada alasan sih, waktu itu aku lagi di kelas terus Putri manggil manggil aku ngajak turun ke bawah katanya ada yang mau kenalan sama aku tapi aku gak mau karena terlalu males buat turun ke bawah"


"Oh iya dia pernah ke warung pinggir sekolah, aku juga liat"


"Bukannya SMP gak boleh keluar ya?"


"Iya tapi gak tau dia bisa keluar sama 2 temennya, setelah hari itu besoknya aku di tolak"


"Kasian"


"Awas" Ucap Fatimah, ia baru saja selesai menulis materi di papan tulis


"Kamu duduk di bangku aku dulu"


"Gak! Cepet sana minggir"


"Iya iya galak amat"


"Huhh pegel juga nulis di bor"


"Haha derita orang tinggi kali ya"


"Aku entar aja deh nulisnya di rumah, kamu fotoin catetan kamu terus kirim"


"Okee"


"Gimana latihan kemarin?"


"Kemarin di suruh jelajah alam, lumayan cape mana aku hari pertama datang bulan"


"Pasti sakit?"


"Nggak sih, menurut aku kalo lagi sakit perut datang bulan mending di bawa jalan jadi gak kerasa, justru kalo diem malah kerasa sakit. Cuma kemarin gak nyaman aja jalannya"


"Oh iya pasti gak nyaman banget"


"Para senior tuh mereka ramah kalo gak lagi latihan tapi kalo pas latihan pada galak tau kayak beda orang aja"


"Ohhh.. "


"Malem nya baru kerasa pegel pegel"


"Eh semalem Drama xx update episode baru kamu udah nonton?"


"Iya? Aku gak tau jadi belum nonton"


"Aku udah tapi episode yang ini kurang seru"


"Entar deh malem aku nonton"


...


"Ma gue liat soal nomor 3" Ucap Sehan pada Ama


"Kerjain sendiri"


"Ayo Ma satu aja"


"Gak"


"Yah pelit lu, Ran Rani gue liat nomor 3"


"Nggaaaak"


"Ya elah pada pelit amat sih"


"Ini gue udah, lo mau?" Tawar Rey


"Gak deh jawaban lo suka ngaco"


"Beneran ini"


"Bu aku gak ngerti soal nomor 3" Sehan memilih menghampiri gurunya


"Soal nomor 3?"


"Iya bu nih yang ini" Sehan menunjukkan soal tersebut


"Oh itu sini ibu jelasin.. "


"Abis ini aku ijin ke luar ya bu"


"Ngapain?"


"Haus"


"Belum waktunya istirahat, masih lama"


"Bentar bu tar balik lagi"


"Gak boleh, entar anak anak lain pada ikutan"


"Gak bakal"


"Nggak. Udah diem bentar lagi istirahat"


"Katanya tadi masih lama"