
Keesokan harinya, Ayara menemui Farhan dan mengajaknya untuk berbicara berdua.
"Bisa kan? Aku yakin itu bukan suatu hal yang sulit buat kamu" Ucap Ayara, saat ini mereka tengah berbicara berdua di tangga
"Yah... Bisa aja" Farhan terlihat santai ia menyandarkan punggungnya pada dinding sambil melihat kedua tangan di dada
"Iya kan?" Ayara memastikan
"Tapi.. "
"Tapi?" Ayara mengerutkan alis
"Tapi lo harus hapus vidio itu"
"Gak bisa. Justru vidio itu buat jaminan"
"Bisa aja lo diem diem nunjukin vidio itu ke nyokap gue"
"Nggak. Aku janji"
"Gue gak percaya tuh. Gimana dong?" Farhan mengangkat satu alisnya
"Ya udah terserah. Kalo gak mau aku tinggal tunjukin vidio kamu lagi minum mira* ke ibu kamu"
"Hahh... Ya udah deh apa boleh buat, dari pada gue berurusan sama nyokap bakal lebih ribet"
"Lagian apa susahnya bagi kamu cuma bikin Yanto berhenti gangguin Gema, gak cuma si Yanto sih tapi buat anak anak lain juga jangan sampe mereka gangguin si Gema lagi"
"Ahhh ribet amat, ngapain sih lo pake punya vidio itu segala"
"Banyak omong, jadi mau atau nggak?"
"Iya iya.. "
"Awas ya, vidio itu aku bisa kapan aja ngasih liat ke ibu kamu"
Ayara meminta Farhan untuk membuat Yanto berhenti mengganggu Gema, Ayara mengenal Farhan sejak kecil karena mereka mempunyai ikatan keluarga. Namun karena tidak peduli satu sama lain mereka pun sangat jarang berkomunikasi jika bukan untuk mengatakan suatu keperluan.
Setelah itu, Farhan meninggalkan Ayara entah ia mau kemana padahal jam pelajaran masih berlangsung. Sedangkan Ayara hendak kembali ke kelas, takut kelamaan karena sebelumnya ia beralasan akan pergi ke toilet sendiri.
"Lama amat" Ucap Fatimah
"Masa sih? Perasaan cuma sebentar"
"Lama, eh liat soal yang ini aku bingung banget"
"Oh itu.. Iya aku juga masih bingung"
...
Farhan tidak kembali ke kelas sampai jam istirahat, ternyata ia kabur diam diam memanjat gerbang dan asik jajan di warung. Saat semua anak istirahat barulah ia kembali ke kelas, sebelum itu ia sempat mengobrol dengan Lukas di tangga.
Begitu Farhan memasuki kelas ia terdiam di ambang pintu begitu melihat Yanto lagi lagi tengah memaksa Gema. Ia menghelakan napas dan segera melanjutkan langkahnya menghampiri Yanto
"Hei" Ucap Farhan santai
".. Farhan?" Yanto tidak sadar Farhan memasuki kelas
Farhan melirik Gema yang terlihat hanya menunduk
"Pergi"
"..? Apa?"
"Pergi sana jangan ganggu dia"
"Kenapa?" Biasanya Farhan tidak perduli ketika ia berbuat apapun pada Gema, tapi sekarang kenapa..? Pikir Yanto
"Kenapa? Emm.. Kenapa ya..? Gak ada alasan, cepet pergi sana"
"T-tapi biasanya kamu.. "
"Gue bilang pergi ya pergi b*n*s*t" Farhan membuat gerakan yang hendak memukul Yanto
"I-iya iya" Yanto segera berlari keluar tanpa menoleh lagi
"Ngapain lo berdiri di situ? Duduk" Ucap Farhan pada Gema
"... "
"Ahh s*a*" Farhan tidak perduli ia segera duduk di kursinya, terserah Gema mau berdiri sampai kapan intinya ia sudah melakukan tugasnya
Kelas pun sangat sunyi..
Farhan menenggelamkan wajahnya pada tangan yang bertumpu di atas meja, ia rupanya hendak tidur.
"Kenapa dia?" Tanya Rama yang baru saja memasuki kelas sambil membawa minuman di plastik
Farhan mengangkat kepalanya, setelah datangnya Rama ia tidak mungkin bisa tertidur.
Farhan merebut minuman di tangan Rama dengan cepat dan meminumnya sampai habis
"Woi Gema lo ngapain?" Tanya Rama namun tidak ada respon dari Gema, Rama melirik Farhan dengan maksud menanyakan kenapa Gema diam berdiri menunduk seperti itu?
Farhan hanya mengangkat bahunya, ia malas mengatakannya.
"Woi Gema!" Rama meninggikan suaranya
Namun tetap Gema tidak merespon. Karena geregetan Rama menghampiri Gema ia menggoyangkan tubuhnya, lalu tiba-tiba Gema menepis tangan Rama
"Hei?" Rama bingung
"Udah diemin aja, lo ngapain" Ucap Farhan
"Tapi dia kenapa?"
"Mana gue tau"
"Huh, eh lo tau gak si Lukas katanya mau berantem lagi sama anak anak SMP xx"
"Lagi? Kenapa dia?"
"Katanya gara gara anak anak SMP xx sengaja cari masalah sama si Lukas"
"Gak ada habis habisnya mereka cari ribut"
"Lo tau kan si Bagus? Dia tenaganya kuat banget, gue pernah sekali kena tonjok sakit banget"
"Ya.. Dia kuat"
"Gil* badannya juga segede gaban"
"Dia juga bisa ngimbangin si Lukas"
"Bener, mereka selalu seri setiap berantem"
Farhan mengangguk
"Menurut lo kali si Bagus itu ngelawan si Syden menang siapa?"
"Udah jelas si Syden"
"Hahh.. Iya sih walaupun si Syden gak segede si Bagus tapi Syden bener bener gak terkalahkan, si Lukas aja bisa kalah sama dia"
"Hmm" Farhan mengangguk ia sedikit merasa bangga karena ia berteman dengan Syden
"Hampir satu bulan dia gak masuk, gil* ya.. "
"Yah.. Dia emang gitu"
"Gue juga mau bolos kayak dia tapi entar nyokap gue marah besar duhh.. "
"Biasanya tiap tanggal 9 dia akan masuk, coba aja liat minggu depan"
"Eh iya ya. Setiap tanggal 9 dia pasti masuk"
...
Hari minggu, pukul 08.00 Prili sudah menunggu Ayara di warung. Hari ini mereka hendak latihan lagi ke kecamatan.
"Bu bekal nya udah siap? Duhh maaf lama aku tiba-tiba datang bulan jadi tadi beli pembalut dulu" Ayara terlihat buru buru, ia seperti berlari dari rumah ke warung
"Udah belum kalo telat entar di hukum"
"Ini udah, sana cepet berangkat" Ibu Ayara memberikan tepak berisi bekal dan sebotol air putih
Mereka pun segera berangkat, tak lupa menjemput Hani yang sudah menunggu di depan gang.
Untung saja mereka tiba tepat waktu, jika telat 1 menit saja bisa bisa mereka kena hukuman.
Semua peserta sudah menempati posisi masing-masing yang sudah di tetapkan sejak minggu kemarin. Jadi mereka tidak bingung harus berbaris di mana.
Pagi itu mereka melakukan apel pagi, lalu mereka di suruh berlari mengelilingi lapangan dengan barisan yang sama dan tidak boleh berubah. Setelah selesai berlari beberapa putaran mereka di suruh istirahat sejenak lalu mereka di beri roti bungkus setiap orang satu bungkus, mereka di suruh menghabiskan roti itu dengan cepat.
Setelah istirahat beberapa menit, lalu mereka di pecah menjadi beberapa kelompok dan mereka akan melakukan jelajah alam ke hutan.
Ayara masuk ke dalam kelompok 4, ia harus bergabung dengan orang yang belum ia kenal.
'Dia Najwa yang di maksud Fadil?' Ayara melirik Najwa, perempuan dari SMP yang tengah berdiri di sampingnya. Ayara teringat ucapan Fadil yang mengatakan ada sesuatu yang akan ia katakan mengenai Najwa, namun sampai sekarang pun Fadil tidak mengatakan soal tersebut Ayara bahkan lupa dan baru teringat sekarang.
"Kamu Ayara ya?" Najwa tiba-tiba bertanya dan tersenyum padanya
"Eh? Iya"
"Salam kenal ya aku Najwa, kedepannya mohon kerja samanya" Najwa mengajak Ayara berjabat tangan
"Ohh iya salam kenal, mohon kerja samanya juga" Ayara memegang lengan Najwa yang terasa lembut dan hangat
"Kamu dari MTS ya?"
"Iya.. "