Heartstrings

Heartstrings
Aku Mencintaimu


“ Kak, kita mau kemana?”


“ Lihat rumah baru” Rey sedang mengemudikan mobilnya menuju tempat yang akan diperlihatkan kepada Clara. Rencana pindah rumah sebenarnya sudah ada sejak jauh hari, namun karena kemarin dia sibuk mengurusi perusahaan, kuliah dan di tambah Clara juga sakit jadi baru hari ini bisa direalisasikan.


“ Rumah baru buat siapa? Kita?”


“ Iya”


“ Kenapa pindah dari rumah mama papa, kak?”


“ Kita harus mandiri, ra. Tenang aja aku akan tetap pakai ART buat bantuin kamu di rumah”


“ Bukan itu maksudku. Aku takut sendirian di rumah. Kalau kakak pergi nanti aku sama siapa?”


“ Kamu bisa ajak temen kamu main ke rumah. Intinya aku mau kita nggak bergantung sama mama papa”


Sebuah tarikan nafas panjang dari Clara menandakan dia sudah tidak mau berdebat dengan laki-laki disampingnya. Masalah pekerjaan rumah tangga dia tidak mempermasalahkan karena dulu pun dia selalu membantu Susan. Yasudah di jalankan saja perintah dari kakak kepala rumah tangga yang satu ini.


Setelah 30 menit perjalanan mereka tiba di pekarangan rumah yang tidak terlalu luas. Dihadapkan dengan rumah bergaya minimalis dengan background pepohonan yang rimbun membuat suasana rumah itu tampak asri.


Mereka sudah disambut oleh penjaga rumah dan juga ART yang sudah mulai bekerja sejak hari ini.


“ Siang, den non” sapa ramah penjaga rumah itu “ Silahkan masuk”


Clara mengitari pandangannya menatap rumah itu, dia sangat suka dengan gaya rumah dan juga pemandangannya.


Digandengnya lengan Rey yang berjalan disampingnya kemudian berbisik “ Aku suka rumahnya,kak”


Rey mengusap pipi Clara dengan telapak tangannya sambil tersenyum. Rey lega kalau istri tercintanya itu menyukai rumah ini. Rumah yang akan menjadi saksi dari perjalanan hidup mereka sampai akhir.


Disuguhkan pemandangan yang sangat mewah saat pertama kali menginjakkan kaki ke dalam rumah membuat Clara berdecak kagum. Dari luar mungkin rumah ini terkesan biasa saja, tapi begitu masuk kedalam interiornya seperti hotel bintang lima, bahkan ini lebih mewah dari pada rumah keluarga Anggoro.


Puas berkeliling rumah tibalah mereka di kamar utama, sangat luas bahkan terlalu luas kalau hanya dihuni mereka berdua.


“ Kak, ini kamarnya terlalu luas” Rey memluk istrinya dari belakang yang masih sibuk memperhatikan setiap sudut kamar.


“ Biar saja. Apa kamu suka dengan rumah ini?”


“ Suka.. Tapi kenapa aku nggak lihat ada rumah lagi disekitar sini ya?”


“ Karena memang tidak ada. Sejauh matamu memandang maka itu adalah tanah milik suamimu”


Clara membelalakan matanya dan berbalik menghadap Rey untuk mencari pembenaran dari ucapan suaminya.


“ Aku membeli tanah ini, lalu membangun rumah untuk kita apa kamu tidak tersanjung?”


“ Kak, kamu mau mengurungku disini?”


Dielusnya pipi lembut sang istri sembari tersenyum, Rey tahu istrinya ini sedang ngambek karena ulahnya “ Ya.. Kalau bisa aku ingin mengurungmu dari dunia luar agar hanya aku yang bisa melihatmu”


“Nggak mau, memang aku rapunzel apa yang dikurung di menara?”


“Ide bagus, aku akan buatkan menara untukmu dan mengurungmu disana”


“ Kakak!!”


“ Aku bercanda.. Rumah ini memang letaknya agak jauh dengan yang lain. Dan nanti akan kubangun juga rumah untuk anak-anakku disamping rumah kita”


“ Anak?”


Clara memalingkan badannya membelakangin Rey dan berjalan kearah balkon kamar yang cukup luas untuk mereka bisa bersantai menikmati cahaya matahari terbit. Ada rasa malu ketika Rey membicarakan soal anak dengan dirinya. Dia sangat ingat bahwa sejak menikah mereka memang belum pernah melakukan hubungan suami istri dan Rey pun tidak pernah menuntut pada dirinya.


“ Ada apa? Kamu nggak mau punya anak denganku?” tanya Rey yang melihat perubahan sikap Clara


“ Bukan kak. Aku hanya..hanya..”


Kedua pasang mata itu kini saling bertatapan. Clara tampak malu hingga pipinya memerah lalu Rey yang gemas dengan wajah Clara pun tergoda ingin mencium bibir merah alami istrinya. Sudah lama dia belum mencium bibir itu sejak pertengkaran mereka terakhir.


Dibawaya Clara kedalam pelukan, sedetik kemudian bibir merah itu sudha dilumat habis oleh Rey. Awalnya lembut dan mesra, namun lama-lama menjadi semakin menuntut. Tangan Rey semakin bergerilya yang satu mengelus punggung dan yang satu lagi mengelus paha Clara. Lalu terdengar desahan kecil keluar dari mulut Clara akibat tangan Rey yang sudah menjalar ke titik sensitifnya. Bergerak bebas disitu hingga tidak butuh waktu lama terasa basah.


“ Kak..aahhh”


“ Ra, aku sudah tidak bisa menanhanya lagi”


Nafas mereka saling beradu mencari oksigen akibat ciuman yang memanas itu. Suara Rey sudah terdengar berbeda dan gerakan tangannya tidak berhenti menyentuh arean sensitif Clara.


“ Tapi nggak disini, kak”


Bukan masalah tempat tapi kepada orang-orang yang sedang menunggu mereka dibawah. Clara sangat malu kalau sampai pegawai suaminya itu memergoki mereka sedang melakukan hubungan suami istri.


Rey sudah tidak peduli lagi pada penolakan Clara, dibawa istrinya itu dan dibaringkan diatas tempat tidur. Rey sudah menindih tubuh mungil itu, menutup bibir itu dengan bibirnya dan memainkan tangannya di dada Clara.


Mendapat serangan seperti ini tentu saja membangkitkan rasa yang aneh dalam diri Clara. Dia belum pernah merasakan rasa seperti ini, tidak bisa menolak hanya menerima dan mencoba membalas setiap serangan yang Rey berikan padanya.


Tanpa Clara sadari kini mereka berdua sudah tidak memakai sehelai baju pun.  Rey menatap dan mengabadikan pemandangan indah itu dalam pikirannya lalu mulai bermain diatas dada Clara meninggalkan tanda merah sebuah tanda kepemilikan, sedangkan Clara masih sangat malu dengan keadaan saat ini.


“ Kak, matiin lampunya ya, aku malu”


“ Malu kenapa? Aku mau lihat wajahmu saat ini”


Rey sudah tidak bisa menahan hasratnnya lagi kini sedang berusaha menyatukan tubuhnya dengan Clara. Sedikit memaksa, membuat Clara mengerang kesakitan akibat pembobolan yang Rey lakukan.


“ Maaf ya, ra. Nanti lama-lama juga sakitnya hilang kok” Rey mengecup mata Clara yang basa oleh air mata.


Setelah mendapat persetujuan dari Clara, akhirnya Rey mulai memaju mundurkan tubuhnya diatas Clara dan menikmati setiap inci tubuh itu dengan bibirnya.


Penyatuan itu berlangsung lama, Clara bahkan sudah dibuat lemas berkali-kali dan Rey menikmati wajah Clara yang mengalami puncaknya. Namun belum ada tanda-tanda kelelahan dari Rey, dia benar-benar memanfaatkan tubuh Clara saat ini dengan sebaik mungkin.


“ Kak, aku lelah”


“ Sebentar sayang..sebentar lagi aku selesai”


Tidak lama erangan nikmat dari mulut Rey disusul dengan sesuatu yang keluar di bawah mengakhiri penyatuan hari itu. Rey langsung terkulai lemas menindih tubuh istrinya, dipeluk dan dicium kening istrinya yang masih basah oleh peluh.


“ Makasih sayang, aku mencintaimu”


“ Aku juga sayang kakak”


Rey lalu berpindah kesamping dan memeluk istrinya. Mereka berdua akhirnya tertidur karena kelelahan akibat pertempuran yang panas siang itu.