Heartstrings

Heartstrings
Gosip


Clara masih saja cemberut saat perjalanan menuju kampus. Dia hanya memandang keluar jendela dan tidak mau bersuara sama sekali.


“ Senyum dong sayang” goda Rey.


Rey tahu persis apa yang membuat Clara ngambek pagi ini “ kakak minta maaf yaa”


“ Kak, badanku pegel-pegel semua kaya dilindes tronton tau! Apalagi nih tanda merah di leherku banyak begini” tunjuk Clara ke setiap tanda merah yang menghiasi lehernya.


Lagi-lagi Rey tergelak mendengar jawaban polos Clara “ iya maaf sayang”


Tujuan utama Rey memberikan banyak tanda merah agar Clara memakai baju yang tertutup sampai lehernya, tapi nyatanya gadis itu cukup pintar. Clara hanya menutupi semua bekas itu dengan concealer dan foundation.


Sebenarnya baju Clara masih sangat sopan dan jauh dari kata seksi, tapi dasar Rey yang tidak ikhlas kalau ada laki-laki lain yang melihat setiap lekuk tubuh istrinya.


“ Kak, aku turun di halte deket kampus aja”


“ Kenapa?” Rey mengernyitkandahinya


“ Aku malu kak. Pasti ada gosip yang beredar di kampus tentang kita gara-gara kemarin kamu samperin aku di cafe”


“ Ra, sejak kita dateng dan pulang kampus bareng tiap hari juga anak-anak uda pasti gosipin kita. Kamunya aja yang nggak sadar?”


“ Masa sih kak? Nah kalo gitu bener kan aku harus turun di halte?”


“ Kamu nggak seneng digosipin sama aku? Sama suami sendiri lho”


“ Masalahnya bukan itu kak.. Di kampus nggak ada yang tau kita uda nikah, aku nggak mau jadi sasaran amuk fans kamu”


Tangan kiri naik mengusap kepala Clara “ kamu tenang aja, ada aku disamping kamu nggak ada yang akan nyakitin kamu”


Clara sudah pasrah, dia kehabisan kata-kata untuk berdebat dengan Rey. Rey memang keras kepala, dan memang tidak mudah merubah keputusannya. Clara hanya berdoa semoga gadis-gadis pemuja suaminya tidak berbuat yang aneh-aneh padanya.


Begitu sampai di kampus, Clara mengambil langkah seribu ke kelasnya tanpa mau menengok kanan dan kiri apalagi pamit kepada Rey.


“ Itu lho yang namanya Clara”


“ Tampangnya doang yang polos tapi kenyataannya centil juga”


“ Padahal uda pacaran sama Kak Samuel, tapi masih nyamber pacar orang juga”


“ Nggak tau malu ya. Dia pikir dia uda cantik dan Kak Rey suka ama dia”


“ Padahal kita tau jelas siapa pasangan Rey”


Sepanjang perjalanan Clara menebalkan telinga setiap mendengar sindiran yang cukup terdengar jelas ditujukan padanya. Di kelas pun teman-temannya juga sudah mulai berbisik-bisik membuat Clara tidak nyaman.


“ Aku tau” Clara mendengus kesal, kenapa semua orang tidak ada yang berpikir kalau mungkin saja dia dan Rey adalah suami istri? Ada raut kecewa juga di wajah Clara ketika mengingat ucapan Rey di mobil yang menyuruhnya tenang. Sepertinya Rey tidak ada niat untuk mengumumkan pernikahan mereka. Clara juga tidak bisa menyalahkan teman-teman kampusnya karena memang di awal pernikahan itu dilakukan secara tertutup dan sederhana. Lalu cincin nikah yang merupakan simbol kepemilikan itu tidak pernah dia pakai. Selama ini cincin itu hanya tergantung manis dilehernya tanpa orang tahu, mungkin Rey pun tidak menyadarinya juga.


“ Ra, kamu denger aku ngomong kan?”


“ Denger kok.. Biarin aja aku nggak mau mikirin itu”


Selama materi kuliah hari itu C;ara tidak bisa konsentrasi. Pikirannya melayang jauh memikirkan alasan Rey tidak berniat mengumumkan pernikahan mereka. Apa Rey benar-benar mencintainya? Apa Rey malu menjadikannya istri? Atau Rey masih kecewa dengan dirinya yang dulu pernah meminta agar pernikahan mereka diadakan secara sederhana?


Clara menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tangannya dipakai untuk memijat keningnya yang terasa panas.


“ Ra, kamu mau sampe kapan di kelas? Uda bubar nih”


Clara tersadar dari lamunannya kemudian melihat ruangan itu memang sudah kosong “ Baru bubar ya tan?”


“ Uda dari tadi ra.. Aku manggil kamu tapi kamu nggak jawab sama sekali” Tania memegang kedua tangan Clara “ Ada apa?”


“ Nggak apa-apa tan, mungkin aku capek aja”


“ Kamu yakin?” Ada raut cemas di wajah Tania untuk sahabatnya “ Pulang yuk”


Mereka berjalan menelusuri lorong kampus yang sudah terlihat sepi. Tidak ada percakapan. Tania tahu bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya. Mereke berpisah di ujung lorong karena Clara harus segera ke parkiran mobil.


Dari jauh Clara sudah bisa melihat siluet Rey yang berdiri menyandarkan tubuhnya ke mobil. Clara menarik nafas dalam-dalam berusaha sebisa mungkin tidak mau terpengaruh akan semua gosip. Toh mereka semua yang mencibirnya tidak pernah tahu kenyataan yang sebenarnya.


“ Uda lama nunggu kak?”


“ Belum, ayo pulang”


Suasana di dalam mobil tidak ada yang berubah, hanya ditemani oleh keheningan. Pasangan ini masih berada di pikiran masing-masing.


“ Kamu kenapa Ra?”


“ Kenapa gimana kak?” Rey sudah dengar semua gosip yang beredar tentang dirinya, Clara juga Samuel. Yang sekarang dia pikirkan adalah perasaan Clara, namun gadis yang sekarang berada disampingnya ini terlihat biasa saja. Tidak ada raut sedih, marah atau kecewa sama sekali.


Entah mengapa kalau menyangkut soal perasaan Clara, pria yang terkenal dingin dan cuek ini tidak bisa berkutik. Sangat sulit mengerti perasaan gadisnya.


“ Kak, aku mau pulang ke rumah mommy”


“ Sekarang?”


Clara mengangguk pelan, ragu kalau Rey akan mengijinkannya. “ AKu kangen mommy, daddy sama Kak Ryan juga”