
Hari ini adalah hari pertama Clara mulai kuliah. Rey sudah menunggunya dari tadi di dalam mobil. Saat Clara muncul dari balik pintu rumah, Rey menatap tanpa berkedip. Hari itu Clara memakai dress putih selutut yang dipadukan dengan jaket jeans biru dan sneaker yang warnanya senada dengan dresnya.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka. Sesekali Rey melihat kaca spion memperhatikan gadis itu. Sungguh sangat cantik dengan rambutnya yang panjang terurai. Clara yang sedang asyik memilin rambutnya sambil mentap layar HP. Dia tidak tahu bahwa sedari tadi laki-laki disampingnya berusaha menahan niat untuk menciumnya..
Clara sempat bingung karena mobil Rey masuk dan memarkirkan mobilnya di parkiran.
“ Kenapa?” tanya Rey bingung karena Clara menatapnya
“ Kakak turun juga? Kak, aku bukan anak kecil yang harus dianter sampe depan kelas!” seru Clara
“ Siapa yang mau nganterin kamu?”
“ Ini..??” Clara menunjuk ke arah seatbelt Rey yang sudah dibuka dengan matanya.
Cih
“ Turunlah. Jangan salahkan aku kalau kamu terkunci di dalam mobil “
Rey berjalan meninggalkan Clara. Gadis itu berjalan sambil memikirkan alasan Rey ada di kampusnya. “ Ra, aku deg-degan nih”
“ Kamu duduknya samping aku ya?”
“ Nanti kita foto dulu ya sebelum masuk kelas”
Tidak ada respon dari Clara, dia masih sibuk dengan pikirannya. Setahunya Rey sudah bekerja. Itulah yang selalu dia lihat selama ini.
Pikirannya buyar ketika Tania melambai-lambaikan tangan tepat di depan wajahnya.
“ Ra, kamu kenapa?”
“ Ha? Nggak apa-apa, aku cuma masih ngantuk aja”
Tania hanya menganggukan kepalanya. Mereka berjalan menuju ke kelas sembari tertawa dan tak lupa berfoto di beberapa spot yang menurut mereka bagus.
“ Widiiihh, pengantin baru”
“ Gue liat lho mereka berdua turun dari mobil barengan. Emang suami pujaan sobat kita ini”
Celetuk dua sahabat Rey saat melihat teman mereka sedang duduk manis di kantin sambil menyantap semangkuk bubur ayam. Rey tidak menggubris obrolan kedua sahabatnya itu karena memang dia memang sangat lapar.
“ Yaelah sekarang kita dikacangin nih, Lex”
“ Yoii.. padahal dia yang semalem chat ngajak ketemua. jam 8 di kampus.”
“ Laper gue” saut Rey
“ Kenapa ngga sarapan di rumah baru ke kampus sih?”
“ Nggak sempet. Si Clara kuliah jam 8, gue takut dia kesiangan”
“ Tayikk,Rey!! Lo suru kita dateng kesini cuma buat nemenin lo yang habis nganter istri lo?”
Kegiatan perkuliahan hari ini berjalan lancar. Clara selalu menjadi pusat perhatian, bukan karena wajahnya yang cantik tapi memang dia yang juga mudah bergaul. Kemanapun dia melangkah, semua kaum laki-laki langsung meliriknya sedangkan kaum hawa?
Namanya juga perempuan, ada yang memuji kecantikannya, ada yang merasa iri dan menganggap Clara sangatlah caper ( cari perhatian) dengan laki-laki.
Rey
Pulang jam berapa?
Clara
Jam 3 kak..
Rey
Aku tunggu di parkiran
Clara
Rey
Kemana?
Clara
Nemenin Tania service laptop di Mall..
Setelah chat terakhir, Rey sudah tidak memberi kabar apa-apa lagi. Clara menganggap diamnya Rey adalah sebuah persetujuan dia bisa pergi bersama Tania.
“ Ara, makasih ya uda mau nemenin aku” Tania merangkul pundak Clara. Sesekali dia memberi kecupan di pipi mulu sahabatnya.
“ Traktir makan yaa” ledek Clara yang dijawab denga sebuah hormat layaknya upacara bendera oleh Tania.
“ Sebelum itu, mampir ke club fotografer dulu ya tan”
“ Ngapain?”
“ Mau liat-liat aja”
Clara dan Tania berjalan ke arah gedung Kesenian di sebelah kiri yang berdampingan dengan perpustakaan. Saat pertama kali mendaftar di Universitas S yang ditanya lebih dulu oleh Clara adalah letak club fotografer.
Belum begitu ramai karena belum banyak mahasiswa yang sudah aktif kuliah. Mereka menyusuri koridor memperhatikan tulisan yang terpampang disetiap pintu. Mereka tiba di depan pintu dengan tulisan FOTOGRAFER
“ Ra, sepi.. Besok aja kita balik lagi yukk”
“ Aku cuma mau liat-liat aja. Kamu mau tunggu disini?”
“ Aku ikut masuk aja, ra”
Mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan. Clara berjalan perlahan sambil memperhatikan setiap hasil foto yang ada disana. Sesekali dia tersenyum dan berdecak kagum saat melihat hasil jepretan para seniornya.
Clara memang menyukai kegiatan fotografi, tapi hanya sebatas menyukainya saja. Dulu dia pernah ditawari untuk belajar fotografi namun ditolaknya.
“ Ara..??”
Suara yang cukup mengagetkan baik untuk Clara maupun Tania. Tania terkejut karena suasana saat itu sedang sepi sedangkan Clara terkejut melihat laki-laki yang ada di hadapannya. Dia tidak menyangka akan bertemu Samuel lagi. Tania yang melihat suasana canggung memilih menunggu diluar gedung agar kedua orang itu bisa berbicara dengan nyaman.
“ Kak Muel..” Clara tidak bisa berkata apa-apa
“ Kamu kuliah disini?”
“ Iya kak”
Clara tertunduk, dia tidak mampu menatap wajah lembut laki-laki itu. Samuel berjalan menghampirinya lalu memanggil sekali lagi namanya. Clara tidak bergeming, dia masih menundukan wajahnya. Samuel mengelus lembuk kepala Clara membuat gadis itu akhirnya mengangkat kepalanya.
Samuel menatap Clara beigut dalam namun tak tersirat. Berusaha sekuat mungkin untuk mengukir senyum di wajah
“ Kenapa, ra?”
“ Maafin aku, kak. Aku..aku..” Clara terdiam tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dadanya terasa sesak dan sakit. Perasaan bersalah menyelimutinya.
“ Ara..kamu nggak salah, kenapa minta maaf?”
Air mata yang sudah ditahan sejak tadi akhirnya mengalir deras. Tidak ada suara, hanya linangan air mata yang terus mengalir,
Samuel menghapus air mata itu dengan kedua ibu jarinya berharap gadis yang dicintainya berhenti menangis. Bukannya berhenti, tangis Clara semakin meledak hingga akhirnya dia memeluk Samuel. Menangis dalam pelukan laki-laki yang dicintainya. Kedua insan itu saling berpelukan melepas rindu yang selama ini tertahan.
Sejak melihat Clara dipesta pernikahan, Samuel berusaha menahan egonya untuk tidak memeluk Clara. Kini pertahanannya hancur karena air mata gadisi itu. Dia merasa sudah menyakiti Clara gadis yang dia jaga dengan seluruh hatinya karena kehadirannya yang tiba-tiba..
" Maafin aku ngga bisa tepatin janji, Kak" Clara sadar bahwa sekarang dia adalah istri Rey. Selama ini dia sudah berusaha menjalankan kewajibannya sebagai istri. Namun saat melihat Samuel berdiri di hadapannya, kenangan indah mereka di masa lalu kembali terbayang.
Dua manusia yang saling mencintai tanpa ada terucap kata-kata cinta namun harus dipisahkan oleh takdir.