
Rey menjaga dan memberi perhatian pada Clara yang masih terbaring lemah, tidak sedetikpun Rey meninggalkan sisinya. Tidak ada kata-kata yang terucap lagi sejak Rey menyatakan cintanya. Saat Clara berusaha mengatakan sesuatu, Rey akan mengalihkan perhatiannya seolah takut dengan apa yang mau diucapkan Clara.
“ Rey, mama sama papa minta kamu jagain Clara bukan dibikin sakit”
“ Maafin Rey ma,pa”
“ Untung Om Indra cerita samakami”
Kiran dan Budi segera kembali ke rumah setelah apa yang diceritakan Indra dokter pribadi mereka tentang kondisi Clara. Selama mereka tidak dirumah pun sebenarnya sudah mengetahui hubungan Clara dan Rey yang memanas dari Bi Surti. Tapi mereka pikir itu hanya proses agar mereka semakin memahami satu sama lain.
Clara terbangun karena mendengar suara keributan berasal dari luar kamarnya. Dia segera keluar untuk melihat apa yang terjadi dan mendapati Rey serta mertuanya sedang duduk namun suasana cukup tegang.
Kiran melihat Clara keluar dari kamar segera menghampiri. Terlihat raut cemas terlukis diwajah wanita paruh baya yang pintar merawat dirinya itu.
“ Clara, kenapa bangun? Kita berisik ya jadi ganggu tidur kamu?”
Rey pun yang sudah berdiri disamping Clara segera mengajak Clara masuk ke kamarnya lagi agar bisa beristirahat. Clara sudah bisa membaca situasi yang saat ini terjadi, mertuanya itu sedang menyalahkan Rey.
“ Ma, pa ini bukan salah Kak Rey”
Kiran mengelus pipi mulus Clara “ Kamu jangan belain anak badung ini sayang”
“ Clara nggak belain Kak Rey, tapi memang Kak Rey nggak salah. Semalem Clara belajar sampai malem dan lupa makan jadi kondisinya nge drop deh”
“ Dia nggak nyakitin kamu?”
“ Enggak ma, pa.. Kak Rey selalu jagain Clara kok”
Bohong!
Kiran, Budi dan Rey tahu Clara sedang berbohong menutupi perilaku Rey yang kasar padanya beberapa hari ini. Hanya sekilas melihat tanda merah di leher Clara saja Kiran bisa membayangkan apa yang dilakukan Rey.
Kiran dan Budi memilih diam dan percaya kepada menantunya. Marta, dia memang anak yang kamu lahirkan, batin Kiran sambil memandang wajah Clar.
“ Ra, kamu istirahat ya. Badan kamu belum pulih benar” ujar Rey yang telah memeluk pundak Clara dan mengajaknya berjalan kembali ke kamar.
Sebelum masuk ke kamarnya, Clara memeluk mama mertuanya dengan erat seolah menunjukan rasa menyesal karena telah berbohong.
Rey menemani Clara yang sudah tertidur pulas. Rey pun membariingkan dirinya disampiny sang istri lalu membalikkan tubuh Clara agar berhadapan dengannya. Dipandang setiap inci wajah istrinya yang polos tanpa make up dan masih terlihat pucat.
Diselipka rambut Clara dibalik telinganya “ Maaf sudah menyakitimu. Ijinkan aku membahagiakan kamu”
Akhirnya Rey pun tertidur sambil memeluk istrinya. Walalu lelah sejak subuh belum juga tidur tapi Rey tidak menunjukkannya di depan Clara. Dia benar-benar menyesal dan merasa bersalah telah memperlakukan Clara dengan kasar.
Pukul 7 malam Clara membangunkan Rey yang masih tertidur disampingnya agar turun makan malam dengan orang tuanya. Ditautkan keningnya dengan kening Clara merasakan suhu tubuh Clara.
“ Tentu saja, aku kan sudah minum obat” pipi Clara merona malu mendapat perlakuan manis dari Rey. Buatnya ini adalah hal manis setelah perdebatan dab pertengkaran mereka sebelumnya
Lalu Rey turun dari tempat tidurnya, mencuci muka dan mengganti baju kemudian berjalan bersama Clara menuju meja makan.Kiran dan Budi melihat kedua anaknya turun sambil bergandengan terlihat tersenyum bahagia.
Suasana malam itu kembali cerah seperti semula setelah kedatangan Kiran dan Budi. Obrolan dan canda tawa kembali menemani makan malam mereka, yang berbeda adalah Rey yang terkadang ikut menimpali obrolan ketiga orang itu. Kiran dan Budi pun saling bertukar pandang ketika melihat perubahan anaknya.
Kumpul keluarga malam itu tidak berlangsung lama, Budi menyuruh Rey membawa Clara kembali ke kamarnya agar bisa beristirahat. Ada suasana canggung di dalam kamar, Rey masih berusaha mengalihkan pandangannya dari Clara sedangkan Clara yang badannya masih lemah memilih untuk segera tidur. Mereka berdua tidur dengan saling membelakangi.
Rey meraba-raba sisi lain tempat tidurnya, merasakan bahwa tidak ada siapapun disebelahnya kemudian bangun mengerjapkan mata melihat sekeliling kamar. Rey mendapati Clara yang sedang berdiri di balkon kamar memandang langit malam.
“ Langitnya cantik ya, ra?” Rey memeluknya dari belakang. Diciumnya pucuk kepala Clara sebelum akhirnya dagu Rey bersandar diatas kepala Clara.
“ Aku ganggu kakak tidur lagi ya?”
“ Iya..Karena nggak ada kamu disampingku, jadi kakak nggak bisa tidur”
“ hahaha..Jadi aku ini dianggap guling?”
“ Guling hidup khusus punya kakak yang bisa kakak peluk dan cium setiap hari”
“ Kak Rey, soal kejadian di sekolahku...”
“ Sudahlah..kakak tau kamu butuh waktu buat menata perasaan kamu. Kakak akan kasih kamu semua waktu kakak agar kamu bisa lupa sama dia”
“ Kemarin Kak Muel cuma membereskan semua perasaan yang dia punya sama aku. Dia juga doain agar aku bahagia sama kakak” Clara membalikkan badannya melingkarkan kedua tangannya di leher Rey “ Lalu aku juga bilang sama Kak Muel kalau aku pasti bahagia karena aku mencintainya”
Clara mengecup bibir Rey “ Kita tidur yuk kak” Clara berjalan melewati Rey namun langsung ditarik lagi tangannya. Rey mendekap tubuh Clara dengan erat.
“ Terimakasih sudah mencintaiku” Diciumnya pucuk kepala Clara. Rey merasa bahagia akhirnya cintanya terbalas.
“ Aku juga akan memberikan semua waktuku agar Kak Rey cuma mencintaiku seorang”
“ Aku pasti membuatmu bahagia itu sumpahku”
*******************************************************
Terimakasih sudah membaca novelku ini!!!
Lapyutomat
Jangan lupa di like and vote yaaa biar aku semangat nulisnya...^^