
Hari itu mereka hanya melakukan perkenalan dan pendekatan saja, juga pengumuman untuk keperluan minggu depannya. Setelah itu mereka pulang pukul 14.30
"Udah pulang, gimana latihannya?" Tanya ibu Ayara begitu Ayang tiba, Ayara meminta Prili untuk menurunkannya di depan warung saja
"Tadi cuma perkenalan trus ngobrol ngobrol aja gak latihan"
"Ohh ya udah sana makan"
"Iya.. "
Setelah itu Ayara makan dan menemani ibu hingga sore.
Hari senin..
"Kamu gimana latihannya kemarin?" Tanya Fatimah, mereka saat ini baru saja tiba di kelas
"Kemarin gak langsung latihan, cuma perkenalan sama ngobrol ngobrol aja"
"Ohh.. Berarti minggu depan latihan?"
"Iya.. "
"Gimana kenalan sama orang baru, grogi gak grogi gak?" Fatimah menyenggol bahu Ayara
"Lumayan grogi sih.. Ternyata lebih banyak anak cewek yang ikut daripada anak cowo, paling mereka cuma ada berapa 6 kalo gak salah"
"Kebanyakan anak cowok males kan ikut kegiatan kegiatan kayak gitu"
"Iya.. Eh tapi tau gak ada 1 senior cowok yang tinggi banget beneran, di usianya yang segitu aku pikir dia kelebihan tinggi deh"
"Wahh jangan jangan kelainan"
"Kamu sih? Aku pikir mungkin kamu juga kelainan hahahaha"
"Eh nggak ya. Sembarangan"
"Sekolah tetangga juga ikut berpartisipasi"
"Pasti sih, si Dinda ada gak?"
"Dinda seleb? Emm.. Kayaknya ada" Ayara mengangguk ia pernah sekali melihat Dinda yang dari sekolah tetangga atau lebih tepatnya SMP. Dinda terkenal karena banyak orang menganggap ia cantik dan ia aktif di sosial media.
"Dia gimana sih orangnya? Ko banyak banget yang suka sama dia, si Lukas juga pernah deket katanya huh masih cantikan juga kamu Ay"
"Dia ramah sih.. Tapi kayaknya kalo udah kenal dia agak cerewet. Aku liat dia ngobrol sama temennya bahasanya tuh agak kasar ya menurut aku"
"Heran deh banyak orang yang suka sama dia padahal biasa aja, kulitnya juga item"
"Coklat kali bukan item"
"Itu deh pokoknya"
"Kembali ke pandangan masing masing kan, gak semua orang punya pendapat yang sama"
"Iya sih.. "
"Aya.. " Fadli menghampiri Ayara dengan senyum cerahnya di pagi hari
"Hoekk" Suara okta tiba-tiba
"Kenapa sih kok kamu kayaknya punya dendam kesumat sama aku, okta" Ucap Fadli, ia tahu Okta bereaksi seperti itu karena dirinya
Okta tidak menjawab ia hanya mengangkat bahunya
"Ay kamu tau gak, cewek yang dari SMP siapa aja kemarin?"
"Nggak, aku cuma tau si Dinda aja"
"Kan kemarin baru perkenalan masa gak tau"
"Lupa"
"Ih itu loh cewek yang duduk deket kamu kehalang sama 2 orang"
"Gak tau, kenapa emangnya?"
"Namanya Najwa ih masa gak tau"
"Najwa.. " Ayara terlihat berpikir
"Iya coba inget inget"
"Kalo inget kenapa?"
"Ada sesuatu yang mau aku omongin tapi gak sekarang"
"Soal apa?"
"Ya soal Najwa lah gimana sih"
"Oh"
"Biasa aja dong kok ngegas" Ucap Fatimah
"Iya iya.. " Setelah itu Fadil pergi menuju kursinya tanpa mengatakan apapun lagi
"Aneh banget" Fatimah kesal sendiri
"Si Yuli kenapa akhir akhir ini lebih banyak diem? Gak biasanya" Ucap Hani ia meras Yuli lebih banyak diam sejak hari jumat kemarin
"Iya, gak tau kenapa"
"Beda benget"
"Mungkin lagi ada masalah?"
"Tapi masalahnya, masalah soal apa? Di sekolah gak ada yang buat masalah lagi sama dia"
"Siapa tau masalah di rumah?"
"Masa iya..? "
"Kan katanya hubungan dia sama ibu tirinya gak baik, jangan jangan emang gara gara itu"
"Bisa jadi sih, heran aja gak biasanya banget dia kayak gitu kayaknya ini pertama kali aku liat dia banyak diem"
"Coba tanya kak Rena aja siapa tau dia tau kenapa Yuli keliatan murung"
"Iya ya, coba deh entar kalo ketemu"
Hari ini tidak ada kejadian yang aneh selain Yuli yang berubah menjadi pendiam, selebihnya berjalan seperti biasa. Fadli yang katanya akan ada hal yang di bicarakan dengan Ayara namun hingga pulang dan beberapa hari kedepannya ia tidak mengatakan apapun selain hanya sapaan dan mengobrol biasa.
Hari jumat kemudian..
Di sekolah Ayara tidak sengaja mendengar suara tawa Yanto di kelas sebelah, suaranya sangat berisik dan mengganggu. Saat itu Ayara hendak mengambil uang di tas untuk jajan, karena sebelumnya ia lupa tidak membawa uang tersebut begitu turun ke lantai bawah. Ayara berniat menengok sebentar dari jendela karena sepertinya ia samar samar mendengar suara Gema.
"Yanto!" Ayara terkejut melihat apa yang tengah di lakukan Yanto terhadap Gema, ia menggeplak jendela di depannya untuk tidak pecah. Yanto pun terlihat terkejut
"Yanto hentikan!" Ayara berjalan menuju pintu masuk kelas 9, saat itu kelas sedang sepi dan hanya ada Yanto dan Gema
"Dasar bikin kaget aja! Ngapain lo?" Yanto tengah di penuhi kekesalan
"Hentikan! Ngapain kamu mukulin Gema kayak gitu?"
"Hahhhh...pengganggu!" Yanto mengeraskan suaranya begitu mengatakan pengganggu
"Kasian Gema" Ayara tidak berani melangkah lebih dekat ia masih mempunyai rasa takut pada laki laki di depannya
"Kenapa? Mau ngadu? Ngadu aja" Yanto mengangkat bahunya acuh ia yakin tidak ada tempat untuk Ayara mengadu selain guru, Yanto menganggap cukup mudah jika hanya meminta maaf pada guru saja.
"Awas ya, kalo setelah ini aku liat kamu gangguin Gema lagi"
"Apa lo? Ngancem ngancem. Lo pikir gue takut?"
"Ada apa ini?" Tanya Farhan begitu memasuki kelas
"Ahahaha nggak ada apa apa ini lagi main sama Gema" Yanto tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"...?" Farhan melirik Ayara dengan penuh tanya, kenapa ia ada di sini? Kenapa menatap dengan mata tajam begitu? Pikir Farhan ia mengangkat sebelah alisnya
Setelah itu Ayara pergi tanpa mengatakan apapun
"Kenapa dia?" Tanya Farhan
"Itu.. Gak tau kayaknya tadi mau nyamperin Gema"
"Ohh.. Loh lo kenapa kayak gitu?" Farhan melihat Gema yang tertunduk dengan baju yang sedikit kotor dan wajah gemetar
....
"Ngambil uang aja lama amat" Ucap Fatimah yang sudah pegal berdiri di dekat pedagang bermotor
"Ngapain keluar dari kelas 9?" Okta melihat Ayara baru saja keluar dari kelas 9, bukannya tadi cuma mau ngambil uang?
"Si Yanto bikin ulah lagi" Ucap Ayara yang masih kesal
"Ngebuli si Gema lagi?" Tanya Fatimah
Ayara mengangguk
"Laporin aja ke guru" Ucap Fatimah
"Gak bisa, udah sering lapor guru juga dia gak pernah berhenti"
"Iya sih.. Kasian si Gema tapi mau gimana lagi"
"Aku akan urus nanti" Ucap Ayara, ia segera melupakan kejadian tadi dan hendak jajan
"Hahahaha bisa apa kamu ngurus si Yanto? Waktu kelas 7 aja kamu sering berantem sama dia" Ucap Fatimah
"Iya ya, kenapa sekarang udah gak berantem lagi?" Tanya Okta
"Siapa juga yang mau berantem sama dia" Ucap Ayara kesal
"Jangan jangan udah baikan?" Tanya Okta
"Loh Ay kapan baikannya? Kok gak bilang bilang"
"Aku gak pernah baikan ya.. Cuma udah gak peduli aja" Ucap Ayara
"Masa...?"
"Ohhh gituuuuu" Fatimah sengaja memajukan bibirnya