
“ AAAaaaaaaa!!!! “
“ Kenapa kamu berteriak sepagi ini “
“ Kenapa kakak ngga pakai baju ?!“ Clara menutup wajahnya menahan malu. Bagaimana tidak ini pertama kalinya dia melihat laki-laki yang hanya mengenakan boxer berkeliaran di kamar. Sekilas dia menatap bentuk badan Rey yang sempurna itu. Jantungnya berdetak lebih kencang.
“ Aku mau mandi, memang ada orang yang mandi pakai baju ?”
“ Maksudku tolong jangan berkeliaran di dalam kamar tanpa memakai baju”
“ Jadi aku boleh berkeliaran kalau ngga pakai celana nih?”
“ Tidak kak!! Jangan seperti itu”
“ Sudah sudah..Kamu tolong siapkan baju untukku”
“ Gimana kalau aku siapkan air hangat untuk kakak mandi?”
“ Ngga perlu.. Siapkan baju untukku saja”
“ Tapi kak...” Wajah Clara nampak merah karena malu “ Aku ngga bisa ambil yang itu” Tangan Clara menunjuk ke salah satu bagian lemari yang ternyata berisi pakain dalam Rey.
Rey berjalan mendekati Clara, sedangkan Clara semakin mundur kebelakang hingga akhirnya terjatuh duduk di sofa. Rey menatap wajah Clara yang tertunduk kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Clara dan berbisik
“ Sayang..kamu harus terbiasa dengan semua ini..Karena aku suamimu..”
Wajah Clara semakin memerah. Dia berusaha mendorong tubuh Rey agar menjauh darinya. Dengan sigap Rey menarik tangan Clara hingga mereka berdua sama-sama berdiri. Tangan kiri Rey sudah melingkar dipinggang Clara.
Mereka bertatapan cukup lama.
“ Kak Rey Jangan begini..Aku..akuu maluu kak” Clara berusaha melepaskan diri dari pelukan Rey. Rey tidak bergeming, pelukannya semakin erat pada gadis itu.
“ Kak please...” Clara memohon dengan wajah yang amat memelas dan bibir yang sengaja dia majukan. Terukir senyum tipis diwajah Rey. Kemudian Rey melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah mandi.
“ Kak, aku sudah letakkan bajumu diatas tempat tidur. Untuk pakaian dalam kamu ambil sendiri ya” Clara langsung berlari meninggalkan kamarnya menuju dapur.
“ Clara kenapa kamu lari-lari di tangga nak? Nanti jatuh”
“ Nggak apa-apa ma. Pengen cepet turun aja biar bisa bantuin mama di dapur” Clara tersenyum menyembunyikan rasa malunya akibat ulah Rey tadi “ Ada yang bisa Clara bantu ma ?”
“ Kamu sarapan dulu.. Bi Surti udah siapin sarapan”
“ Nggak apa-apa ma aku bantuin mama dulu aja. Nanti kita sarapan bersama aja”
Tidak lama kemudian Rey turun dan langsung duduk di meja makan.
Plak!
“ Kakak! Tunggu dulu dong! Papa aja belum duduk di meja makan masa kamu sudah mau makan?”
Clara bergegas menghampiri papa mertuanya yang sedang asyik duduk di taman belakang ditemani oleh segelas kopi dan koran.
Rey kaget saat tangannya dipukul, bukan soal sakit karena memang tidak sakit. Tapi lebih kepada kalimat yang diucapkan Clara padanya. Rey memang menyayangi orang tuanya, tapi tidak pernah menunjukkan perhatiannya secara langsung. Dia merasa canggung jika harus melakukan semua itu.
Susan dan Bi Surti yang melihat kejadian itu saling berpandangan dan tersenyum.
“ Akhirnya keceriaan sudah kembali ke rumah ini ya bi”
“ Iya nyonya”
Tidak lama Clara dan Budi datang bersamaan dari arah taman sambil tertawa.
Kegiatan sarapan pagi itu pun terasa hangat. Sesekali mereka tertawa karena cerita lucu Clara. Budi sempat terkejut saat melihat anaknya belum sarapan akibat diomelin Clara. Karena biasanya Rey akan sarapan duluan baru menyusul Budi dan Kiran.
Sekilas Rey melirik kearah Clara yang sedang bercerita dengan wajah tersenyum bahagia. Apa dia tidak capek sejak tadi terus saja mengoceh, begitu batin Rey. Rey memperhatikan wajah istrinya mulai dari mata, hidung dan juga bibirnya. Terlihat kecantikkan yang natural tanpa ada make up tebal. Sangat cocok untuk gadis seusianya
Selesai sarapan mereka duduk diruang keluarga melnajutkan obrolan yang tertunda saat sarapan. Rey tidak banyak bicara hanya sesekali menanggapi pertanyaan dari orang tuanya.
Percakapan itu berakhir karenabunyi pesan yang masuk ke HP Clara dari Tania. Temannya itu sudah bersiap-siap untuk bertemu di mall.
“ Kak aku pergi dulu ya. Ma.. pa.. Aku pamit dulu yaa”
“ Mau kemana sayang?”
“ Mau ke mall ma. Aku mau beli buku dan perlengkapan yang lain”
Clara beranjak naik ke kamarnya untuk mengambil tasnya dan sekali lagi pamit kepada suami serta orang tuanya.
“ Rey, kamu antar istrimu dong” ujar Budi saat melihat Rey tidak beranjak juga dari tempat duduknya
“ Dia yang mau pergi sendiri pa”
“ Iya pa. Semalam Kak Rey sudah nawarin diri untuk nganter aku tapi aku yang menolaknya”
“ Jangan sayang. Biar Rey yang temenin kamu ya?” ucap Kiran “ Ayo temenin istrimu Rey “
“ Ayo” Tanpa persetujuan Clara, Rey menggandeng tangan mulus itu keluar dari rumah. Sebelum meninggalkan rumah, Clara masih membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan kepada Budi dan Kiran yang berdiri di depan pintu rumah.
“ Lihat wajah Clara pa. Dia sangat cantik dan juga ceria”
“ Iya ma. Melihat sosok Clara mengingatkanku pada Santoso”
Dua orang iitu menatap mobil hitam yang baru saja meninggalkan rumah dengan sejuta senyum juga harapan. Semoga pernikahan mereka langgeng sampai kakek nenek. Sampai mau memisahkan.