
Pukul 8 pagi Clara sudah tiba di tempat dulu dia bersekolah, SMA Pelita Bangsa.
“ Kamu selesai jam berapa?”
“ Mungkin sore kak, kenapa?”
“ Tunggu aku.. Nanti aku jemput”
Clara mengangguk dan segera turun berlari kearah teman-temannya berkumpul. Clara tidak mau lama-lama di mobil karena takut Rey akan meminta dia menciumnya. Sejak mereka berciuman di mobil waktu itu, Rey selalu menciumnya entah sebelum turun dari mobil, sebelum tidur, bangun tidur. Sudah berapa banyak ciuman yang mendarat di bibirnya pun Clara tidak tahu. Kali ini Clara sengaja menghindar karena dia tidak mau teman-temannya melihat wajahnya yang memerah.
“ Haaii Clara!! Kapten kita nih!!” sorak para gadis ABG itu
“ Apa kabar?”
“ Sombong banget nggak mau bareng kita kesininya”
“ Dianterin siapa sih emang?”
“ Pacar yaa?? Kenalin dong!!”
Belum sempat menyapa Clara sudah dihujani berbagai macam pertanyaan dari teman-temannya. Kemarin mereka memang berjanji akan berkumpul di rumah Laura dan berangkat bersama. Tapi tadi pagi dirumah Clara sempat berdebat dengan Rey yang memaksa mau mengantarnya.
“ Yaudah kalau kamu nggak mau aku antar, kamu nggak usah ikut lombanya”
Dengan satu kalimat Rey sudah bisa membungkam puluhan alasan yang belum terucap dari bibir Clara.
Setelah memastikan bahwa teman-teman yang ditemui Clara adalah perempuan semua, Rey menjalankan mobilnya ke kampus.
Acara pentas seni pun dimulai dengan kata sambutan dari Kepala Sekolah dan Ketua OSIS lalu dilanjutkan pertunjukan tari.
Clara and the genks sempat menyapa para guru untuk sekedar mengenang cerita semasa mereka bersekolah dulu
Pertandingan basket baru dimulai ketika jam menunjukkan pukul 10. Semua perwakilan dari masing-masing kelas sudah berkumpul di lapangan basket.
Berbagai macam kegiatan mulai dari cafe yang didesain sesuai dengan kreativitas para murid, pertunjukan drama, pameran lukisan dari para siswa berbakat dan lainnya.
Kehadiran Clara pun tak lepas dari perhatian para junior. Clara and the genks pun sempat diundang naik ke atas panggung untuk sesi tanya jawab bersama coach basketnya dulu. Tidak banyak kata yang diucapkan Clara diatas panggung, dia lebih suka membiarkan coach atau teman-temannya yang menjawab pertanyaan seputar basket.
Clara menjadi idola para siswa. Banyak diantara mereka yang mau berfoto dengan Clara, dan dengan senang hati Clara berfoto bersama. Tentu saja Clara mengajak teman-temannya juga berfoto.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang ketika mereka semua sedang istirahat disebuah cafe yang dibuat oleh para siswa.
Duduk sambil menikmati santapan makanan ditemani dengan alunan musik yang ada tidak jauh dari mereka duduk sekarang.
“Halo, selamat siang. Perkenalkan saya Samuel Wijaya, saya hari ini hadir disini karena diundang oleh Bapak Kepala Sekolah kita.”
“ Uhuk..u..uhuk..” Clara tersedak makanannya ketika mendengar nama Samuel kemudian mengedarkan pandangan kearah asal suara itu. Lain dengan teman-temannya yang sudah menduga kehadiran Samuel di acara ini untuk memberi kejutan kepada Clara dan kenyataannya memang Clara cukup terkejut.
Sejak kapan? Batin Clara
“ Saya sudah liat keseluruhan acara hari ini dan sangat kagum dengan kreativitas kalian.” lapangan pun langsung dipenuhi oleh kaum hawa yang histeris memanggil nama Samuel.
MC pun meminta untuk Samuel menampilkan sesuatu untuk menghibur kaum hawa yang sudah saling berdesakan.
“ Waduh, keahlian saya cuma di fotografi dan kebetulan tidak membawa kamera hari ini. Kalau bawa saya mau foto kalian semua”
“ Gimana kalau nyanyi 1 buah lagu?” ujar MC diikuti sorakan yang semakin kencang dari kaum hawa yang meminta Samuel bernyanyi.
“ Hmm.. baiklah” Samuel membisikan lagu yang dia mau ke salah saut pemain musik “ Semoga kalian tau lagu ini ya”
Musik pun mengalun
Menatap indahnya senyuman di wajahmu
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesra tubuhku
Banyak kata
Yang tak mampu kuungkapkan
Kepada dirimu
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Disetiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Sepanjang hidupku
Meski waktu akan mampu
Mengambil seluruh ragaku
Kuingin kau tahu
Ku selalu milikmu
Yang mencintaimu
Sepanjang hidupku
Sorakan dan tepuk tangan semua ditujukan kepada Samuel. Samuel segera pamit turun dari atas panggung dan kemudian berjalan ke arah Clara.
“ Ra, Kak Sam jalan ke arah sini!!” seru teman-temannya yang mulai heboh
Clara bangkit dari tempat duduknya melihat ke arah laki-laki yang sudah ada di depan matanya..
Dengan pelan Samuel memeluk tubuh Clara dan menyenderkan kepalanya di pundak Clara.
“ Kak, jangan begini. Aku nggak enak sama orang-orang” Clara berusaha melepaskan pelukannya. Dia tidak mau orang-orang salah paham dengan hubungannya, dia mau menjaga perasaan Rey.
“ Sebentar aja, ra. Kakak cuma mau membalas waktu 3 tahun yang kakak buang sia-sia tanpa ada hasil.”
“ Apa maksud kakak?” Clara masih berusaha melepaskan dirinya
“ Clara, aku mencintaimu sejak semua waktu yang kita habiskan bersama. Aku ingin menjaga dan melindungimu dengan kedua tanganku, tapi sekarang aku sudah kehilangan hak itu. Sekaang ada Rey yang akan menjagamu. Tentu saja aku berharap kamu tetap menganggapku sebagai seorang kakak. Dan sebagai seorang kakak aku dengan tulus mendoakan kebahagiaanmu”
Clara menitikkan air mata terharu dengan kalimat yang diucapkan Samuel. Ya selama ini akhirnya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, hanya takdir yang menuliskan bahwa ikatan diantara mereka hanya bisa sebatas hubungan kakak beradik saja.
“ Kak Muel, kakak adalah cinta pertamaku dan tentu saja kak Muel adalah kakakku. Kakak selalu memiliki tempat special di hatiku bersama dengan keluargaku juga Kak Ryan. Terimakasih untuk doanya, aku pasti akan bahagia karena aku sangat mencintainya kak. Doaku juga semoga kakak menemukan orang yang kakak cintai”
“ Terimakasih, Ara”
Mereka melepas pelukan itu diiringi dengan sorakan dari para siswa. Di mata semua orang dan seorang pria adegan itu seperti ungkapan cinta.
Seorang pria yang sejak 20 menit yang lalu sudah hadir disitu dan menyaksikan semua adegan yang dipertontonkan Samuel dan Clara. Siapa lagi kalau bukan Rey.
Api cemburu menguasai Rey, dia sudah tidak bisa berpikir jernih. Rey kembali ke mobilnya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
Sebenarnya saat melihat gelagat Samuel yang berjalan ke arah Clara Rey sudah mau menarik tangan istrinya pulang. Tapi diurungkan niatnya karena dia juga mau melihat respon dari Clara. Tidak disangka respon Clara yang terlihat welcome menerima pelukan tanpa ada usaha penolakan.