Heartstrings

Heartstrings
Persiapan


Selama sebulan ini keluarga Clara dan keluarga Rey sibuk mempersiapkan acara pernikahan mulai dari gaun, hotel dan restaurant.


Clara meminta kepada orang tuanya agar acara pernikahan ini dibuat sederhana saja. Karena jujur dirinya belum siap kalau orang-orang tahu dia sudah menikah.


Tidak terasa besok adalah hari pernikahannya. Pagi ini Clara sudah duduk manis di meja makan bersama Ryan menanti Susan yang sedang mengoles roti dengan selai coklat untuknya. Tidak ada guratan tegang pada wajah Clara seperti layaknya calon pengantin lain. Sampai saat inipun Clara baru satu kali bertemu dengan Rey, yaitu pada acara foto prewedding. Kesan pertama yang Clara tangkap saat melihat Rey adalah laki-laki ini dingin. Tidak ada senyum sama sekali begitu pikir Clara.


“ Eh calon pengantin, gimana rasanya besok nikah ?” goda Ryan


“ Biasa aja tuh kak “jawab Clara sambil mengunyah roti coklat dihadapannya


“ Nggak tegang nih?”


“ Enggak kakakku sayanggggg......”


Lalu mereka berdua tertawa sambil melanjutkan aksi saling meledek lagi. Awalnya Susan khawatir Clara akan tertekan dengan acara pernikahan, namun setelah melihat senyum anaknya pagi ini semua kekhawatiran itu berkurang.


“ Kita jalan-jalan yuk ra hari ini. Hitung-hitung lepas masa jomblo kamu” ajak Ryan


“ Kemana kak?”


“ Kemana aja yang kamu suka “ Clara berpikir sejenak memilah tempat mana yang ingin dia kunjungi “ Ayo “


Ryan menarik tangan Clara berjalan keluar rumah. Bahkan mereka belum sempat pamit dengan kedua orang tuanya. Susan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anaknya.


 Pemakaman


***


 Clara dan Ryan berdiri didepan makam Marta dan Santoso. Tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari bibir mereka. Mata mereka menatap lurus ke arah batu nisan itu penuh dengan makna yang mendalam


Om,,tante,,


Ryan janji akan tetap jagain Ara walaupun dia sudah menikah..


Memastikan hidupnya bahagia tanpa ada air mata..-Ryan


 “ Ara, kakak tunggu di mobil ya?” Tidak ada jawaban dari Clara. Dia masih termenung menatap batu nisan. Matanya mulai terasa panas, rasanya ingin menangis. Tak lama butiran kristal itu sudah memenuhi pelupuk matanya.


Ma..pa..


Besok Ara akan menikah dengan calon yang sudah kalian tentukan.


Ara mau jadi anak yang berbakti sama orang tua..


Doain Ara ya ma,,pa,,


Semoga smuanya berjalan baik-baik saja.


Ara sayang papa mama..-Clara


 Cafe


***


Sementara itu disebuah cafe, Reynaldi duduk bersama dengan dua orang temannya merayakan status lajang Rey yang akan segera di lepasnya. Hanya Rey yang terlihat frustasi dengan keadaan ini. Hatinya belum siap untuk menikah.


“ Biasalah bro calon pengantin pasti nervous” tambah Dave


Rey terus diam membayangkan mau jadi apa pernikahan ini yang tanpa berlandaskan cinta dan kejujuran. DIa terpaksa menyetujui pernikahan ini karena hutang budi di masa lalu. Rey menyenderkan kepalanya ke sofa, mengingat kembali pembicaraan dengan Budi pada hari itu.


“ Pa, aku belum siap nikah “ ujar Rey


“ Kenapa memang? Umur kamu sudah cukup kok untuk menikah, pekerjaan sudah ada. Mau apa lagi Rey ? desak Budi


“ Bukan gitu pa. Rey aja belum liat seperti apa anak gadis yang akan papa jodohin sama aku”


“ Kamu kira papa sama mama ini memilih calon pasanganmu asal-asalan? Dia anak Om Santoso” terang Budi


Seketika Rey terdiam. Nama Santoso dan Marta akan selalu dikenang oleh Rey. Mereka adalah orang yang dia sayang sekaligus penyelamatnya.


“ Rey, papa sama mama berharap kamu bahagia.. Itu aja”


“ Tapi ngga harus menikah juga kan pa ? Papa sama mama bisa angkat dia jadi anak”


“ Kamu pikir keluarga Salim tidak bisa membesarkan gadis itu dengan tangan mereka sendiri? Siang nanti papa sama mama akan datang ke keluarga Salim untuk membahas perjodohan ini”


“ Rey, dengarkan omongan papamu ya, nak?” Kiran yang sedari tadi diam akhirnya buka suara berusaha membujuk anaknya itu.


“ Atau kamu masih memikirkan Icel yang pergi ngga tau kemana itu?” sindir Budi. Sejak awal Budi memang tidak merestui hubungan Rey dengan Michele ( panggilan sayang Rey : Icel ). Selain karena janjinya dengan Santoso, Budi merasa Michele tidak mencintai anaknya dengan tulus.


“ Papa! Kenapa jadi bawa-bawa Icel sih?”


“ Rey, papa yang lihat dan rasakan bagaimana hancurnya kamu saat perempuan itu pergi tanpa pamit” Budi mencoba memberi tahukan fakta yang tanpa harus disebut pun Rey sudah tahu. Bahwa gadis yang dicintainya itu pergi meninggalkannya 3 tahun lalu tanpa sebuah kata.


“ Suka atau tidak kamu akan tetap menikah engan gadis pilihan papa!” Budi menutup percakapan hari itu dengan tegas tak terbantahkan.


Rey menghembuskan kasar nafasnya.


“ Baiklah pa. Rey bersedia menikah”


Kini ada sedikit perasaan menyesal atas ucapannya kepada Budi.


“ Udah lah Rey, hepi sedikit dong” hibur Dave “ By the way punya foto calon istri lo ngga? “


“ Buat apa? “


“ Penasaran kaya apa ceweknya “


“ Ngga punya gue “


“ Yaelah pelit lo! Belum jadi suami udah posesif gini”


Begitulah kejadian hari itu. Baik Clara maupun Rey memiliki pemikiran sendiri terkait pernikahan ini. Keduanya berusaha menjalani dengan berbagai keraguan dan kebimbangan hati.


 Cinta?


Menjadi sesuatu yang mahal menurut Clara dan Reym karena pada akhirnya mereka menikah dengan orang yang tidak mereka cintai.


^^^