
Brakk!!!!
Rey membanting pintu kamar dengan sangat kencang lalu mendorong Clara ke arah tembok sambil memegang tangannya diatas kepala.
“ Apa yang sudah kamu lakukan hah?!” teriak Rey
“ Sakit, kak.. Lepasin aku”
“ Aku membiarkanmu sendiri bukan untuk menggoda laki-laki lain!”
“ Siapa yang menggoda sih kak? AKu juga nggak sengaja ketemu Kak Muel di taman”
“ Sudah kukatakan untuk bertemu dengan pujaanmu di tempat dimana tidak ada satu orangpun mengenal kalian. Tapi kamu bahkan diam-diam bertemu dengannya dikampus dan ditaman. Hebat Clara!! Kamu memang wanita luar biasa!!”
“ Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Kak Muel”
“ Ayolah Clara kamu pikir aku ini bodoh yang tidak bisa melihat bagaimana kamu memandang laki-laki itu?”
“ Sepertinya kakak lupa dengan kesepakatan kita yang pertama, apa perlu aku ingatkan lagi?”
Rey terdiam. Waktu itu perjanjian dibuat karena memang dia tidak mencintai Clara. Lalu bagaimana sekarang? Apa memang sudah ada rasa cinta yang tanpa dia sadari tumbuh dalam hatinya?
Mengapa dia sangat marah saat melihat Clara yang menangis di depan Samuel?
Bukankah bagus jika mereka berdua salling mencintai? maka dia akan dengan sukarela menceraikan Clara. Sampai detik ini bahkan Rey pun sudah lupa niatnya untuk menceraikan Clara.
“ Apa kakak mulai mencintaiku?” tanya Clara hati-hati. Dia ingin memastikan apa dia bisa membuka hatinya untuk laki-laki ini.
“ Cinta? Jangan bercanda Clara. Apa kamu pikir aku akan jatuh cinta dengan wanita penggoda sepertimu?”
Hancur sudah hati Clara mendengar kalimat yang keluar dari mulut Rey. Benar-benar sudah tidak ada harapan lagi dalam pernikahan mereka.
“ Kalau begitu tolong lepaskan tangan wanita penggoda ini agar aku tidak membuat kotor tanganmu. Dan.. biarkan aku pergi”
“ Sebagai wanita penggoda, harusnya kamu tau siapa yang harus kamu layani”
Rey melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan kamar. Clara terjatuh ke lantai dan menangis tersedu-sedu. Luka yang telah Rey torehkan terlalu dalam. Clara terus menangis merasakan sesak di dada hingga dia sendiri sulit bernafas.
Rumah Dave
***
“ Ada apa lo kesini? Tumben amat”
“ Gue berantem sama Clara” Rey menceritakan peritstiwa sejak dia melihat Clara menangis di gedung kesenian sampai hari ini dengan singkat padat dan jelas. Rey juga menceritakan kesepakatan mereka setelah menikah
“ Bagus dong Rey, lebih cepet dia dapet pacar lebih cepet lo bisa ceraiin dia”
“ Kok lo belain mereka? Gue nggak bakal ceraiin Clara!”
Rey terkejut dengan apa yang baru saja dia ucapkan
“ Kenapa lo nggak mau ceraiin dia?”
“ Karena.. ya karena...”
“ Karena lo cinta sama dia Rey”
“ Jangan bercanda lo. Nggak mungkin gue jatuh cinta sama anak dibawah umur” Rey menegak sekaleng bir untuk mengalihkan perhatiannya
Rey bahkan tidak bisa membayangkan jika Clara kembali bertemu dengan Samuel. Itu bisa membuatnya gila, pikir Rey.
Apa aku mencintainya?
Sejak kapan cinta itu muncul?-Rey
“ Terus lo mau sampe kapan di rumah gue?”
“ Gue nginep disini aja.Males pulang” Rey sudah merebahkan dirinya diatas tempat tidur milik Dave.
“ Yaudah terserah lo aja”
Rumah Salim
***
Setela puas menangis, Clara merapikan dirinya dan pamit ke Bi Surti untuk menginap di rumah orang tuanya. Susan dan Haris terkejut melihat anaknya datang tiba-tiba tanpa ada kabar. Clara beralasan kalau Rey sedang sibuk dsaat Susan tidak melihat kehadiran Rey bersama Clara.
Clara dengan terpaksa membohongi orang tuanya agar mereka tidak khawatir.
“ Sayang, kamu uda info Rey belum kalo mau nginep disini?” tanya Haris disela-sela makan malam
“ Belum dad.. Nanti habis makan aku kabarin Kak Rey”
“ Jangan bikin suami kamu khawatir ya sayang”
Clara menganggukan kepalanya namun sebenarnya dia sama sekali tidak berniat mengabari Rey. Toh Rey juga tidak akan pusing memikirkan dirinya.
Selesai makan malam Clara langsung pamit ke kamarnya karena ingin mengerjakan tugas kuliah yang belum sempat dia sentuh.
Sudah 1 jam dia membolak-balikan halaman buku didepannya namun belum semua soal selesai dijawab. Pikirannya masih melayang memikirkan perkataan Rey sore tadi. Sekalipun diantara mereka memang tidak ada cinta, tidak seharusnya Rey menghinanya seperti itu.
“ Araaaaaaa....” Clara terkejut mendengar suara sekaligus melihat kehadiran Ryan yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
“ Kakak ngagetin aku tau nggak”
“ Enggak tau tuh. Habis udah kakak ketok pintu kamarnya tapi nggak dijawab, yaudah kakak masuk aja”
“ bohong banget. Pasti sengaja kan?”
“ Kamu ngelamunin apa? Mikirin Rey?”
“ Ngapain aku mikirin dia. Mending mikirin nih tugas aku belum selesai”
“ Lagi berantem sama Rey?”
“ Enggak, kak. Aku benar lagi mikirin tugas kuliahku. Besok harus dikumpulin dan dosennya itu killer” Clara memasang tampang memelas agar kakaknya mau membantunya mengerjakan tugas kuliah.
“ Ara, kamu udah dewasa dan menikah. Kakak nggak akan tanya alasan kenapa kalian berantem, tapi selesaikan masalah kalian baik-baik.“
Tidak ada suara dari mulut Clara. Dia sendiri bingung bagaimana menjelaskan keadaan pernikahannya dengan Rey. Dia pun tidak tega kalau harus melihat orang tuanya sedih akibat ulahnya.
“ Iya kak. Ara ngerti kok”
“ Yasudah kali ini kakak bantuin belajarnya” Ryan mengusap kepala Clara yang tertunduk.
Malam pun berlalu namun baik Rey dan Clara masih belum bisa memejamkan mata. Terbiasa selalu bersama membuat mereka saling merindukan satu sama lain. Saling berharap bahwa akan ada yang menghubungi mereka.