
Siang itu di kantin salah satu SMA terbaik di kota, duduk dua gadis remaja yang baru saja menyelesaikan rapat panitia untuk acara perpisahan kelulusan. Mereka sangat sibuk mengingat acara kelulusan ini tinggal menghitung hari.
“ Aku benar benar sudah tidak sabar dengan acara kelulusan tahun ini “ seru Tania sahabat Clara sejak SMP.
“ Ayo kita lakukan yang terbaik untuk acara kelulusan kita ini “ ujar Clara.
“ Denger-denger Mario nyatain perasaannya sama kamu ya ra ?” tanya Tania ingin memenuhi rasa ingin tahunya. Clara hanya mengangguk ringan sambil menyeruput jus mangga didepannya.
“ Terus kamu jawab apa ra?” Tania sudah mulai gemas “ jangan bilang kamu tolak dia?”
“ Iya.. Emang mau apa lagi ?” jawab Clara enteng sambil memeriksa HP nya
“ Gila ra! Itu Mario cowok paling populer disekolah kita!”
“ Kalo kamu suka dia, kamu aja yang pacaran sama dia” Clara mencubit gemas pipi Tania. Lalu berdiri hendak pergi meninggalkan Tania di kantin
“ Mau kemana ra? Kita jalan yuk? “
“ Sorry tan, aku harus kembali ke rumah secepatnya. Tadi pagi mommy sudah menitip pesan padaku sebelum aku berangkat sekolah “ jawab Clara
“ Ada apa ? “
“ Entahlah” Clara tidak terlalu mengambil pusing dengan pesan Susan, ibu angkatnya itu. Selama ini dia selalu menuruti keinginan dari orang tua angkatnya. Yaa.. tepatnya sejak dia sudah mengerti bahwa orang tua yg selama ini membesarkannya adalah orang tua angkatnya. Orang tua kandung Clara sendiri sudah meninggal saat dirinya baru berusia 5 tahun dalam sebuah kecelakaan.
“ Aku duluan yaa tan ! “ pamit Clara sembari beranjak dari bangku kantin menuju parkiran mobil.
***
Diparkiran Tono sudah menunggu Clara.
“ Siang non “ sapa Tono supir yg diutus Susan sembari membukakan pintu mobil
“ siang juga pak “
Mobil itu melaju meninggalkkan parkiran. Sepanjang jalan Clara sibuk melihat lihat brosur Universitas yang akan dia pilih. Dia sudah menetapkan hatinya akan kuliah di salah satu universitas favorit di kota itu. Setelah 20 menit menempuh perjalanan akhirnya Clara sudah tiba di rumah.
Di halaman rumahnya sudah parkir mobil mewah yg tidak dia kenali. Sepertinya ada tamu, batin Clara.
“ Ada tamu dirumah ya pak ?”
“ Kurang tau non. Waktu Bapak jemput non di sekolah sih belum ada yang dateng kesini”
“ Oo.. Makasih ya pak sudah jemput saya” Clara melempar senyum penuh rasa hormat kepada Tono.
Saat Clara melangkah masuk ke dalam rumah, dia melihat Susan dan suaminya Haris sudah duduk di ruang tamu berbincang dengan dua orang asing yg tidak dikenalinya. Susan menyadari kehadiran Clara.
“ Ara, sini” ucap Susan
Clara berjalan menghampiri Susan dan Haris, lalu duduk diantara mereka
“ Sayang kenalin ini tante Kiran dan om Budi” ucap Susan sambil tangan kiri memeluk pundak Clara dan tangan kanannya mengarah ke dua orang didepannya. Clara membungkukkan setengah badannya memberi hormat kepada tamu didepannya.
“ Halo om..tante.. Saya Clara “ jawab Clara dengan senyuman ramah
“ Clara memang sangat cantik, persis seperti Marta”, puji Kiran
Deg!!
Nama yang terasa hangat namun hanya sebuah kenangan. Nama yg selalu tersimpan dalam hatinya paling dalam. Nama yg selalu dia rindukan siang dan malam.
“ Tante kenal mama saya ? “ tanya Clara
“ Sudah ma, jangan seperti ini. Kita datang kesini untuk membicarakan hal penting dengan Clara” Budi menepuk pundak Kiran berusaha menenangkan istrinya itu.
“Clara..” Susan memegang kedua tangan Clara “ Om Budi dan Tante Kiran datang kesini karena ingin membahas perjodohan kamu dengan anaknya Rey “
Clara diam membisu. Perasaannya tidak menentu. Otaknya berusaha mencerna perkataan wanita cantik didepannya ini. Setelah diam beberapa saat otak Clara sudah mencerna maksud perkataan Susan dan berharap apa yg baru saja diucapkan Susan hanya sebuah lelucon yg sebenarnya juga tidak lucu.
“ Iya Clara.. Tante mau kamu menikah sama anak tante Rey “ timpal Kiran
“ Mom, boleh katakan padaku alasan aku harus menikah dengan anaknya tante Kiran ? “ tanya Clara
“ Karena itu janji antara orang tuamu dan om Budi juga tante Kiran sayang “ jawab Susan sambil membelai pipi anak dari kakaknya itu. Susan dan Marta adalah kakak beradik. Disaat kakaknya dan suaminya meninggal, dia dan Haris memutuskan untuk mengadopsi Clara. Bagi Susan, keponakannya Clara sudah seperti anak kandungnya sendiri karena memang dia menginginkan anak perempuan. Susan dan Haris membesarkan Clara dengan kasih sayang yang melimpah.
“ Tapi ara masih mau kuliah, masih mau raih cita-cita mom?”
“ Mommy tau sayang. Ara masih bisa kuliah, masih bisa menggapai cita-cita juga. Tidak ada yang memaksa kamu harus jadi istri rumahan yang hanya mengurus suami saja”
Clara terdiam. Pikirannya menerawang jauh. Bagaimana dia bisa menikah dengan laki-laki yang belum pernah dia temuin dan dia cintai?
Gimana ini?
Aku ngga mungkin membantah mommy and daddy..
Mereka pasti sedih kalau aku melawan..
Tapi Tuhan aku benar-benar belum siap kalau untuk menikah- Clara
“ Ara?” Susan memegang kedua pipi Clara dengan tangannya, mencari sebuah jawaban atas perjodohan ini.
“ Gimana sama Rey? Apa dia juga setuju dengan perjodohan ini?” tanya Clara berharap laki-laki bernama Rey itu menolak perjodohan sehingga dia juga memiliki alasan untuk tidak menerima
“ Rey setuju kok Clara” jawa Budi memandang calon mantunya, tersenyum ramah.
Clara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan pelan, menatap mata Susan yang selama ini membesarkannya. Mengingat kembali nama orang tuanya.
Ma..Pa..
Kalau aku menikah dengan anak tante Kiran, apa kalian akan bahagia?
Apa kalian tersenyum diatas sana?
Apa aku tidak akan mengecewakan kalian?- Clara
“ Mom ded,, Ara setuju menikah dengan Rey” Clara memandang kedua orang tua angkatnya itu. Senyum sumringah terlukis diwajah Susan dan Haris. Susan memeluk erat Clara sedangkan Haris mengusap-susap kepala anaknya itu. Kiran dan Budi yang mendengar jawaban Clara pun tak luput dari perasaan bahagia dan juga sebuah kelegaan. Akhirnya janji itu bisa terwujud.
Sementara itu dalam pelukan Susan, Clara berusaha menghibur hatinya. Menahan panasnya mata karena ingin menangis.
Nggak apa-apa Ara..
Semua akan baik-baik aja..- Clara
“ Boleh saya tanya sesuatu hal sama tante Kiran dan Om Budi ? “ tanya Clara
“ Boleh sayang.. Apa yang mau kamu tanyakan?” jawab Budi
“ Seperti apa orang tuaku?”
“ Om dan papamu adalah sahabat sejak kecil.” ujar Budi memulai kisah panjang pertemanannya dengan Santoso