
Siang ini Susan sedang duduk di ruang keluarga sambil memutar sebuah video. Di video itu tampak seorang bocah laki-laki sedang mengajari seorang anak perempuan untuk berenang. Wajah gadis kecil itu terlihat ketakutan ketika anak laki-laki itu melepas tangannya dan menjauh. Mata gadis itu mulai memerah tanda akan menangis. Betul saja tidak lama kemudian anak itu menangis dengan kencang.
“ Kak iyann, ara takuttt”
Lau tiba-tiba tubuh Clara kecil itu terangkat tinggi keatas digendong oleh daddy. “ daddy daddy, kak iyan jahat dad masa tangan ara di lepas”
“ huuuhhhh dasar tukang ngadu” Terlihat Ryan mencipratkan air kolah ke arah wajah Clara, lalu detik kemudia tawa mereka terdengar sangat riang.
Susan tersenyum mengingat kenangan manis itu. Ah... sedang apa ya putri kecilku itu?, pikir Susan.
“ Siang mom..” Ryan datang mencium pipi mommynya lalu duduk bersebelahan dengan Susan.
“ Uda makan?” tanya Susan yang dijawab anggukan kepala Ryan. Saat ini pandangan Ryan teralihkan ke video yang sedang di putar oleh Susan. Ada rasa rindu di hati Ryan saat mengenang setiap momen. Untunglah daddy nya selalu merekam setiap moment-moment bahagia dalam keluarga sehingga disaat mereka saling merindukan bisa mengobatinya dengan video-video ini.
“Daddy, ara mau naik kuda poni, boleh kan daddy?” itu suara Clara
“ Boleh dong...”
“ Yeayyyy!!!! Kak Iyan ikut juga kan?” Clara kecil memastikan bahwa kakaknya akan ikut bersamanya naik kuda poni.
Bagi Ryan, Clara adalah adiknya yang berharga terlepas dari soal hubungan darah. Yang bisa menjahili, membuat nangis sekaligus melindungi Ara hanyalah Ryan. Mereka berdua memang sering bertengkar, tapi begitu mommy atau daddy akan menghukum Ryan maka Clara lah yang akan membelanya mati-matian. Berbagai kenangan dengan Clara menari dipikiran Ryan, membuat Ryan ingin bertemu adiknya itu.
“ Mommy kangen Ara?”
“ Iya.. biasanya kan kalo siang begini ada Ara yang nemenin mommy di rumah.”
“ Mau ke rumah Ara? Kita kasih kejutan ke dia”
Sorot mata Susan berubah berbinar-binar. Dia akan menyiapkan masakan special bukan putrinya itu.
“ Okee!! Mommy mau siapin makanan kesukaan Ara dulu ya” Tanpa menunggu jawaban dari putranya, Susan sudah melangkah menuju dapur memanggil semua ART untuk membantunya menyiapkan semua yang dibutuhkan.
Kurang lebih 3 jam menyiapkan semua makanan kesukaan Clara, kini Susan dan Ryan sednag menuju ke rumah Clara. Ryan bisa melihat bagaimana wajah cerah sang Ratu dalam keluarganya ini tersenyum bahagia. Clara memang bukan anak kandung Susan dan Haris, tapi perlu diingat Susan dan Haris lah yang membesarkan Clara sampai saat ini. Rasa sayang mereka terhadap Clara sama dengan kepada putra semata wayang mereka Ryan. Karena itu jugalah sampai saat ini tidak pernah ada yang mengetahui Clara bukanlah anak mereka. Semua akses untuk mencari data diri Clara sudah ditutup oleh Haris. Dia tidak ingin kehidupan pribadi keluarganya terutama Clara menjadi konsumsi publik.
Setelah 1 jam perjalanan akhirnya mereka tibah di kediaman Clara. Susan dan Ryan tidak sengaja berpapasan dengan Kiran dan Budi di halaman rumah Clara.
Ternyata Kiran dan Budi juga datang karena merindukan menantu kesayangan mereka. Tadinya Kiran ingin pergi sendiri, namun setelah pamit dengan suaminya, malah suaminya memaksa ikut.
“ Mereka ada di rumah nggak yaa ran?” tanya susan
“ ada Clara sama temannya. Kalau Rey sedang di kantor mengurus beberapa pekerjaannya” jawab Kiran
“ Tadi di kantor Rey sudah coba hubungi Clara, tapi sepertinya menantuku sedang tidak memegang ponselnya” kali ini Budi yang menjawab
Susan hanya menganggukan kepala sambil tersenyum. Baguslah niatnya untuk bertemu putri kecilnya tidak sia-sia. Seandainya pun Clara tidak ada di rumah, Susan sudah berencana menunggu dan menyiapkan kejutan lain. Tapi karena sekarang memang Clara ada dirumah, semoga saja kehadirannya dapat mengejutkan putrinya itu.
Pintu rumah di bukakan oleh Bi Sumi. Mereka masuk ke dalam rumah pelan-pelan ingin memberi kejutan kepada Clara
“ Bi, tolong bawa ini ke dapur dan hidangkan nanti pas makan malam ya” ujar Susan sambil menyerahkan beberapa kotak berisi makanan.
“ Baik nyonya.. Non Clara ada di taman belakang dengan Non Tania”
Mereka lalu melangkahkan kakinya pelan-pelan menuju taman belakang. Dari tempat mereka berdiri hanya terlihat tubuh Clara dan Tania.
Ada yang berbeda dengan Clara, batin mereka semua. Wajah sendu Clara yang menatap lurus kedepan membut Kiran dan Budi serta Susan dan Ryan saling bertukar pandang.
Ryan sendiri sudah tidak asing dengan wajah sendu Clara. Dulu setiap malam tiba, wajah sendu Clara akan terlihat di balkon kamarnya dan Ryan tahu itu. Tanpa Clara tahu juga setiap malam Ryan akan menemani Clara yang menikmati langit malam dengan wajah sendunya.
Sekarang apa yang membuat wajah sendu Clara kembali muncul? Pikir Ryan melayang.
Dan bagi Susan ini adalah pertama kali Clara menunjukan kesedihannya setelah bertahun-tahun. Clara terlalu pintar menutupi kesedihannya sehingga selama ini Susan selalu menganggap semuanya baik-baik saja.
Bukannya Susan tidak peka, hanya saja Clara selalu meyakinkan Susan bahwa dirinya memang bahagia.
Setelah saling bertukar pandang, mereka semua berjalan mendekat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“..........pernikahan kami adalah pernikahan kontrak. Kami berencana bercerai setelah 1 tahun dan....-”
“ APAP???!!” Kiran dan Budi serta Susan dan Ryan terkejut dengan kalimat yang terlontar dari mulut Clara.
Clara sontak berbalik mencari sumber teriakan itu. Didapatinya mertua, mommy dan kakaknya menatap tidak percaya. Clara tidak dapat mengartikan maksud dari pandangan mereka semua. Jangankan pandangan mereka, saat ini saja dia sudah bingung mengapa mommy, kakak dan mertuanya bisa ada di rumahnya.
“ Mommy, mama, papa sama Kak Ryan kok nggak bilang-bilang mau kesini?” tanya Clara berharap mereka tidak mendengar semua omongannya.
Tidak ada jawaban, detik berikutnya mereka semua pergi meninggalkan Clara dan Tania. Clara masih bingung dengan keadaannya sekarang, apa yang harus dijelaskan kepada orang tuanya? Dia sudah berjanji tidak akan mengecewakan keluarganya.
Saat Clara ingin mengejar, mobil Kiran dan Budi serta Susan dan Ryan sudah meninggalkan halaman rumahnya..
Kenapa jadi begini sih?- Clara