
Hari itu Clara, Tania dan beberapa temannya duduk di sebuah cafe dekat area kampus sambil mengerjakan tugas kelompok yang baru saja diberikan oleh dosen.
“ Hai ra.. Numpang duduk disini ya?” Clara melihat Alex, Dave dan Rey sudah duduk di mejanya. Rey tepat duduk disampingnya tanpa menoleh sedikitpun.
Sontak teman-teman Clara yang lain terkejut tidak menyangka akan bertemu dan bahkan satu meja dengan pangera-pangeran campus ini.
Masih sedikit bingung akan kehadiran Rey, namun segera ditepis pikirannya dan melanjutkan tugas yang belum selesai. Teman-teman Clara yang lain mulai berbisik mempertanyakan hubungan Clara dan ketiga pangeran itu karena sejak tadi hanya nama Clara saja yang mereka dengar dari percakapan itu. Sesekali Clara melirik Rey yang hanya sibuk mengobrol dengan kedua temannya.
“ Kamu nggak pesen makan kak?” Clara akhirnya membuka percakapan diantara mereka.
Rey diam sesat, sampai akhirnya Clara memegang lengannya “ Enggak..” singkat, padat namun tidak dapat dimengerti oleh Clara.
“ Memang kamu nggak laper kak?”
Lagi lagi Rey hanya diamdan menunjukan tampangnya yang dingin. Tania yang tahu diri karena suasana sudah mulai tidak enak akhirnya mengajak semua temannya pamit pulang.
Sekali lagi Clara menanyakan apa Rey laper atau tidak, namun hanya disambut oleh suara cekikikan tawa Alex dan Dave.
“ Hayoloh ra.. Suami lo ngambek gara-gara lo cuekin” tawa Alex
“ Kamu mau pesen makan apa,kak? Aku pesenin ya?”
“ Nggak usah..”
“ Udah deh Rey nggak usah jual mahal..Lo kan yang dari tadi nyariin Clara”, timpal Dave seolah membenarkan omongan Alex
“ Bacot lo berdua!”
Clara akhirnya mengerti kalau Rey saat ini memang sedang marah pada dirinya. Tadi dia sempet mengecek HP dan terdapat puluhan panggilan tak terjawab serta chat dari Rey yang belum dia lihat sejak tiba di cafe.
Clara menghembuskan nafasnya “ kebetulan aku udah free, gimana kalo kita jalan-jalan?”
“ Oke...gue setuju!” sorak Alex dan Dave bersamaan yang langsung mendapat lirikan tajam dari Rey “ eeee..kayanya gue ama Dave nggak ikut deh ra”
“ Kenapa?”
“ Hadehh, temen lo tuh Lex udah kena virus cinta.. Gue sampe bingung kenapa si Rey jadi kayak anak kecil” disusul dengan gelak tawa mereka.
Dijalan Rey dan Clara masih saja diam membisu. Clara bingung harus memulai percakapan dari mana. Sebenarnya Rey sudah tidak marah sejak Clara mengajaknya jalan-jalan, namun dia terlalu gengsi untuk mengakuinya.
“ Kemana?” Rey membuka percakapa
“ Kakak udah nggak marah sama aku?”
“ Enggakk..”
Clara mengerucutkan bibirnya setelah mendengar lagi-lagi hanya kata ‘enggak’ yang di dengarnya “ Tuh kan masih marah”
Rey menepikan mobilnya, keduanya saling menatap “ Kenapa nggak bilang sama aku kalau kamu lagi di cafe?”
“ Aku lupa, kak.. Kupikir hanya sebentar”
“ Kenapa nggak angkat telpon dan bales chat aku? Kenapa nggak minta aku anter kamu ke cafe? Kamu naik apa kesana?”
Mendapat pertanyaan bertubi-tubi membuat Clara langsung menangkup wajah Rey “ Aku minta maaf buat semua kesalahan aku.. Aku nggak bermaksud buat kakak marah”
“jawab aja ra pertanyaan aku”
Clara menghembuskan nafas “ Aku nggak pegang HP sejak masuk cafe, aku juga nggak mau ngerepotin kamu buat anter” aku kemana aja dan aku ke cafe naik taksi online kakaku yang ganteng”
Senyum tipis tersirat di wajah Rey “ Aku nggak ngerasa direpotin..Inget lain kali kalau kamu mau pergi biar aku yang anter”
Clara mengangguk “ iya...”
Mereka bertatapan cukup lama kemudian detik berikutnya Clara merasa deru nafas Rey semakin dekat dengan wajahnya dan akhirnya bibir Rey mendarat mulus di bibirnya.
Ciuman yang mesra dan lembut, saling menyalurkan rasa bahwa mereka saling memiliki. Bagi Clara sekarang Rey adalah dunianya, begitu juga sebaliknya. Rey mengelap sisa liur yang ada di bibir gadisnya “ Aku sayang kamu, ra..”