
Matahari telah menampakan wajahnya, namun dua insan yang terbaring itu masih belum beranjak dari tempatnya. Sejak kemarin pertempuran mereka yang pertama sampai pagi ini Rey tidak mengijinkan Clara keluar dari kamar.
“ Kak, ayo kita pulang ke rumah”
“ Ntar siangan aja. Aku masih mau peluk kamu”
“ Kak, kita belum pulang dari semalem, nanti mama papa nyariin”
“ Nggak akan, aku udah telp kabarin mereka”
Sekarang sudah tidak ada lagi alasan bagi Clara agar bisa terlepas dari pria ini. Rey terus saja memeluk tubuhnya, sesekali diciumnya leher Clara hingga meninggalkan tanda merah. Rey sangat bangga dengan hasil karyanya, bagaimana tidak tubuh Clara yang putih mulus itu kini dipenuhi banyak tanda merah.
“ Kak, udah donk.. Nanti aku malu ke kampus kalau merah-merah gini” ucap Clara sambil menunjuk dadanya yang kembali dibuat tanda merah. Tapa dia sadari justru memancing gairah Rey lagi.
“ Kamu lagi memancingku ya?” seringai nakal terukir jelas diwajah tampan Rey
“ Enggak kak, badanku pegel-pegel semua. Kamu sudah menindihku dari semalam dan nggak biarin aku istirahat”
“ Maaf ya, kalau aku terlalu ganas semalam” bisik seduktif Rey
“ Sekarang aku mau mandi”
“ Okee..” Rey lalu menggendong Clara ke kamar mandi. Clara sudah tidak bisa meronta lagi karena tenaganya sudah benar-benar terkuras habis. Dibiarkannya kegiatan mandi yang biasanya bisa dia selesaikan dalam 30 menit itu menjadi satu setengah jam. Apalagi kalau bukan tangan nakal Rey dan gairahnya yang kembali terpancing saat melihat tubuh Clara basah.
Selesai mandi Clara memilih keluar duluan karena dia tidak mau menjadi santapan Rey lagi. Rey memperhatikan langkah Clara yang tidak biasa. Seulas senyum terukir diwajahnya karena berhasil menjadikan Clara miliknya.
“ Kamu kenapa jalannya gitu?”
Tatapan tajam seakan mau menerkam ditujukan kepada Rey. Dia tidak sadar kalau dia sendirilah yang membuatku seperti ini, batin Clarra.
“ Baiklah baiklah.. sini aku gendong”
Mereka kemudian memutuskan kembali ke rumah untuk beristirahat. Benar saja sampai dirumah Clara dan Rey tidak keluar dari kamar sampai makan malam tiba.
***
Hari ini Keluarga Anggoro dan Keluarga Salim sedang menuju ke rumah baru Rey dan Clara. Rey akhirnya mendapat ijin pindah dari rumah setelah berdebat dengan mama Kiran yang tidak rela melepas menantunya.
Clara sedang sibuk untuk mempersiapkan kedatangan masing-masing keluarga. Sudah dari kemarin Clara sibuk memesan kue dan makanan untuk acara hari ini. Rey tidak mengijinkan dirinya untuk memasak sama sekali dan Clara juga enggan meminta bantuan mommy Susan atau mama Kiran untuk memasak. Sungguh Clara tidak berniat merepotkan orang tua sama sekali.
“ Kak, makanannya segini cukupkan?”
“ ckckckck...Kamu mau undang satu RT kesini?”
Di meja makan itu tersedia berbagai macam lauk dan sayur yang menggugah selera dan dapat menampung satu RT sesuai kata Rey.
“ Aku takut kekurangan ,kak..Lebih baik kelebihan, bisa dibagiin ke orang-orang”
“ Istriku dermawan sekali” Rey menarik pinggang Clara untuk mendekat padanya kemudian mengecup bibir manis itu. Tidak pernah bosan-bosannya Rey mencium, meluat bibir manis itu.
Tidak lama kedua keluarga tiba di kediaman Rey. Berulang kali Kiran dan Susan berdecak kagum dengan pemandangan rumah itu yang sangat asri ditambah dengan isi rumahnya yang juga tidak kalah wah.
Berulang kali Clara menunjukkan senyumnya membuat Ryan ragu apakah adiknya benar-benar bahagia atau tidak? Jujur setelah menikah dengan Rey, yang ditakutkan Ryan adalah Clara tidak akan bahagia. Apalagi Clara pernah kembali ke rumah, walau saat itu Clara meyakinkan tidak ada masalah dengan Rey tapi Ryan tahu ada yang disembunyikan Clara.
“ Lo cinta sama Ara?” tanya Ryan saat melihat Rey sedang duduk di halaman belakang sambil memantau perusahaan dari ipadnya.
“ Kenapa lo nanya gitu?”
“ Gue cuma mau pastiin ade gue bahagia atau engga”
“ Lo nggak liat dari tadi gimana raut wajahnya?”
“ Cih..gue kira lo uda ngerti Clara kayak gimana” Rey terdiam mencoba mencerna omongan kakak iparnya. Yang dia tahu Clara tidak bisa menangis didepan sembarang orang, hanya itu.
“ Yang gue tau Clara susah nangis kalau didepan orang asing”
“ Bukan susah tapi nggak akan bisa nangis. Lo tau kan orang tuanya Clara meninggal waktu dia umur 5 tahun? Sejak saat itu dia diasuh sama orang tua gue”
“ Menurut lo, kalo lo tau lo bukan anak orang tua lo gimana reaksinya? Waktu Clara tau dia bukan anak kandung, dia cuma nangis terus minta maaf sama kita besoknya dia udah bersikap normal lagi. Tapi tangisan dia saat itu adalah tangisan terakhir yang dia tunjukan didepan kita. Dia berubah, dia selalu berusaha menyenangkan hati orang tuanya”
“ Gue pernah liat Clara nangis di depan Samuel dan satu kali nangis ama gue” Walau malas menyebut nama lelaki itu, tapi Rey sekarang menjadi penasaran penyebab perubahan Clara.
Ryan menarik nafas panjang “ gue harap lo bisa jaga dan cintain Clara. Kalo dia uda bisa nangis depan lo berarti dia udah buka hatinya buat lo dan soal Sam gue nggak akan ikut campur, lo bisa tanya Clara gimana perasaannya ke sam”
“ Pasti.. Gue akan jagain dia melebihi nyawa gue sendiri”
“ Gue pegang kata-kata lo. Gue nggak mau wajah cerianya yang ditunjukkin sekarang cuma pura-pura aja biar keluarganya bahagia. Inget Rey, Clara itu beda dengan cewek cewek lain”
Tidak lama Clara datang menyusul ke tempat Rey dan Ryan berada sambil membawa sekotak cemilan.
“ Kalian ngobrolin apa?” tanya Clara yang bingung mendapati wajah Rey dan Ryan yang sempat serius
Ryan mencubit pipi adiknya “ mau tau aja anak kecil” Bukan Clara namanya kalau dia tidak bisa membalas ulah kakaknya.
Clara segera menyambara pipi kakaknya yang tampan itu dan membalas cubitannya hingga terdengar suara kesakitan dari mulut Ryan.
Rey menarik mundur perut Clara agar menjauh dari sang kakak “ Kak, lepasin aku mau balas kak Ryan dulu”
“ Udahh.. liat nih pipi kamu merah” Rey mengusap-usap pipi Clara yang merah akibat cubitan Rey. Kemudian Rey memeluk tubuh istrinya dari belakang dan meletakan kepalanya diatas kepala Clara lalu menatap tajam Ryan karena berani membuat pipi istrinya merah.
“ Ck... males gue bercanda sama bucin”
“ Kakak kenapa?”
“ Liat tuh tatapan suami kamu, ra udah kayak mau telan orang”
Rey hanya mengusap-usap kepala sang istri dengan dagunya seolah tidak terjadi apapun. Lalu selanjutnya sudah dipastikan Clara dan Ryan tertawa-tawa menikmati suasana yang semakin sore di halaman belakang.
Rey masih memainkan ipadnya, sesekali memandang wajah ceria Clara. Aku pasti buat kamu bahagi, ra itu janji Rey