
Dua hari berlalu, dua hari pula aku tidak mendapat kabar dari suamiku yang katanya ke Jakarta untuk mengecek cabang cafe di sana.
Ingin rasanya aku menelponnya untuk sedikit melepas rindu dan memastikan keberadaannya. Ya aku sedikit menaruh curiga padanya karena ada seseorang yang mengirimiku foto dan video tentang suamiku bersama dengan seorang wanita dan itu bukan di Jakarta tapi di Bandung. Aku hafal betul latar foto dan video itu, jadi bisa pastikan itu di Bandung. Hanya kapan foto dan video itu di ambil?
Kegundahan ini semakin menjadi dan membuat kepalaku kian hari kian merasa pusing seakan ingin pecah. Kalau foto dan video ini benar maka sudah dua kali dia membohongi dan mengkhianatiku. Sakit,kecewa tentu kurasakan tapi aku mamilih untuk diam ,mungkin akulah yang banyak kurangnya sebagai istri. Saat ini aku belum memutuskan apapaun sebelum aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.
Keesokan harinya aku dikejutkan dengan kehadiran ibu mertuaku,mungkin beliau sudah feeling jika kami sedang tidak baik-baik saja. Beliau sangat menyayangiku melebihi anaknya sendiri , sejak dulu, sejak mas reihan masih hidup. Itu salah satu alasan kenapa aku berat untuk bercerai dari mas Dzaky. Meskipun berulang kali disakiti.
Siangnya setelah Dimaz pulang sekolah kami pergi jalan-jalan sekalian belanja bulanan. Anak itu sudah sekolah TK.A , aku mengurusnya,merawatnya seperti anakku sendiri. Sejujurnya aku sangat menantikan seorang buah hatiku sendiri tapi Allah belum memberikannya,mungkin belum waktunya atau mungkin aku belum layak. Tapi aku sudah tidak mendapat siklus menstruasiku selama sebulan lebih, aku berharap kali ini aku benar-benar mengandung. Ya semoga saja dengan aku hamil Mas Dzaky bisa benar-benar berhenti nakal,berubah jadi lebih baik lagi,itu harapanku sebagai seorang istri.
Siang itu kami mendatangi salah satu pusat perbelanjaan. Aku baru saja memarkirkan mobilku , berjalan beberapa langkah menyusul anak dan ibu mertuaku. Tapi aku dikagetkan oleh teriakan mama.
"Dzzaaakkyyy. Berhenti. (Menampar dengan sangat keras) Apa ini yang ayah dan mama ajarkan padamu? Bergandengan dengan wanita lain sementara istrimu dirumah mengurus anakmu? "
Mama berkata dengan lantang hingga kami dikerumuni banyak orang, aku masih diam, aku bingung,marah,kecewa dan sakit. Perih sekali ternyata foto dan video itu benar adanya dia tidak di Jakarta. Apa ini alasannya selalu menyuruhku untuk di rumah saja,supaya dia bebas berkencan dengan wanita lain. Ya Allah apa yang harus ku lakukan sekarang, ini seperti adegan sinetron saja.
"Siapa kamu?" Tanya mama pada wanita itu.
"Saya Yulia tante,tunangannya Dzaky."
"Hahahaha astaga kenapa aku membesarkan seorang pengkhianat, Yulia putraku sudah beristri jadi tolong tinggalkan dia,biarkan dia bertobat dan kembali pada istri dan anaknya, Kalau kamu wanita baik pasti kamu bisa melakukannya. Mama kecewa sama kamu dzak. " Mama tampak pergi membawa Dimaz menjauh.
"Sayang dengerin aku dulu." Dia mulai mendekat kepadaku menyadarkanku dari sebuah lamunan panjang.
"Berhenti , jangan mendekat." Jawabku.
"Siapa dia Dzak?" Tanya perempuan itu.
"Saya istrinya mba,kenapa?"
"Apa itu benar Dzak?"
"Jawab mas." Selaku.
"Apa? Dasar ba*****n. Ambil kembali cincinmu." Yuliapun pergi.
Kepalaku semakin berat,banyak sekali kunang-kunang. "Mas." Kataku sebelum tak sadarkan diri.
"Sayang bangunlah,maafkan aku,aku mohon."
Dasar laki-laki, ngga bersyukur sekali punya istri cantik seperti itu masih saja nyari selingan. Kasihan istrinya sampai pingsan, ya ya semoga istrinya baik-baik saja. Tampak orang-orang di sana membicarakan kami.
*******
Di rumah sakit
Aku tersadar, aku melihat dia tampak sangat cemas, namun terganti dengan senyum merekah di wajahnya kala mendengar penjelasan dokter mengenai keadaanku. Aku mendengar dokter mengatakan kalau aku sedang mengandung 6 minggu. Itu seperti aku mendapat tetesan hujan di tengan padang pasir yang tandus, menyejukkan. Setidaknya Allah memberiku bahagia ditengan kedelimaanku.
"Sayang kamu sudah sadar, syukurlah. Sayang kita akan punya anak, kamu sedang hamil. Aku bahagia sekali."
"Mas, setelah anak ini lahir,kita berpisah saja."
"Tidak,kita tidak akan pernah berpisah, apa kamu ingin anak kita kurang kasih sayang dari salah satu orang tuanya? Aku yakin kamu tidak ingin itu bukan , jadi aku mohon beri aku satu kesrmpatan lagi untuk memperbaiki semuanya. Aku mohon maafkan aku, cista aku mohon."
"Tapi mas,ini sudah kedua kalinya kamu menyakiti aku begitu dalam. Aku lelah mas,bisakah kamu melepaskanku saja dengan itu kamu bisa bebas berhubungan dengan wanita manapun."
"Tidak cista, aku tidak akan mengabulkan keinginanmu untuk berpisah dariku. Maafkan aku, aku akan buktikan kalau kali ini aku bersungguh-sungguh. "
Aku diam, karena hanya itu yang bisa ku lakukan, aku tidak ingin terus berdebat dengannya yang bisa menambah keruh keadaan.
"Aku ingin pulang dan istirahat di rumah saja."
"Baiklah,tunggu sebentar. Jangan kemana-mana tunggu di sini, jangan turun dari ranjang."